Dobrakan keras yang berusaha membuka pintu kamar sedari tadi Kalula hiraukan. Memilih fokus pada tumpukan buku yang 2 jam lalu diberikan oleh Papanya. Mengenyahkan rasa lapar dan juga pusing, belum lagi bekas luka yang terus berdenyut membuat Kalula tidak berhenti meringis kesakitan.
Sudah tengah malam namun masih duduk berjaga menatap buku yang kelabu bagi Kalula.
"Kalau ingin seperti Atma kamu harus pintar!"
Lembaran pertama pada buku tebal itu membuat Kalula mulai dongkol. Dipaksa berbaur dengan sesuatu yang tidak disukai. Dituntut untuk menerima akan hal yang paling Kalula hindari.
Benci hitungan dengan segala kerumitannya.
"Nanti harus jadi pebisnis seperti Papa, pengusaha besar."
Ucapan Mama Gita terngiang beberapa hari ini. Menimbulkan beban pikiran bagi Kalula, mengejar sesuatu yang bukan impiannya sedari kecil.
"Lula tidak ingin seperti Papa, Lula itu suka melukis bukan bisnis. Aksa dengan dunia olahraganya dan Atma dengan dunia musiknya. Papa dan Mama selalu dukung mereka, tapi Lula kenapa tidak?" Jari Kalula mengukir abjad acak pada permukaan meja. Masih enggan untuk mulai mengenal dunia kesukaan Juna, Papanya.
"Lula pengennya punya studio lukis bukan perusahaan besar seperti Papa," lanjut perempuan itu lemah. Menenggelamkan wajahnya pada meja dengan tangan yang meremas lembaran pertama buku.
Kalula tidak suka.
Melukis dan bisinis, keduanya jelas berbeda.
"Woi cacat! Buka pintunya bego!"
Kalula menoleh dengan pandangan nanar. Pintu kayu itu sudah berbunyi sekitar 15 menit lamanya. Ketukan dan tendangan diiringi umpatan untuk dirinya dari Aksa. Masih belum puas dengan kejadian di sekolah tadi pagi. Manusia tidak waras yang selalu senang ketika Kalula terluka.
Malam ini, hanya ada mereka. Papa dan Mama tirinya keluar untuk pertemuan bisnis dan baru pulang esok hari. Dan Atma, adik tirinya yang lebih muda satu tahun sedang menginap di rumah Kakek. Meninggalkan Kalula dengan malaikat mautnya.
"Anjing, lo budeg? Sini lo!" Suara Aksa menggelegar marah. Membayangkan tubuhnya terpelanting membuat bulu kuduk Kalula merinding. Mengambil langkah menuju ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal. Kalula ingin tidur dengan tenang malam ini, tanpa luka baru.
"Sialan!"
"Lo yang buka pintu atau gue pecahin jendela kamar lo!" ancam laki-laki itu berani.
Dobrakan pintu dan umpatan Aksa sudah tidak terdengar lagi. Membuat Kalula sedikit tenang dan mencoba terlelap walaupun hatinya cukup gelisah malam ini. Bergerak tidak nyaman dengan hembusan nafas gusar.
Mata Kalula melotot saat tubuhnya menghadap ke arah jendela kamar. Kalula lupa mengunci jendela dan tubuh Aksa yang sudah separuh masuk berhasil membuat Kalula berteriak takut. Langkahnya terseok-seok menuju pintu.
"Dikunci, ya?" Aksa terkekeh senang. Melompat lalu duduk pada ranjang Kalula. Matanya melirik Kalula yang panik mencari kunci kamar.
"Sini lo!"
Kalula menggeleng ribut. Meraih kunci yang terletak di atas nakas dekat posisi duduk Aksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Novela Juvenil"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
