BAB 21 ( Pilihan Tersulit )

615 23 0
                                    

I'm back ._. Hai, masih adakah yang membaca? Kalau ada alhamdulillah ^^ Aku nggak mau banyak cuap-cuap(?) langsung baca aja ya.

Don't forger for vote and comment *wink*

HAPPY READING ALL ♥

***

"Nandira! Kami bicara denganmu!"

Nandira tak menghiraukan kedua sahabatnya, gadis itu dengan cekatan menarik selimut tebal yang tadi diberikan Rosa untuknya. Tubuh mungilnya sekarang berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur king size milik Rosa.

"Dira!"

"Oh? Please! Demi Tuhan! Rosa, Lian, kumohon izinkan aku beristirahat. Aku sialan sangat lelah! Kalian paham!" Dengan keras tanpa sadar Nandira berteriak pada kedua sahabatnya. Sementara yang diteriaki itu terdiam. Tak pernah Nandira sekeras itu.

Tak mau melihat raut wajah keheranan dari dua gadis yang bersamanya, Nandira meringkuk di balik selimut. Sambil mengubah posisinya memunggungi Rosa dan Lian.

Kedua gadis cantik itu bertatapan, saling bertanya tanpa suara. Lian melepaskan jaketnya dan duduk di samping Nandira.

Tubuh mungil itu sepenuhnya sudah tertutupi selimut tebal. Ya, Nandira masih bergelung dengan selimutnya.

"Kau sudah hubungi suaminya?"

Rosa mengangguk, "Tadi aku sudah meneleponnya."

Rosa hanya ber-oh ria, kemudian beralih pada Nandira, "Dira, kau sudah tidur?"

Tak ada jawaban.

Lian mendelik pada Rosa. Rosa mengangkat bahu tanda tak tahu. Gadis itu berjalan ke sisi lain kamar. Mengambil air mineral di atas meja.

Lian bangkit, tetapi langsung terdiam. Gadis berkemeja biru kotak-kotak itu memejamkan mata untuk menajamkan pendengarannya. Butuh beberapa detik untuk meyakinkan diri.

Rosa menatap heran pada Lian. Dengan masih memegang sebuah gelas berisi air mineral, Rosa mendekati Lian.

Dia ingin bertanya dengan membuka suara tapi Lian mengangkat tangannya pada Rosa, mengisyaratkan padanya untuk diam.

Rosa yang bingung tapi tetap menurutinya.

"Dengar?" Lian berbisik kecil sekali, untungnya masih bisa didengar oleh Rosa.

Rosa ikut menajamkan pendengarannya, awalnya yang dia dengar hanyalah suara hujan dan sesekali petir. Tetapi setelah beberapa saat, akhirnya dia mengerti apa yang membuat Lian bersikap begitu.

Rosa langsung pucat pasi, matanya berkaca-kaca. Ditatapnya Lian dengan pandangan yang hanya bisa dimengerti oleh sahabatnya itu.

Sementara Lian nampak serba salah. Tak tahu harus berbuat apa.

Kedua sahabat itu saling bertatapan. Bertukar pikiran tanpa mengucapkan apapun. Saling tak tahu harus bagaimana. Yang ada mereka terdiam mendengarkan semua itu.

Isak tangisan halus dari sahabat mereka, Nandira.

***

"Aku bersumpah akan membunuhmu!"

"Ingatkan itu nanti, aku masih memiliki pekerjaan yang sejuta kali lebih penting."

"Brengsek kau!!"

"Mengumpat, heh?!"

"Diam!! Atau kurobek mulutmu itu!"

"Oh? Baiklah."

I Love YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang