Derap langkah tertatih-tatih pada tanah basah. Suasana belakang rumah dengan penerangan samar menuntun arah pada setumpuk benda, potongan dan patahan alat-alat lukis yang berserakan Kalula pungut dengan mulut terkatup. Sesekali menoleh ke belakang, berharap tidak ada satu pun penghuni rumah melihat keberadaannya.
Berdecak kecil membersihkan bekas-bekas percikan tanah yang tertoreh pada kanvas putih kesukaan. Bibir terlipat menatap sendu pada semua hasil karya lukis yang tidak lagi berbentuk.
"Papa aneh," monolognya terkekeh merapihkan semua alat yang tidak bisa lagi digunakan.
Dari kecil semenjak Juna menghilang. Pergi dan melupakan tanggung jawab. Membiarkan Kalula hidup dengan satu peran Ibu.
"Dari lukis nanti mau jadi apa?" Semakin mengeras tawa yang keluar, seiring air mata yang menggenang. Perasaan sesak tidak bisa ditahan ketika mengingat perlakuan Juna, berbeda dengan Aksa dan Atma yang selalu dimanjakan.
Kalula dibedakan.
Dari segi apa pun.
"Berada pada posisi yang paling tidak diinginkan, tanpa persiapan dan dukungan. Kenapa, Papa? Tidak memberi aku jeda untuk memilih ke mana seharusnya melangkah tanpa dituntun orang tua?"
Senyap menemani ungkapan hati. Tentang segala resah dan kebingungan tentang jalan hidup yang sudah diberi petunjuk arah. Kalula merebahkan tubuh pada tumpukan barang tidak berguna itu, tidak peduli akan baju seragam yang masih terpasang. Melepas penat sejenak setelah kepulangan mereka dari Pantai, tempat kesukaan Atma yang membuat Kalula menjadi penonton kedekatan mereka.
"Aku bingung, sebenarnya orang-orang yang datang benar ingin mengobati atau malah semakin menyakiti? Tuhan, tolong. Aku sudah terlalu lelah untuk merengkuh semua duka yang diberikan," tutur Kalula memarau, tatapan meredup menutupi buliran air mata yang hendak jatuh.
Rasanya bukan untuk dipermainkan.
"Hanya sendiri jangan terlalu menghakimi."
Tidak ada waktu yang lebih baik melainkan kesendirian. Bercerita tanpa pendengar, meluruh tanpa sandaran, menangis tanpa ungkapan penenang, dan jatuh tanpa ada sodoran tangan yang membantunya bangkit lalu berucap, Mari bertahan. Semuanya hampa, sia-sia akan kata tentang rasa sakit. Alam semesta mendengar keluh kesah namun tidak dapat merengkuh luka.
"Kalau nanti aku nyerah, kiranya Papa mau peluk aku untuk terakhir kalinya, gak ya? Semoga Tuhan," ucap Kalula sembari mengusap sudut mata yang basah.
Jari kecil Kalula terangkat melambai pada luas langit malam, seolah menyapa seseorang yang telah lama berpulang, meninggalkan satu nyawa yang dituntut mati oleh banyak orang. Kalula tergagap tidak mampu mengucapkan satu panggilan. Lidah keluh dan nafas tercekat menahan isakan.
"Maaf, Ibu."
Terucap begitu pelan di tengah sunyi malam.
"Putri Ibu tidak tumbuh selayaknya anak-anak. Tidak hidup seperti remaja pada umumnya. Dan ketika dewasa nanti, tolong doakan tidak luluh lantah lagi oleh para penguasa."
Terdiam sesaat menarik napas dalam. Memejamkan mata membayangkan segala perlakuan tidak senonoh dari semua orang mengenai kecacatan.
Hina.
"Tidak ada yang membuat aku bertahan sejauh ini selain diri sendiri. Karena apa? Karena aku masih belum berada pada posisi yang kata-kata orang bahagia dengan sederhana."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
