***
Devon tersenyum tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. Nampaknya pria ini tak peduli ketika kepergok berciuman dengan Nandira tadi.
Sementara Nandira sudah berdiri kaku. Jangan tanya bagaimana wajahnya. Kulit putih selembut satinnya sekarang semerah kepiting rebus. Astaga Nandira malu sekali. Itu memang bukan ciuman pertamanya lagi. Tetapi kali ini dia kepergok! Demi Tuhan dia sedang kepergok! Kepergok oleh tuan Thomas dan pria yang mendapatkan ciuman pertamanya, Arlan.
Thomas hanya tersenyum geli menyaksikan itu. Dan Arlan... Pria itu kembali menjadi pria berekspresi batu. Tak ada reaksi berlebihan namun Arlan seperti memakai topengnya. Topeng batunya...
"Ayah? Ada apa?" Tanya Devon tenang, kemudian mereka duduk di sofa. Devon sudah meminta minuman kepada bawahannya.
"Aku tidak menyangka Nandira di sini." Thomas tersenyum, "Senang melihatmu. Kapan-kapan datanglah ke rumah. Istriku selalu menanyaimu." Kata Thomas lagi.
Pipi Nandira merona, Devon yang menyahut ayahnya, "Tentu Nandira di sini, ayah. Dia kan calon tunanganku." Ada nada bangga dan puas saat Devon mengatakan itu. Apalagi pria itu nampak melirik Arlan yang daritadi hanya diam.
Thomas tertawa kecil melihat Putranya, "Ya akupun tidak sabar menunggu kalian bersama."
"Kalian ke sini untuk merayakan keberhasilan kerja adik sepupuku di hari pertamanya."
Itu bukan pertanyaan. Sepertinya Devon memiliki insting tajam atau memang terbiasa dengan ini.
"Kau memang Putraku." Thoman tersenyum dan membenarkan. Dan Arlan terlihat tetap seperti batu.
Nandira hanya mendengarkan. Jadi Arlan sudah bekerja. Hmm... Sepertinya kadar kepintaran pria itu semakin bertambah.
***
Savana menatap puas ke depannya. Wanita itu terlihat sangat cantik dan menawan. Dia menggunakan celana jeans biru berwarna putih dan dipadukan oleh mantel kulit sepanjang hingga hampir lututnya. Mantel itu sangat manis, berwarna kuning cerah, terlihat mewah sekaligus elegan. Ada kancing-kancing di sisi-sisi mantel itu menambah kesan manisnya.
Savana melihat para pekerja yang sedang sibuk. Savana pun beralih untuk melihat hasil laporan pekerjaan ini. Kemudian senyuman puasnya mengembang lagi.
Wanita cantik itu melangkahkan kakinya dengan anggun, dan jemarinya merogoh ke dalam saku mantelnya. Mengeluarkan sebuah handphone miliknya.
Savana berdiri di samping tiang yang ada di gedung ini. Gedung gempat dia melakukan pekerjaan kecil di sini.
Jemari lentiknya mencari nama yang sangat dihapalnya.
Savana nampaknya akan menelepon seseorang,
"Semuanya hampir siap." Gumamnya penuh arti sambil tersenyum misterius.
***
"Tidak terasa lusa nanti Dad akan pulang. Haaaa.... aku sangat tidak sabar."
Rosa tergelak. Dia mengangguk setuju. Saat ini Rosa tengah bersama dengan Nandira di restoran Jepang. Mereka memutuskan bertemu.
"Berapa lama Dadmu di sana? Tunggu... Hmm... 2 bulan?"
Nandira mengangguk, "Sekitar 2 bulan lebih."
Rosa tersenyum, "Aku senang dad mu akan kembali. Dan kuharap dia selalu sehat."
Rosa dan Lian adalah sedikit orang yang mengetahui penyakit Bryan. Tentunya itu dikarenakan Nandira sangat mempercayai keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romantik"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."
