Bab 55 [ HEY PENGUASA! ]

5.4K 214 6
                                        

Teriakan Jema menggema dalam ruang kosong belakang sekolah. Tempat yang menjadi saksi atas segala kelakuan biadab manusia tidak bertata krama. Bahu dilapisi jaket abu-abu itu naik turun saat pertikaian dua orang temannya masih belum usai.

"Udah satu bulan."

"Semenjak kematian Kalula."

"Kita udah aman."

"Tuntunan udah dicabut juga, kan?"

"Apalagi yang buat kalian ribut?"

Beruntut pertanyaan. Suara Jema naik tiap kata yang terucap, tangannya mencengkram kedua krah Rayden dan Aksa. Memutus tatapan tajam mereka dengan raut marah pada wajah tirusnya.

"Lo gak akan paham," lirih Aksa meluruh dalam Isak tangis yang mulai terdengar. Mengisi rasa kebingungan pada Jema dan Aurora yang tidak kunjung paham titik permasalahan mereka.

Membiarkan Aksa larut, lalu berubah dengan tawa. Wajahnya putus asa.

"Kenapa Aksa?" Aurora bergerak menepuk bahu bergetar itu. Sedikit mengusapnya berharap Aksa sedikit tenang.

"Sial."

Semua orang melirik pada Rayden, termenung dengan kepalan tangan.

"Ada masalah?" Alis Jema menukik bertanya.

Semenjak kabar bahwa mereka benar-benar bebas dari tuntunan itu sudah cukup membuat Jema hidup tenang. Walaupun setiap langkahnya ada hinaan yang ditujukan banyak orang.

"Kalau sampai kasus itu terungkap, awas aja lo!" Rayden tunjuk tubuh Aksa gemetaran. Bola matanya menggambarkan kegelisahan.

Terpaku.

"Kalian kenapa sih?" Aurora menyela Jema yang hendak bersuara. Menyampaikan kebingungan keduanya.

Tidak ada yang menjawab.

Bibir terkatup namun mata berkedip takut.

"Bukan gue, lo yang bunuh dia Aksa!"

"Sialan, lo yang bikin rencana itu kan? Lo yang paksa gue biar kita bisa bebas dari tuntutan itu, tanpa perlu keluarin banyak uang," jawab Aksa kembali berdiri membalas tatapan tajam Rayden. Tidak ingin disalahkan, Aksa bergerak karena Rayden punya kendali.

Kekacauan terlihat pada masing-masing wajah. Saling menghindar.

"Tunggu." Jema menatap bergentian kedua laki-laki yang masih diliputi emosi. Dahinya kian berkerut berusaha memahami arah pembicaraan sejak tadi.

"Kalian...Lakuin hal bodoh apalagi?" Seru Aurora menarik bahu Aksa, memposisikan kepala temannya itu untuk tidak membuang muka.

"Aksa?"

"Kenapa?"

Bergumam tidak jelas. Kepala Aksa menunduk, menyembunyikan takut yang satu bulan ini merenggut kewarasannya untuk tetap hidup.

"Gue bunuh orang," kata Aksa serak.

"Gue bunuh Kalula."

------

"Niskala."

Berbalik menatap laki-laki berwajah pucat di belakangnya.

"Udah pamit sama Kalula?" Rendah suara di akhir menyebutkan nama.

Pertama kali Anka kembali bersuara, menyebut nama Kalula. Setelah satu bulan berlalu, masih sama dengan hari perpisahan kala itu, sisa pilu yang tidak kunjung menghilang.

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang