BAB 4

1.1K 50 1
                                        

Aku sangat amatiran, jadi kuakui tulisanku sangat belum cukup dikatakan sempurna. :)

Terimakasih untuk yang membaca dan memberi vote. ♥♥♥

HAPPY READING

♡♡♡

"Jadi kau benar-benar yakin untuk menerima perjodohan itu?" Rosa bertanya pada Nandira selepas sahabatnya itu selesai menceritakan masalahnya.

Nandira mengangguk, "Ya, memang itu yang harus kulakukan." Katanya sambil menyerumput soda dingin milik Rosa.

Lian mengangguk kecil, "Aku harap dad mu yang tampan itu segera sembuh dan......" matanya berkedip nakal, "Kau bisa move on dengan pria bernama Devon itu." Ujarnya seraya tersenyum geli ketika mendapatkan pelototan dari Nandira.

"Aku juga selalu berdo'a untuk Dad mu, Nandira."

"Terimakasih." Nandira tersenyum.

Lian melirik Nandira, "Apa Devon tampan?" Tanyanya.

Pipi Nandira merona membuat kedua sahabatnya tertawa.

"Hey!" Lian duduk di samping Rosa lalu memperlihatkan layar Tab nya, "Tentu saja setampan ini membuat Nandira merona."

Rosa tergelak namun kemudian menunjukkan rasa kagumnya, "Devon Geovano! Pembisnis muda yang sangat handal juga tampan!" Serunya heboh sambil memperlihatkan tab pada Nandira yang melongo ketika tahu Devon Geovanno ada internet.

Sungguh? Dia seterkenal itu?

Lian berdehem, "Jadi apa kalian akan segera menikah?"

Mata Nandira memprotes ucapan sahabatnya itu, "Hey! Kami bahkan belum bertunangan." Jawabnya membuat sahabat-sahabatnya terkekeh geli.

"Jadi kalian akan bertunangan dulu," Rosa mengucapkan itu sambil mengangguk-angguk seperti memikirkan sesuatu, "Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia sekarang?"

Nandira tersenyum malu, "Kami baik-baik saja." gumamnya.

Rosa menggulung majalah milik Lian dan memukulkannya ke kepala Nandira, membuat gadis itu mengaduh dengan kesal.

"Kanapa kau memukulku?!" Ujar Nandira seraya mengelus-elus kepalanya. Sementara Lian sudah terbahak-bahak melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu.

Rosa tidak menunjukkan wajah bersalah membuat Nandira semakin kesal, "Aku tidak menanyakan KABAR kalian, tapi menanyakan HUBUNGAN kalian!"

Nandira mengerucutkan bibirnya lucu, masih merengut karna ulah Rosa, "Hubungan kami..." Nandira berpikir sejenak.

Dia sendiri bingung bagaimana menjelaskannya. Hubungannya dengan Devon...

"Kami masih belum terikat, tapi kami akan terikat," Jawab Nandira agak ragu, "Kaluargaku dan mereka sangat baik membiarkan kami melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih lanjut." Sambungnya lagi.

Lian dan Rosa mengangguk menerima penjelasan Nandira.

***

Nandira tersenyum lega setelah menutup teleponnya. Tadi Dad nya mengabarkan bahwa dia sudah sampai di tempat tujuan. Nandira berdo'a semoga semuanya lancar.

Dengan santai gadis itu masuk ke dalam dapur, mencari cemilan yang bisa dia nikmati.

Suasana di rumah besar ini sunyi tanpa Dad ataupun Savana. Di sini sekarang Nandira hanya bersama pengurus rumah tangga.

Setelah mengambil soda dingin dan beberapa makanan ringan, Nandira kembali ke kamarnya. Kamar itu berwarna pink lembut, warna kesukaan Nandira.

Sambil menikmati ketenangan ini, Nandira mencoba mempelajari lagi tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk skripsinya. Senyum kecil Nandira mengembang, Devon membantunya mengerjakan skripsi ini.

I Love YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang