Hahhh... Lama banget ya? :( Maaf baru muncul yaa.
Aku beberapa kali nulis ulang buat bab ini. Dan aku bilangin dari tulisan pertama beda banget sama hasilnya yang sekarang. Hahaha...
Terimakasih kalau(?) ada yang setia menunggu cerita ku yang amatiran ini ya... Terlebih buat yang sering nanyain cerita ini ke aku. Cerita ini kupersembahkan untuk kalian dan secara spesial untuk Mayrini♥
Maaf kalau ada typo :3
Bab selanjutnya adalah The end ya ^^ Ucapkan selamat tinggal untuk kesayanganku Nandira :"(
Ya udah, aku nggak banyak cakap lagi, HAPPY READING, GUYS!!! ♡♡♡
***
Aku tak tahu berpisah dengannya artinya juga berpisah dengan segalanya. _Nandira_
~~~~~~~~~~~~~
Devon hanya diam mengamati Nandira dari jendela kamarnya. Nandira masih melamun di bawah ayunan itu. Terlihat lemah tak berdaya.
Pria tampan itu mengernyitkan dahinya, wanita itu tak mungkin menyerah begitu saja. Ia sangat yakin, akan ada badai lebih besar dari ini. Dimana perang yang sebenarnya akan dimulai.
Devon merasakannya. Instingnya tajam sekali. Dan firasat itu... firasat itu memang dirasakannya beberapa waktu terakhir ini.
Sesaat itu juga, Devon merasakan pusing di kepalanya. Dengan tak rela, terpaksa, Devon melangkah menuju kasurnya. Duduk di sana dan meminun segelas air.
Padahal daya tahan tubuh pria ini biasanya, jarang sakit. Tapi sekarang Devon merasa lemah sekali. Ia agak stres. Tak biasanya begini.
Mengingat hubungannya yang renggang dengan Nandira malah membuatnya pusing. Harusnya Nandira tak usah tahu tentang kebenaran. Tapi mau bagaimana lagi? Sepupunya yang bermulut besar itu senang sekali mengacaukan rencananya.
Arlan...
Harusnya dari dahulu ia bunuh saja.
Devon mengerutkan kening, tak suka. Sepupunya itu keterlaluan dan mengacaukannya. Tapi Devon takkan bermain kasar sekarang. Tidak untuk sekarang.
Tatapan Devon berubah kejam. Ia marah sekali. Dan rasa marah itu malah menjalar membuat kepalanya makin pusing.
Nandira... Ia begitu terobsesi pada gadis mungil yang menjelma menjadi wanita cantik. Sangat cantik. Devon tahu Nandira mencintainya. Itulah yang membuatnya lebih unggul dari Arlan.
Arlan yang dianggapnya bodoh itu ternyata tak sebodoh yang ia kira. Meski tentu saja Devon lebih pintar.
Jangan salah. Devon mungkin terlihat diam. Tapi ia benar-benar akan membuat orang yang berani mengibarkan bendera perang padanya...menyesal sampai ketakutan untuk kembali bernafas!
***
Nandira melangkah masuk ke dalam kamar. Ia memakai piyama tidur sutra berwarna hitam. Kontras sekali dengan kulit putihnya yang mulus.
Wanita itu melihat Devon sedang membaca lembaran demi lembaran yang ia ketahui adalah laporan pekerjaan. Bahkan disaat masih sakit saja Devon tetap bekerja. Benar-benar...
"Kenapa kau berdiri di situ?" Suara Devon mengejutkan Nandira. Ia langsung tersadar dimana ia sekarang.
Ternyata Nandira melamun dengan berdiri di depan pintu sambil memandangi Devon. Astaga memalukan sekali.
Wanita cantik itu berusaha bersikap biasa saja. Ia pun melangkah lagi menuju ranjang. Dan akhirnya menjatuhkan diri di sana.
"Kau sudah makan malam?"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."
