Teruntuk bidadari pemilik keindahan ...
Hai, gadis mungil yang berjiwa tegar. Apa kabarmu? Kau bahagia, kan? Selamat ulangtahun, ya.
Aku mencintaimu.
With Love, A.D ♥
Nandira menyusut airmatanya kasar. Bisa-bisanya Arlan mengatakan itu padanya!
Mereka terdiam, Nandira pun sudah berhenti menangis. Dia hanya melihat ke arah jendela di sampingnya. Rosa akhirnya memutuskan kembali ke kursi depan. Nandira butuh ketenangan.
Mobil mereka berjalan lagi. Hening. Sunyi yang memilukan.
***
Devon sedang menyesap anggurnya yang nikmat. Manik mata kelabunya mengecil, disertai oleh ringisan yang terpancar samar dari wajah tampannya.
Pria itu begitu tampan dengan dibalut baju formal seperti biasa. Rambutnya disisir rapi dan nampak mengkilat elegan. Disertai senyuman menawan yang melekat pada diri seorang Devon Geovano.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, diliriknya benda canggih itu. Tak sembarang orang yang mengetahui nomor pribadi Devon. Setelah memastikan itu adalah rekannya, Devon mengangkat telepon itu.
"Hallo?"
"Devon."
"Ada apa?" Dahi Devon berkerut ketika mendengar suara orang yang meneleponnya.
Kemudian ada jeda cukup lama, sampai akhirnya penelepon itu bersuara lagi, "Recanamu! Segera lakukan! Kubilang lakukan!!"
TUTT ~~
Sambungan telepon itu terputus. Suara peneleponnya tadi terdengar keras dan penuh kekhawatiran. Membuat Devon heran. Tidak ada penjelasan karna sambungan diputuskan sepihak.
Devon mencoba menghubungi orang itu, tetapi tidak bisa. Ada apa?
Apa katanya tadi? Segera lakukan?!!
Wajah Devon mengeras, dia bangkit dari duduknya kemudian menyambar kunci mobil.
Akan kulakukan! Akan kulakukan!
***
Nandira duduk di sisi makam itu. Rumput hijau sudah memenuhi area ini. Dengan lembut Nandira mengusap batu nisan yang ada di hadapannya.
Agelica Rozeya
"Mom. Hari ini aku berusia 21 tahun." Nandira masih mengusap nisan itu dengan sayang. Kerinduannya tiba-tiba seperti api membara. Apa yang dia tahan-tahan kini menjadi satu dan siap menyembur keluar.
"Mom. Aku merindukanmu. Ingin dipelukmu, diciummu." Nandira menyusut airmata yang keluar dari sudut matanya, "Andai saja kau masih ada, aku yakin kita akan lebih bahagia." Nandira terisak pelan.
"Tanpa aku bercerita lebih jauh, kau pasti mengetahuinya." Nandira tersenyum tipis diantara tangisannya. Matanya berbinar dan terus mengeluarkan emosi yang dipendam-pendamnya.
"Aku... aku senang bisa melakukan sesuatu untuk Dad. Hanya dia dan Savana yang kumiliki. Aku... aku yakin ini... ini begitu tidak lucu dan..." Nandira kembali terisak.
Cukup lama dia pun akhirnya bisa menguasai diri, "Kupikir ini mudah. Aku pikir aku bisa melewatinya. Tetapi ternyata... Tuhan begitu suka membuat drama kehidupan. Kau bisa tahu, kan, mom? Tuhan mempertemukanku lagi dengan dia. Dia... Arlan Devrayan."
Nandira memang setiap tahun mengunjungi makan Mom nya. Dia bercerita banyak hal seolah sedang berhadapan langsung dengan sang ibu. Setidaknya dengan ini dia bisa mengungkapkan semua hal yang membebaninya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."
