Loker itu dipenuhi sampah basah, bau busuk menyeruak menimbulkan cibiran. Kalula menatap lurus sepatu olahraga yang sudah koyak, tidak berbentuk. Permukaan yang menghitam seperti bekas dibakar dan robekan kertas dari buku tugasnya. Belum lagi pelipisnya yang terbentur karena dorongan berkali-kali dari Rayden.
Seingat Kalula tadi tidak sesepi ini. Tapi kenapa hanya tersisa mereka berlima di sini? Pertanda bahaya memenuhi pikiran Kalula. Sedikit mundur menjaga jarak, mata Kalula mengedar mencari celah untuk bisa kabur. Namun sepertinya semesta tidak berpihak saat ini. Hanya dengan satu tangan tubuh kecil Kalula disudutkan pada dinding.
"Aduh kangen banget gue sama anak cacat ini," celetuk Rayden tersenyum cerah. Tangannya naik menyapu wajah Kalula, berhenti pada dagu lalu meremasnya dengan seringaian andalan.
Ringisan Kalula adalah suara yang paling indah dari semua yang didengar. Rayden amat menyukainya.
"Mumpung guru pada rapat, siang ini mainnya sama kita, oke! Asik kok, pasti ketagihan." Jema berucap dengan senyuman lebar, melangkah lebih dulu ke arah lorong paling ujung, gelap, bangunan tidak terpakai.
Kalula menggeleng. Meronta berusaha melepaskan tarikan Rayden pada rambutnya.
"Lepas!" teriak Kalula namun hanya kekehan kecil yang keluar dari mulut mereka.
"Aku gak pernah buat masalah sama kalian, orang-orang gila."
Setelah kata yang terucap jeritan Kalula terdengar. Menggema di sepanjang lorong. Mata Kalula terpejam menahan perih pada rambutnya yang dijambak dari belakang oleh Aksa. Semakin terhenyak ketika tubuhnya luruh lalu diludahi oleh Anaya. Sial, benar-benar penghinaan.
Tidak diperlakukan layaknya manusia.
"Makin belagu aja," cibir Anaya kembali mendorong kepala Kalula. Tidak membiarkan sedikitpun jeda.
Keempatnya saling lirik seolah menentukan siapa yang akan mengambil kendali siang ini.
Kalula merangkak, bersiap berlari namun kerah seragamnya ditarik kuat hingga tubuhnya terpental membentur dinding. Wajah suram Aksa yang mendekat dan hendak mencengkram lehernya Kalula tepis.
"Anak gila, kamu gak waras," pekik Kalula dengan nafas memburu. Bergerak memukul tubuh atas Aksa lalu mendorongnya kuat.
"Wah, menarik. Gue jadi penonton aja, ya." Anaya terkikik dengan kepala menggeleng kecil, cukup terkejut akan perlawanan Kalula.
Rayden yang fokus merekam dan Jema yang berdiri tenang memperhatikan. Memberikan ruang untuk Aksa meluapkan kekesalannya.
"Gila? Orang cacat kayak lo ngatain gue gila? Sadar diri, bego," tutur Aksa mengangkat tubuh Kalula. Menumpukan punggung kecil rapuh itu pada jendela kaca kelas lalu tangannya bergerak membenturkan kepala Kalula.
Alis Aksa terangkat saat mendengar suara lirih Kalula yang meminta lepas.
"Sakit Aksa."
"Kalian jahat."
"Kenapa gak mati, aja? Dengan itu lo gak akan ngerasain sakit lagi," ucap Aksa menatap dalam manik Kalula yang memerah menahan tangis.
"Gantung diri aja, bikin gempar tuh," sahut Jema bersedekap dada. Merangkul Kalula lalu tangan yang satu lagi menumpahkan sebotol susu pada kepala Kalula. Jema semakin melebarkan senyumnya, meremas bahu Kalula lalu melirik Anaya yang datang dengan bak sampah penuh dibantu Rayden.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Novela Juvenil"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
