Aduuuh... Maaf banget ya karna lama update nya >< Soalnya lagi sibuk dan kupikir nggak ada yang nunggu juga :3
Maaf ya ><
Don't forger for Vote+Comment :)
Happy reading ♥
****
Nandira masih diam menatap Savana yang kini terlelap dalam tidurnya. Sungai kecil mulai mengering di sudut mata sepupunya yang cantik. Lagi-lagi Savana harus diberi obat penenang karna tak mau berhenti menangis. Nandira mengerti posisi Savana. Wanita itu merasa terpukul dan bersalah karna Bryan Cholasta menemaninya ke Bogor.
Sementara Alvin juga diam dibelakang Nandira. Mengamati tunangannya yang tidak berdaya.
"Aku berpikir untuk mengundurkan pernikahan kami." Suara Alvin terdengar pasrah, "Savana dalam kondisi tidak baik."
Nandira menoleh pada Alvin kemudian menggeleng pelan, "Karna itu kalian harus bersatu. Secepatnya harus menikah agar Kak Savana bisa dilindungi." Tandas Nandira yang membuat Alvin bungkam. Namun tak lama kemudian senyum muncul di bibir Alvin.
"Kau sudah mulai dewasa, Nandira." Gumamnya lembut seraya mengacak penuh sayang rambut calon adik iparnya itu.
Nandira terkekeh kecil. Lalu keduanya kembali terdiam.
"Kau nampak tidak baik juga, Nandira." Alvin mengamati Nandira bingung dan khawatir, "Ada apa? Sepertinya kau selalu menangis ya?"
"Aku merindukan Dad." Dan aku merasa ketakutan melawan dunia karna Devon sangat jahat padaku. Tuntas Nandira dalam hati tentu saja.
Alvin hanya menghela nafas melihat Nandira, "Boleh saja merasa sedih karna kehilangan. Sangat wajar malah. Tetapi jangan menghancurkan dirimu sendiri. Kau tahu, masih ada yang membutuhkanmu. Dan masih banyak yang siap jika dibutuhkan olehmu."
Nandira tersenyum kecil, namun diam saja. Dia membenarkan kata-kata Alvin.
***
"Jadi kau yang mengatakan semuanya, sepupu?"
Suara itu terdengar ramah sekaligus kelam, Arlan langsung mendongkak dan mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan menggunung. Satu jam lagi dia akan menghadiri pertemuan makan malam. Dan rupanya Devon memilih mengunjunginya sekarang.
Senyum dingin Arlan berikan pada pria tampan itu.
"Kau takut?"
""Takut?" Devon terkekeh. Siluetnya nampak gagah mengikuti aura dinginnya. Kearoganan pria itu juga bertambah 3 kalilipat, "In your dream."
Arlan tersenyum kecil. Senyuman puas yang terkesan sinis.
"Bersiap-siap saja untuk kehilangannya." Kata Arlan dengan tenang.
"Wow!" Devon tertawa sinis menghadapi pria ini. Ditatapnya lekat-lekat sepupunya itu.
Arlan memang tidak setampan dirinya. Tetapi pria itu memiliki aura sendiri yang misterius. Meski jarang tersenyum, Arlan tetap terlihat mempesona. Kulitnya putih dan perawakannya lebih tinggi ketimbang Devon. Yang paling mencolok dari Arlan menurut Devon adalah matanya, lensa itu sama seperti Nandira.
Rahang Devon mengeras memikirkan itu, namun berusaha ia tutupi semua amarahnya. Ketenangan Arlan adalah trik hebat untuk membakar emosinya. Tetapi Devon takkan terkecoh begitu saja. Tidak akan!
"Sayangnya Nandira mencintaiku."
Sekarang giliran Devon yang tersenyum tenang, dilihatnya ekspresi Arlan mulai kaku tetapi pria itu bisa mengendalikan diri dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."
