P R O L O G

33.2K 774 31
                                        

"Kalula, kamu adalah kesialan yang dikirimkan oleh Tuhan. Tidak ada hal yang lebih memalukan selain mempunyai anak cacat. Saya malu, jika boleh menolak tidak seharusnya kamu ada di sini, kenapa tidak mati saja bersama Ibu dan kembaranmu? Neraka adalah tempat untuk orang menjijikkan seperti kalian!"

Papa dan tentangnya.

Ke mana lagi Kalula harus pulang? Jika cinta pertamanya saja malah mematahkan harapan.

"Kabar kematianmu adalah waktu yang saya tunggu dari dulu. Matilah dengan hina Kalula!"

~~~

"Papa... anakmu dibinatangkan."

Hancur.

Musnah.

Tanpa sisa.

"Aku sayang Papa, tapi Papa cuma sayang Atma."

~~~

Dia, Kalula Gihandara.

Seantreo SMANTA mengenalnya dengan sosok perempuan berkaki pincang. Kalula yang hina untuk sekedar ada. Dia dikucilkan, dibantai habis-habisan oleh ciptaan Tuhan. Sebagai objek candaan yang mengundang tawa kesenangan.

Kalula benci SMANTA dan penghuninya.

Mereka tahu tapi memilih bungkam. Mereka kasihan namun tidak bergerak memberikan pertolongan. Hanya diam, memperhatikan, pergi, dan lupakan.

Menjadi korban perundungan membuat Kalula tidak mampu melawan. Kalula menjerit meminta kebebasan. Lidahnya kelu untuk menceritakan, tubuhnya lelah untuk tetap bertahan, dan kepalanya berisik memunculkan permintaan kepulangan pada Tuhan.

Peran ke empat senior itu bukan hanya menorehkan luka fisik yang mendalam, namun mentalnya juga ikut berantakan. Hilang arah mencari pengaduan.

Tahun kedua berada di SMANTA semakin menggila. Kalula disiksa. Jangan pulang sebelum dipukul berulang-ulang. Perbuatan tidak senonoh pun Kalula dapatkan, tubuhnya disentuh banyak tangan. Kalula dilecehkan di depan banyak orang.

Tidak ada yang lebih menakutkan dari manusia.

Kalula terlalu kecil melawan semesta. Karena pada akhirnya uang dan kekuasaan adalah kunci untuk bisa dihormati dunia.

"Dunia membenci anak cacat."

~~~

Tunggu kelanjutannya di sini 👇🏻

Jangan lupa masukin perpus ya...

Spam buat PROLOG di sini 👉🏻

Vote dan komen di bawah

TRAGEDI 23.59 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang