"Aksa sama Aurora mana?"
Jema menggeleng. Setelah jam pertama habis perempuan itu memilih ikut bersama Rayden ke tempat ini. Warung yang dipenuhi laki-laki dengan kepulan asap rokok yang terus menggupal di sekitar wajah.
"Lo sering ke sini?" Jema bertanya.
Rayden melirik sesaat. Tidak ada tanggapan yang diberikan untuk menjawab pertanyaan Jema. Mata lelah itu kembali fokus pada satu meja di luar warung. Anak-anak sekolah sebelah tampak berkerumun dan mencuri perhatian sejak tadi.
"Kenal mereka?" Suara Jema sedikit memelan usai bertatapan langsung dengan satu laki-laki dengan luka pada bagian pelipis kanan.
"Kacung Kalula," jawab Rayden terkekeh kecil. Tangannya menarik tubuh Jema untuk mendekat, kemudian menutupi wajah pucat temannya itu dengan satu tangan. Memutuskan tatapan tajam di luar sana.
Sesaat, perasaan resah yang akhir ini hilang kembali menghantui. Kepalanya pusing untuk memikirkan jalan keluar dari semua kesalahan yang diperbuat.
"Ada yang ganggu lo sejauh ini?"
Dahi Jema berkerut bingung, lalu menggeleng. Matanya menyipit menilai ekspresi kalut Rayden, belum lagi manik kelam yang menggambarkan ketakutan seolah ada yang disembunyikan, namun tidak dapat diucapkan.
"Kalau ada apa-apa bilang sama gue."
"Wajah lo makin gak ke urus, Ray. Jelek." Setelah berucap Jema tertawa kecil, menggeleng miris akan keadaan teman laki-lakinya itu. Tanpa bertanya lebih apa penyebabnya karena Jema sendiri juga tahu.
Perasaan bersalah merenggut ketenangan hidup mereka.
"Gue takut...kalau kasus itu berhasil terungkap sama polisi. Mati gue," bisik Rayden lemah. Kepalanya jatuh pada permukaan meja panjang yang dipenuhi bungkusan rokok. Tatapannya menerawang memikirkan akhir dari perbuatan jahat yang merenggut nyawa Kalula.
Kesepakatan Rayden dan Aksa untuk bebas dari tuntutan pengadilan terhadap bullying di SMANTA. Pikiran gila muncul untuk melenyapkan nyawa Kalula, korban yang nantinya akan bersuara atas tingkah gila mereka. Menyabotase mobil Juna, tanpa berpikir ganjaran yang akan diterima.
Terlalu takut dipandang sebagai manusia berdosa, membuat mereka lari dari sanksi hukum .
Ini rencana Rayden dan Aksa yang menjalankannya.
"Gue harus apa?"
Jema mengusap sudut mata Rayden pelan. Sedikit mengulas senyum walaupun tangan kirinya tetap mencengkram area paha.
"Gue juga gak tau."
Putus asa tanpa ada satu pun dari mereka yang hidup seperti biasanya.
"Gue kira dengan buat tuh cewek mati kepala ini bisa tenang. Nyatanya, makin sakit. Wajah dia selalu muncul." Rayden mengeluh seraya memukul kepala, bentuk kekesalan akan gerak tubuhnya satu bulan terakhir.
"Yaa...mana ada yang bisa tenang kalau lo udah bunuh orang."
Tubuh keduanya sontak menegak. Melotot pada laki-laki yang berjarak satu meja dari mereka. Mengutuk diri karena berani berbicara tentang kelakuan biadab itu di tempat ramai ini. Wajah panik Rayden semakin terlihat ketika sosok di depan turut bergabung dalam satu meja.
Menatap remeh diakhiri tawa.
"Kenapa sejahat itu sama dia?"
"Gue ragu, kalau kalian itu dikasih hati gak sih sama Tuhan?"
Bungkam.
Terkatup mulut keduanya akan ungkapan.
"Keterlaluan banget manusia." Tawa terdengar setelah tiga kata terakhir terucap. Laki-laki berperawakan tinggi kurus itu menunjuk Jema, matanya naik turun menilai penampilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
