BAB 10

866 40 3
                                    

Well, aku lanjutin ya :)
Tetap jadi pembaca yang baik. :D
Vote atau komentar silahkan.
Kritik di terima dengan lapang dada. hihihi :D

Maaf jika ada typo ya..

Thanks All ♥

HAPPY READING ^^

♡♡♡

Author POV

Savana terdiam cukup lama. mencoba mencerna perkataan Devon tadi di telepon. Dia tadi menelepon Devon untuk menanyakan keberadaan Nandira.

Adik sepupunya itu tidak biasa pulang terlambat, kalaupun bisa itu pasti Nandira sedang bersama kedua sahabatnya.

Awalnya dia pikir Nandira pergi dengan Devon, jadi Savana memilih bertanya langsung. Dia merasa khawatir juga.

Dan perkataan Devon tadi membuatnya semakin khawatir.

"Aku akan menemukannya."

Hatinya tiba-tiba gelisah. Apalagi saat dia mencoba menghubungi nomor Nandira namun tidak pernah tersambung. Nomor itu telah tidak aktif.

Savana mengambil jaket serta kunci mobilnya. Dia melihat pengurus rumah tangga datang, "Jika Nandira pulang, hubungi aku!" Katanya.

Lalu Savana berlari ke bagasi, dan segera mengemudikan mobilnya.

***

"Tidak. Aku tidak suka ke kolam renang. Kau kan tahu aku trauma berenang." Rosa mengerucutkan bibirnya lucu.

Lian meliriknya dengan sinis, "Kau bukannya trauma berenang. Tapi kau memang tidak bisa berenang." Ejeknya yang memang itu adalah fakta.

Rosa semakin cemberut karna Lian. Dulu dia pernah nekad berenang padahal dia tidak bisa berenang. Alhasil dia hampir tenggelam jika saja tak ada orangtua yang menolongnya.

Baru saja Rosa akan membalas ejekan Lian, ponsel Lian berbunyi.

Lian mentertawakan Rosa yang wajahnya semakin bertekuk, lalu dia memilih mengangkat teleponnya.

"Hallo, Kak?"

"....."

Ekspresi Lian berubah dan membuat Rosa bingung, "Jadi dia tidak bersama Devon atau sudah pulang?"

"....."

"Kami akan ikut mencarinya." Lian melirik pada Rosa yang sudah pucat pasi, pastinya dia sudah bisa menangkap apa yang terjadi.

"Baiklah. Kami akan kembali ke kedai dan menghubungi teman-teman untuk menanyakannya."

"....."

"Iya, Kak." Lian menutup handphonenya.

"Ada apa?" Rosa dengan was-was bertanya.

"Nandira belum kembali." Jawab Lian, "Aku takut terjadi sesuatu pada Nandira." Lalu Lian bergegas menyambar kunci mobilnya, diikuti oleh Rosa. Mereka segera berangkat ke kedai kopi yang niatnya mereka bertemu dengan Nandira tadi.

***

Seorang pemuda duduk di hadapan gadis mungil yang dirinya sedang duduk tak berdaya. Nandira terikat di sana, masih dengan kondisi tidak sadarkan diri.

Pemuda itu diam tanpa ekspresi. Matanya terus mengamati Nandira. Menanti gadis itu membuka mata. Keinginan untuk menjadi orang pertama yang dilihat gadis itu saat bangun sangat besar.

Pemuda itu mendekat. Menyingkirkan helai-helai rambut coklat dark Nandira yang melindungi pemandangat terindah baginya, wajah Nandira.

Senyum pemuda itu mengembang. Begitu lembut seperti usapannya pada pipi Nandira yang mulus. Kulit pipi Nandira merona merah dengan cantiknya, namun belum ada tanda-tanda gadis itu untuk bangun.

I Love YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang