Satu tongkat menjadi penopang hidupnya yang kian meluruh. Di sinilah, ia berdiri, di tengah-tengah keramaian yang bisiknya terdengar menghakimi. Berbagai pandangan didapatkan terhadap diri, kasihan, tidak peduli, dan tertawa.
Lalu, Rayden harus bersikap seperti apa?
Manusia tidak akan pernah mengerti jika belum merasakan hal yang sama!
Kelopak mata itu bergetar, suara-suara lemah dari perempuan cacat yang beberapa tahun lalu hanya Rayden tanggapi dengan hembusan napas jengah. Terbayang, mengusik relung hatinya, membuat ketenangan itu tidak lagi dapat dirasa.
Seolah kehidupan berpusat pada penyesalan.
Memaksa Rayden terus mengingat kejadian lalu, terkurung, dan hanya mampu bertekuk.
"Kalula?"
"Tolong, seperti apa hidup kacau lo masih bisa tetap jalan? Buat gak peduli sama omongan orang." Suarannya mengeras di bawah tangisan langit senja ini, bersikap bodoh ketika banyak pasang mata beralih atensi, menjadikan Rayden yang terlihat aneh di tengah-tengah kesempurnaan Tuhan.
Dia rusak.
Dia cacat.
Seperti yang dia ucapkan pada Kalula dulu.
"Kepala gue berisik, buat tetap hidup tanpa perlu peduli sama tatapan orang, gimana cara lo, Kalula?" Luruh tangis itu di tepi jalan kota, merasa asing walaupun kehidupan tampak di depan mata.
"Ini rasanya diasingkan?"
Masa depan yang telah matang dipersiapkan orang tuanya pupus dalam sekejap. Kecelakaan itu merenggut kebebasan Rayden untuk melangkah. Hidup dengan satu kaki dan bantuan benda mati.
Tidak pernah terpikir sedikitpun.
Tatapan segan digantikan tawaan. Penuh ejekan.
Penguasa itu telah mati, semenjak budaknya pergi.
Terpaku, menaruh arah pandang pada alasan mengapa Rayden tidak terlihat gagah seperti tahun-tahun pertama berada di SMANTA. Bergetar tubuh, dia selalu benci pada bagian itu. Bagian yang tidak lagi utuh, penyebab hidupnya hancur dan harus berdiri ditempat untuk tidak malu.
"Jadi cacat itu gak enak, ya?"
Telinganya terlalu sensitif mendengar serangkaian kata itu. Melirik sekilas pada gerombolan anak-anak sekolah berseragam putih biru. Jelas menelisik tampilan Rayden dengan rumit.
"Segi gak enaknya dari apa?" Sahutan lain dari anak laki-laki bertopi.
"Banyak gak enaknya." Perspektif para remaja itu semakin terdengar. Sedangkan Rayden, hanya mampu terdiam memikirkan dari sudut mana saja keadaannya terlihat begitu menjijikkan?
"Dunia membenci kekurangan, mereka hanya butuh kesempurnaan. Itu yang menjadi permasalahan sekarang."
Bibirnya terulas membentuk senyuman miris, kata yang baru terucap semakin meremukkan diri, cengkraman pun kian mengerat pada tongkat penyangga. Bising menyeruak pada kekosongan, membawa Rayden untuk menetap dan larut dengan pandangan orang-orang.
Menyiksa diri.
"Bohong jika cacat itu diterima dengan baik, hanya sebagian kecil, selebihnya banyak yang mencaci. Sekalipun di dalam hati."
Belajar begitu banyak dari kekurangan saat ini. Melawan dengan satu kaki dan wajah yang senantiasa terangkat walaupun mulut berucap lirih.
"Anggap saya ... seperti sediakalanya!"
-----
Cermin menjadi benda yang paling dibenci, bahkan untuk menatap seperkian detik tubuhnya. Duduk kaku layak orang tidak memiliki gairah, bergerak susah payah, mengganggu aktivitas sehari-harinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Ficção Adolescente"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
