Bab 56 [ KAMU TERLUKA? ]

5.2K 198 6
                                        

Terkadang manusia sering kali beranggapan bahwa takdir akan selalu memihak dan membuat dirinya selalu berkuasa. Karena mempunyai segalanya, uang untuk membungkam ocehan manusia. Lalu, ia lupa bahwa kapan saja bisa jatuh dan berjalan tertatih mencari perlindungan semesta.

Napas Jema tercekat saat bahunya didorong beberapa orang.

Jari-jari itu juga tampak mencengkram salah satu tali ransel melampiaskan emosi dan ketakutan yang menyatu. Berdiri di tengah-tengah orang yang menghakimi.

"Gimana, Kak? Dipandang hina oleh manusia." Aruna bersedekap dada di sebelahnya. Wajah perempuan dengan kunciran rambut tinggi itu tetap lurus ke depan, namun nada sinisnya berhasil menohok Jema yang tidak dapat bersuara.

"Dikelilingi banyak orang. Bukan buat nyaksiin gimana teganya lo sama Kalula, tapi buat bikin lo rusak oleh omongan manusia."

"Gue salah."

Kemudian kekehan kecil Aruna semakin membuat mata Jema memerah. Dipermainkan oleh tatapannya yang penuh rendah.

"Sesal lo gak akan berguna. Apalagi setelah tuntunan itu seenaknya dicabut karena kalian punya kuasa. Gak adil," ucap Aruna melemah di akhir kata, kepalanya turut bergerak, menggeleng tidak habis pikir.

"Dia mati bukan karena kelakuan gue, Aruna. Jangan tambah bikin gue dipandang buruk sama orang," tutur Jema.

Menciptakan raut kebingungan pada wajah Aruna. Belum lagi desakan kata di belakang mereka akan penuturan kebencian pada Jemawa. Mengganggu fokus Aruna untuk mencerna ucapan santai dari perempuan di sebelahnya.

"Mulut lo." Telunjuk Aruna mendorong pelipis Jema kasar.

"Lo gak ada pernah merasa bersalah?" Aruna bertanya parau. Mengunci bola mata Jema dengan tatapan sendunya.

"Bukan sepenuhnya salah gue. Selama ini kita cuma ikut-ikutan."

Aruna semakin tertawa.

"Ikut-ikutan?"

Jema berdecak. "Yang benci sama Kalula itu Aksa."

"Ya. Tapi kalian juga terlalu lancang buat bikin dia sakit. Permasalahannya di sini sama Aksa, kenapa kalian justru ikut campur? Gak ada kerjaan lo?" Mengguncang tubuh Jema kasar, napas Aruna naik turun dengan tatapan marah.

Tidak kah mereka berpikir seperti apa memperlakukan Kalula selama ini?

"Kita cuma bercanda."

Tiga kata itu selalu menjadi pelindung bagi mereka.

"Candaan kalian kelewatan. Itu bukan candaan, fisik dia bukan bahan tawaan, kekurangan dia gak pantas lo semua perbincangkan, lo pernah mikir gak? Dia lewatin harinya kayak apa?" Rentetan pertanyaan disela-sela tangis tertahan. Aruna saja yang turut menggores luka pada batin Kalula tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa tenang.

Namun, para manusia biadab ini masih begitu sombongnya mengangkat wajah.

"Dari kecil gue temenan sama dia, Kak. Gak sekali pun gue lihat orang-orang berpihak sama keadaan kaki dia yang pincang. Gak akan ada yang namanya tempat ternyaman buat Kalula, apalagi sekolah, candaan berujung air mata." Aruna berucap dengan bibir bergetar. Matanya menjelajah seisi ruang kelas yang berkerumunan menyaksikan.

Terdiam.

Area khusus kelas XII ini hening karena Aruna. Waktu istirahat tidak membuat mereka beranjak mengisi perut, memilih menetap, mendengarkan Aruna seolah suara perempuan itu adalah bentuk pengaduan Kalula yang tidak pernah sampai.

"Kalian jahat."

"Kalula pergi memang bukan karena pukulan atau tendangan kalian. Dia kecelakaan, tapi tau yang bikin dia menyerah dengan mudah? Karena tubuhnya udah sakit Kak. Batinnya, udah rusak. Kepalanya berisik minta kepulangan dan milih ninggalin orang-orang yang masih sayang sama dia."

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang