Bab 25 [ INSIDEN SMANTA ]

5.1K 264 9
                                        

Raganya bernyawa namun jiwanya luluh lantah.
Tubuhnya ditikam namun akalnya yang berantakan. Di masa sekarang, memanusiakan manusia adalah hal yang sulit dilakukan. Tidak akan pernah mengerti sebelum merasakan. Manusia kian banyak namun kemanusiaannya yang hilang.

Terengah-engah tidak kunjung membuka mata. Semalam penuh Prita menunggu tanpa beranjak dari kursi tunggu. Perempuan berpenampilan lusuh dengan genggaman tangan yang bergetar. Guratan amarah pada wajah perlahan berkurang saat menangkap keberadaan sosok paruh baya berseragam pendidik itu melangkah tergesa-gesa.

Berhenti di depan mata dengan mata berkaca.

"Kenapa baru sekarang?" Tercetak menanyakan tiga kata bagi Prita yang sudah menunggu semalaman. Sendiri tanpa ditemani.

"Maaf." Jawaban penuh sesal diakhiri helaan napas berat.

"Sama seperti biasa, dia di bully. Bapak, masih gak percaya?"

Keterdiaman yang diartikan Prita bahwa sosok di hadapan masih ragu. Mengenai penyebab dari terbaringnya anak didik. Dan untuk ke sekian kalinya Prita memberi tahu tanpa bukti, hanya mengunakan sudut pandang dengan ucapan pada wakil kesiswaan itu.

"Saya butuh bukti buat lanjutin masalah ini ke pihak berwajib," tutur Pak Narto pelan menunduk. Bergerak mengusap bahu Prita kemudian berlalu membuka pintu.

Guru dengan masa tugas yang akan habis dua bulan lagi itu memejamkan mata sesat dan kembali melangkah menelisik tiap bagian lebam yang tampak. Tergagap untuk berucap menanyakan pada Prita yang mengangkat alis, mengejek akan kelalaian.

"Kenapa gak dari dulu dia lihatin luka ini, ya? Biar orang-orang sibuk kayak Pak Narto percaya," ujar Prita tertawa kecil.

"Sekolah kita bukan sekolah kecil, Pak. Punya cctv di mana-mana, punya saksi mata namun bukti yang hilang oleh kekuasaan Bu Sena."

Pak Narto menghembuskan napas panjang. Jarinya memberikan usapan pada pelipis Kalula dengan pandangan nanar. Tidak menanggapi tuturan kata dari bentuk kekesalan hati Prita.

"Jangan sampai ke sebar dulu. Citra sekolah bisa buruk."

Berdecak dengan alis menukik, kebingungan Prita curahkan melalui mata. Tidak percaya akan perintah.

"Saya yang urus."

"Berapa hari?" Menantang tanpa takut, Prita perlu bertindak tegas di sini.

"Kalau gak juga saya yang laporin sendiri, Pak. Mata saya udah banyak ngerekam kejadian kejam itu dan tubuh Kalula semakin rusak, banyak yang mereka ambil," ungkap Prita membuang muka tidak sanggup lagi melanjutkan kata.

"Saya perlu membuka suara dari banyak saksi yang dibayar. Hak kuasa Bu Sena harus dibuat jatuh dan juga jejeran pelaku dengan latar belakang orang-orang penting. Mereka berdiri di atas hukum, menghindar dan menyuap adalah jalan kebebasan untuk terlepas," jelas Pak Narto melipat bibir menahan emosi.

"Maksud Bapak?" Dahi Prita berkerut tidak mengerti.

"Para orang berjabatan. Yang saya tahu orang tua Rayden, keduanya anggota DPR. Jema, Ayahnya tentara dan Ibunya dokter. Aurora sudah jelas dan Aksa, pebisnis besar. Saya butuh perlu banyak waktu."

Termenung, keduanya larut dalam kenyataan yang memukul telak ketidakberdayaan. Sebagai kecil dari satu orang berkuasa, jika satu mereka akan runtuh.

TRAGEDI 23.59 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang