Gerakan yang semula sibuk menata rambut dengan seulas senyum dalam sekejap terhenti. Keberadaan Aksa yang tiba-tiba berdiri di belakang tubuh melontarkan bisikan lirih mampu membuat Kalula bergetar tidak bisa bergerak. Menatap lurus pantulan cermin, menggambarkan garis wajah yang tegas dari saudara tidak seibu itu.
"Bodoh!" umpat Aksa menarik rambut Kalula kemudian meremasnya kuat. Nafas memburu dengan bahu naik turun memperhatikan wajah bingung Kalula.
"Lo nyuruh orang buat bunuh Jema, kan?"
"Atas dasar apa Kak Aksa nuduh aku? Punya bukti?" Kalula membuka mulut dengan kepala mendongak. Rintihan diujung lidah ditahan agar tidak semakin membuat Aksa senang.
Lengan kecilnya mencoba melepaskan cengkraman pada kepala. Membuat Kalula memejamkan mata saat geraman Aksa terdengar naik lalu mendorong tubuh terlentang pada kasur.
"Cewek sial. Pincang kayak lo gak berhak buat nyentuh kesempurnaan Tuhan," ujar Aksa menyeringai lebar mengurung tubuh Kalula yang hendak bangkit.
"Anak cacat."
"Lo lancang, Kalula. Setelah nyakitin Atma di rumah sakit dan kemarin lo bikin Jema celaka? Sering di bully bikin hati lo dendam, ya? Padahal biasa, kita cuma bercanda." Aksa berucap santai tidak merasa bersalah atas semua sikap semena-menanya. Menganggap remeh, kekurangan Kalula dipandang lelucon yang menggelikan.
Meredup arah pandang pada wajah Aksa yang memerah. Mendengus saat mencium aroma rokok yang menguar dari mulut lawan bicara, hembusan asap menggupal pada wajah.
"Aku gak punya kuasa buat sekedar nyentuh satu dari bagian tubuh kalian. Dan untuk mengandalkan orang lain rasanya mustahil, Kak. Aku gak punya apa-apa," balas Kalula melemah.
"Kalian selalu bilang sama aku, budak tidak berhak melawan. Aku cuma perlu diam lalu mati perlahan-lahan, begitu, kan?" Rentetan pertanyaan yang ditujukan pada Aksa yang mulai menjaga jarak, duduk dengan tangan menopang dagu, arah pandang yang terpaku pada Kalula dengan tatapan pilu.
Untuk sesaat buncahan emosi tadi menurun. Aksa tidak mengelak akan kata yang diucapkan, dia mendengarkan keluhan. Suara getar penuh kelembutan menyapa hingga membuat tubuhnya tidak bisa bergerak melukai.
Aneh.
Aksa tidak menyukai perasaan ini. Sesak melihat tatapan putus asa dari saudara seayah itu.
"Hari ini, coba cerita sedikit sama aku! Apa kiranya hal yang bisa aku lakuin buat obatin rasa sakit di hati Kakak, biar tubuh aku gak makin sakit, aku udah cape dijadiin bahan omongan, di sini sakit, Kak!" Tubuh Kalula bergerak turun dari ranjang, suara yang terdengar pelan begitu amat menyedihkan.
Langkah kaki pincang menuju pada Aksa yang tidak memberikan jawaban.
"Sampai kapanpun rasa sakit dari wanita itu gak akan pernah sembuh, seperti apapun lo kasih gue obat terbaik yang namanya sakit hati... sulit, Kalula," kata Aksa menunduk menyembunyikan tangis. Tidak mampu membalas mata teduh Kalula, berusaha ingin tahu tentang luka.
"Bagaimana dengan aku? 2 tahun bersama SMANTA. Candaan tentang kekurangan yang diberikan. Tiap sudut menertawakan dan tidak ada satupun yang mengerti akan penderitaan. Tubuh aku udah banyak yang lecet, Kak. Gak bisa ditutupin lagi sama bedak yang Kakak kasih setiap pagi, semuanya udah rusak. Ancaman apa lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Roman pour Adolescents"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
