Aku lanjutin nih, ya. ^^
Walau votenya belum sesuai target.
Makasih untuk yang memberikan vote. Aku harap kalian nggak merasa bosan ya.Aku minta kritik dan sarannya. :)
Dan Vote nya juga supaya aku semakin semangat melanjutkan cerita ini.Thanks all ♥♥♥
HAPPY READING ~~~~
Author POV
"Nandira!"
Nandira yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh dengan gugup ke sumber suara. Pria yang memanggilnya terlihat tersenyum geli melihat kegugupan Nandira yang kental.
"Devon! K-kau mengejutkanku." Kata Nandira tergagap-gagap.
Tiba-tiba dahi Nandira berkerut mengingat sesuatu yang mengganjal, "Kenapa kau bisa berada disini?"
Tentu saja Nandira bingung apa yang membuat orang seperti Devon berada di taman saat jam kerja masih berlangsung.
Devon melangkah mendekati Nandira, "Tadi ada meeting di dekat sini." Devon menyebutkan nama restoran yang cukup terkenal dan memang dekat dengan taman ini.
Nandira tersenyum mengerti. Dan Devon duduk di samping Nandira.
Pria itu nampak sangat tampan, dengan jas hitam yang menggantung di pundak kanannya. Dua kancing kemeja putihnya terlepas memperlihatkan sedikit bagian dada bidangnya. Rambutnya agak acak-acakan malah menambah kesan Sexy pada dirinya. Berbanding terbalik dengan Devon yang biasanya rapi dan berwibawa.
Pipi Nandira merona memikirkan betapa sexy nya Devon. Devon sepertinya menyadari kesalahan pada tingkah Nandira yang terkesan malu-malu ini.
"Ada yang salah, Nandira?" Tanya Devon dengan suara berat dan menggoda.
Astaga, dia mencoba menggodaku rupanya. Batin Nandira bersuara.
"Ah, ya, Devon. Aku ingin mengucapkan terimakasih karna kau membantuku mengerjakan skripsiku. Itu diterima baik oleh dosenku." Kata Nandira berusaha mengabaikan nada suara pria ini tadi.
Sudut bibir Devon terangkat, menampilkan senyum miring yang menawan, "Sama-sama, Nandira." Jawabnya tulus.
Melihat sepertinya suasana hati Devon cukup baik, Nandira memutuskan bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Aku ingin bertanya satu hal." Kata Nandira pelan, "Bolehkah?"
Devon mengangguk, "Kau bisa bertanya apapun padaku, Nandira."
"Aku dengar... Aku dengar kau selalu mengalami kegagalan dalam perjodohan." Gumam Nandira hati-hati seraya melihat ekspresi Devon.
Devon hanya menghardikan bahunya sekilas, "Ya memang begitu." Katanya sambil tersenyum lembut, "Para gadis itu terlalu banyak menuntut dan tak bisa mengerti. Menurut mereka kami -para pria- harus selalu bertemu dan aku meluangkan waktu berhargaku untuk menemani mereka. Mereka bilang aku terlalu kaku dan sangat senang bekerja di kantor membuat mereka merasa diacuhkan." Jelas Devon.
"Benarkah?" Nandira menatap tak percaya pada Devon, "Kau tidak kaku!" Balas Nandira lagi.
Devin kaku? Sungguh, dia pria yang manis. Bahkan terlalu manis dan menawan. Ya tapi untuk pendapat tentang Devon yang super sibuk bekerja, Nandira menyetujuinya.
Devon tertawa lepas, "Entahlah. Tapi mereka memilih tidak ingin bersamaku jadi ya sudahlah." Katanya menatap Nandira. Nandira pun tersenyum. Merasa alasan Devon mungkin cukup membuat rasa penasarannya puas.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."