***
"Operasinya lancar. Nona Savana juga sudah melewati masa kritisnya. Mungkin dia akan sadar besok pagi karna obatnya masih bereaksi." Dokter cantik itu bernama Lily. Menyalami Alvin dengan lembut. Dialah yang turut membantu jalannya operasi Savana.
Alvin membalas salaman itu dengan kaku. Tangannya sudah dingin karna menunggu operasi yang begitu lama sampai 4 jam lebih. Masa kritis tunangannya itulah yang membuatnya tak karuan. Kemudian Dokter Lily pamit undur diri bersama perawatnya.
"Mama, Papah, kalian pulang saja dan beristirahat. Sudah malam. Aku akan menjaganya, menginap di sini." Alvin berkata pada kedua orangtuanya yang ikut serta menemaninya.
Mama Alvin tersenyum lembut pada Putranya, dan mengelus lengan Alvin upaya menyalurkan ketenangan, "Jangan lupa istirahat. Kau tahu, besok juga hari pemakaman Bryan Cholasta." Katanya mengingatkan.
Ya, Alvin tahu itu. Besok pagi akan ada pemakaman. Dan Itu pula yang membuat Alvin bingung, bagaimana nanti reaksi Savana saat mengetahui Bryan meninggal?
"Nanti kami datang lagi. Setidaknya disaat orang lain lemah, kau berusaha kuat untuk melindunginya." Sang Ayah menepuk ringan pundak Alvin.
Alvin hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tak lama setelah itu Devon datang bersama Nandira, juga Rosa dan Lian yang masih saja setia.
"Kak Savana baik-baik saja, kan?"
Alvin mengangguk lembut seraya mendekati Nandira. Gadis itu sudah lebih baik sekarang. Tetapi masih terlihat rapuh. Sampai-sampai orang yang melihatnya saja tak mampu berbicara keras padanya.
"Savana baik-baik saja. Dia kuat. Kau juga kuat!" Kata Alvin sambil membelai sayang rambut Nandira.
Tidak ada yang risih. Devon pun tak cemburu. Perhatian yang ditunjukkan Alvin pada Nandira itu murni rasa sayang kakak terhadap adiknya.
"Jaga dia untukku." Kata Nandira sambil berhambur ke pelukan Alvin yang langsung menyambutnya.
"Aku akan melakukannya."
***
Lian memeluk Nandira sebelum mereka akan berpisah hari ini. Tentunya keduanya akan pulang. Dan Nandira yang sudah bersuami akan pulang dengan suaminya.
"My Babe... You're a strong girl!"
"Thanks..." Nandira memaksakan sebuah senyuman untuk Lian.
Lian melepaskan pelukannya ketika melihat Devon mendekati mereka.
"Hmm... Kita akan kembali bertemu besok pagi. Kau istirahat ya." Lian berkata dengan sedikit tidak nyaman. Sesekali matanya melirik Devon, "Selamat malam."
Nandira nampak tak menyadari raut Lian, dia sedikit tersenyum dan melambaikan tangan pada Lian yang berjalan ke arah mobilnya sendiri.
"Di sini dingin. Kita pulang?" Devon baru bersuara sambil merangkul Nandira. Nandira menoleh dengan kaku. Pria ini ... resmi menjadi suaminya sekarang.
Sementara Devon tersenyum penuh pengertian dan membawa Nandira masuk ke dalam mobil.
***
Nandira sekarang nampak lebih pendiam dari biasanya. Devon sudah berusaha mengajaknya berbicara untuk membuatnya kembali ceria. Tetapi tak ada satupun yang ditanggapi Nandira.
Gadis itu memang masih sangat sedih karna kepergian Bryan yang begitu cepat dan tak terduga. Devon hampir yakin Nandira tidak menangis karna sudah terlalu lelah menangis. Memang airmata tidak akan habis dan sama seperti rasa sakit itu amat sangat memilukan. Nyeri, perih, sakit, sedih, kecewa, marah, hancur... semua itu hanya sebagian kecil dari ungkapan rasa sakit yang dialaminya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You
Romance"Apakah mencintai seseorang itu adalah suatu kejahatan? Aku mencintainya, dan aku harus memilikinya!" *** "Aku mencintainya jadi aku melakukan apapun untuknya. Perasaan Cintaku lebih besar daripada keinginanku untuk memilikinya..."