Seluruh sudut membicarakan kejadian mengerikan. Manik mereka saling tatap dan otak memikirkan pelaku yang bergerak hanya dalam satu malam. Menggemparkan seantero SMANTA pagi ini, terkejut menyaksikan sosok perempuan itu masih bernapas hingga detik ini.
"Sial." Rayden menatap takut pada tubuh yang tergantung di tengah-tengah koridor utama.
Aurora.
Temannya itu kenapa bisa seperti ini? Kemarin Rayden meninggalkannya dalam keadaan baik. Namun, pagi ini nyaris mati.
Tangan Rayden bergetar meraih tubuh yang memucat ketika belitan tali terlepas, terdengar lemah napasnya di sekitar telinga.
"Rora?" Tercekat suara memanggil temannya dalam langkah. Mata Rayden memerah, tapi berpencar ke penjuru area depan sekolah.
Lapangan luas itu dikerumuni, berbisik mengungkapkan ketidakpercayaan mereka pada kejutan pagi ini. Belum lagi, pada lembaran kertas yang berhamburan pada tempat kejadian tadi. Berisi ujaran kebencian, sama seperti yang pernah mereka tujukan pada Kalula.
Ini pembalasan?
Pikir mereka memejamkan mata.
"Dia datang," bisik Aurora melemah, setelah itu sedikit tertawa saat merasakan tubuh dalam kendaraan beroda empat sedikit terhuyung karena kecepatan mobil yang tinggi.
Mengusap area leher Aurora, bekas cengkraman tampak mengusik mata. Memunculkan geraman lirih dari Rayden atas kelalaiannya menjaga Aurora.
"Kalula..."
"Jangan seret orang yang udah mati," balas Rayden penuh penekanan. Menumpuk pertanyaan pada kepala, kebingungan Rayden tentang pembalasan yang memang ditujukan karena kasus bullying pada perempuan cacat itu.
Dari keempatnya, kenapa hanya Rayden yang diberi kebebasan hingga hari ini?
"Jangan nutup mata, Ra!" Titah Rayden mengusap pipi lebam Aurora pelan.
Tiap titik luka pada tubuh Aurora, terutama leher dan betis kirinya sesaat membuat Rayden termenung. Membawa pada kejadian lalu, perundungan yang dilakukan kepada Kalula. Tidak meleset sedikitpun. Bagian pipi, leher, dan betis.
"Dia Kalula." Aurora masih mencoba sadar di sela kegelapan yang menyerang. Cukup mengapresiasi diri berhasil bertahan setelah tubuhnya digantung kurang lebih selama satu jam.
Tidak terbayang bagaimana tubuhnya diseret sepanjang koridor berlantai dingin pagi hari tadi. Ketakutan tidak kunjung menghilang walaupun Aurora lepas dari kematian yang hendak menjemput.
"Matanya mirip Kalula."
Walaupun sedikit tercekat Rayden masih dapat mendengar jelas suara Aurora. Semakin mendekatkan telinga pada mulut itu di saat masih ada lanjutan kata walaupun berat keluar.
"Kenapa?" Tanya Rayden gemetaran merasakan cengkraman Aurora menguat.
"Kalula...masih ada."
Alis Rayden terangkat ketika mobil yang ditumpangi berhenti pada jalanan sepi, tidak ada satu pun bangunan atau tanda kehidupan terlihat.
Aneh.
"Lo ngapain berhenti? Temen gue lagi sekarat bego!" Bentak Rayden menatap tajam sosok seumuran yang mengemudi.
Hening.
Tidak ada jawaban yang keluar.
"Kita...udah sampai."
Manusia bodoh dari mana ini? Rayden melepaskan pegangan pada bahu Aurora, tangannya meriah lengan laki-laki di depan kasar. Emosi membuncah seolah sedang dipermainkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
أدب المراهقين"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
