Tutur kata tercurah menyebabkan luka. Terlihat berkuasa agar dunia tidak mencela. Namun lupa, kapan saja Tuhan bisa marah. Bukan orangnya tapi hatinya yang berulah. Rasa kasihan tidak lagi dirasa saat tumbuh dalam rengkuhan duka. Angan yang tidak sejalan dengan harapan, sesak berontak mengisi penuh relung hati ketika merasakan perbedaan kentara dari banyaknya penghuni.
Derita.
"Rasanya ingin mati."
Menggerogoti diri.
Kalula dipukul berkali-kali tanpa diobati dan kembali diulangi.
Renungan pada kantin yang ramai. Di antara banyak orang-orang Kalula sendiri. Dari banyak canda yang terlihat ada Kalula yang bersedih. Menyalurkan gelisah dan ketakutan yang campur aduk dengan menunduk. Tidak memiliki keberanian menatap deretan senior yang duduk angkuh di depannya. Kedatangan mereka yang tiba-tiba dan menyita semua pasang mata, menunggu ada kejadian apa lagi siang ini?
"Rambut lo bagus," bisik rendah di sebelah wajah. Yang membuat pegangan pada sendok makan kian menguat dan kunyahan yang melambat. Mendesis saat jari dihiasi kuku panjang itu meraup surai yang terikat, pelan yang membuat kepala Kalula mendongak.
"Jangan, Kak!" balas Kalula menghindar.
Posisi yang dikelilingi membuat Kalula semakin sesak. Pipinya diapit keras dengan menyodorkan bungkusan plastik pada mulut.
"Kunyah!" titah tidak terbantah membuat beberapa mulut berdecak, tidak percaya.
"Cewek tolol!"
Menggigit bibir menahan rintihan saat lengannya dicubit bergantian. Geram akan penolakan Kalula yang tidak kunjung membuka mulut.
"Sakit," teriak Kalula melotot saat kaki kirinya diinjak sengaja. Menciptakan raut memerah pada wajah dan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan ganggu. Minggir!"
Mereka saling tatap lalu tertawa mengejek. Seolah perlindungan diri yang Kalula perlihatkan adalah sebuah lelucon yang menggelikan.
"Kaki lo gak bisa sembuh, ya? Bengkok terus," cibir perempuan bertubuh tinggi di depan Kalula. Kata yang kembali membuat gelak tawa mengisi. Mempertontonkan pada anak-anak tentang kecacatan Kalula.
Tersenyum.
"Gak bisa urus diri kakak dulu? Bulu matanya mau copot."
Balasan Kalula yang disambut olokan kata dari pengunjung kantin. Menatap lurus garis wajah yang terbentuk dengan indah, cantik namun tidak berperasaan. Kalula menarik napas dalam, melihat raut kaget karena untuk pertama kalinya melihat perlawanan Kalula.
"Aku yang cacat kenapa kalian yang ribet?"
"Lo, berani?" sentak perempuan itu tidak terima. Mendorong meja membuat tubuh Kalula nyaris terjungkal.
Gerakan cepat yang menarik kerah seragam lalu mendorong kepala Kalula pada dasar meja, menekan sisi kepala melampiaskan rasa malu dan amarah.
"Pincang aja belagu."
"Cewek cacat."
Rentetan kata penuh hinaan ditujukan, Kalula hanya mampu terdiam saat tubuhnya diseret keluar mengikuti kumpulan senior yang disegani. SMANTA itu gila hormat, pada tingkat atas yang berkuasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Fiksi Remaja"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
