Aku pikir di Bab kali aku mau bikin adegan happy-happy nya dulu sebelum ke Bab yang lebih menguras emosi.
Terimakasih bagi pembaca cerita ini. Bagi yang memvote dan berkomentar langsung aku juga sangat senang. Terimakasih, ya, semuanya yang baik hati
Maaf jika ada typo, aku sudah berusaha teliti sebelum ada kesalahan itu. :)
HAPPY READING, ALL
***
Nandira duduk termangu di meja rias. Menatap pantulan dirinya yang ada di cermin. Keningnya berkerut, terlihat sekali seorang Nandira Cholasta sedang berpikir.
Ya, dia memang sudah terbiasa seperti ini. Merenungi kejadian-kejadian yang ada di hari-harinya. Dad nya yang mengajarkannya seperti itu. Bryan mengatakan, "Kau bisa merenung di hadapan cermin. Memikirkan segala hal yang terjadi pada hari ini. Jika hal itu buruk kau bisa belajar memperbaikinya, dan jika hal itu baik kau bisa semakin membuatnya baik. Ini mengajarkanmu cepat dewasa,nak."
Nandira tersenyum lembut. Dia sangat merindukan Dad nya. Tadi dia sudah menghubungi Dad nya itu, menyadari Bryan sudah sembuh dan cukup baik sangat membuat Nandira bahagia. Ini tujuan awalnya, bukan?
Dia menerima ini juga dikarenakan untuk sang ayah. Dan Tuhan memberikan kesempatan untuknya lebih berbakti pada Dad, dia takkan menyia-nyiakannya. Cukup dahulu saja Nandira asyik bermain-main dan tak memperdulikan keluarganya. Sekarang gadis itu bertekad akan menjaga dan mencintai semua miliknya yang berharga, keluarganya.
Nandira takkan memperdulikan masa lalunya lagi. Toh, masalalu ya sudah berlalu, yang terpenting adalah masa depan, kan?
Namun ada berbagai macam pertanyaan di benak Nandira. Tentang Arlan...
Kenapa pria itu saat kejadian hilangnya Nandira, saat Nandira sudah kembali, Arlan nampak sangat mengkhawatirkannya. Dan memeluknya. Ada apa sebenarnya? Bukankah pria itu sendiri yang membuangnya, memutuskan hubungan denagn alasan yang menjadi rahasia itu. Tetapi Nandira mengetahui bahwa Arlan tidak mencintainya lagi, jadi dia pergi.
Tapi kenapa sekarang Arlan bersikap seperti ini? Apa yang diinginkan pria itu sebenarnya? Menyakitinya lagi?
Nandira menghela nafas berat dan melangkah menuju kasurnya yang empuk. Tak mau menunggu lagi segeralah dia membaringkan tubuhnya. Menatap ke langit-langit kamarnya yang terlihat berkilau. Sampai akhirnya rasa ngantuk melanda jiwa gadis cantik itu. Akhirnya Nandira terlelap dan memunculkan wajahnya yang tenang seperti bayi.
***
Wanita itu melangkah dengan percaya diri. Dia menggunakan pakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuh indah miliknya. Dengan rok mini berbahan kain mahal berwarna hijau lumut yang hanya bisa menutupi setengah pahanya, menampilkan kaki jenjang yang menggiyurkan itu.
Sepatu hak tinggi tidak menyulitkannya, terlihat sekali gadis itu terbiasa dengan ini semua. Begitupun dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya tak dihiraukannya sama sekali.
Dagunya terangkat, matanya lurus ke depan, dadanya membusung, dengan anggun dia memasuki pintu itu. Pintu yang sama, ruangan yang sama, untuk menemui orang yang sama.
"Kau nampak berani sekali. Kau tidak takut?"
Wanita seksi itu tersenyum miring mendengar kalimat penyambutan dari pria yang ada di sana, dan masuk lebih dalam ke ruangan itu.
Tanpa menunggu banyak waktu lagi, dengan angkuh wanita itu merogoh tas bermerek mahal miliknya. Kemudian terlihat sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang keluar dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."
