Draft ini sudah dari 2023 so lets get it🤗
Maaf kesannya agak kaku, karena nulis dulu pas lagi buntu
Chief Operating Officer HWANGs Coop "Hwang Hyunjin"
Terlalu banyak kata untuk menggambarkan sosok dirinya. Putra tertua dari keluarga konglomerat kelas dunia. Elit yang menyelesaikan kelas bisnis diusia muda. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu menjabat sebagai Si Jenius dari perusahaan jasa audit, konsultansi, penasehatan keuangan, penasehatan risiko, pajak, dan hukum salah satu cabang dinegara ginseng Korea. Kemampuan manajemen yang akurat dan luar biasa dinilai tidak manusiawi.
Tapi hidupnya membosankan.
Terlahir tanpa cacat. Semuanya ada ditangan, tanpa ada banyak usaha atau kemauan. Bahkan memindahkan perusahaan dan berurusan dengan orang begitu mudah. Lika-liku dalam proses pertumbuhannya tidak ada kekurangan juga, seolah itu dibuat sempurna dari awal. Kehidupan yang penuh dan melimpah, mudah disukai orang lain.
Sudah memiliki semua hal yang dibutuhkan, tetap tidak ada yang menarik.
Tapi ada satu hal yang diinginkan tak bisa Hyunjin gapai untuk saat ini, walau dengan berbagai cara sudah dikerahkan. Tidak peduli apa yang di bayangkan, Hyunjin tidak dapat menemukan jawabannya, tidak ada bosan hanya memikirkan bahwa senyum manis milik seorang Lee Felix dokter residen bedah rumah sakit sangat susah didapat untuk komunikator ahli bahkan dalam mengeksekusi strategi yaitu Hyunjin sendiri.
"Apa harus mematahkan tulang iga sekalian?"
"Ya gak gitu juga, bodoh"
Hyunjin mendapat jitakan manis dari sahabat kecilnya Jaemin yang kali ini menjenguk. Hwang itu bisa jatuh ketika bermain snowboarding yang membuat tangan kanan bagian tulang hasta retak sedikit.
Sahabat lain nya datang, Sunwoo Kim si pilot pesawat terbang. Menyela pembicaraan dengan mendapat ancungan jempol dari yang mengusap usap kepalanya perlahan. "Kan lo bisa basa basi dulu, nanya tulang retak lo bisa retak lagi nggak, atau apa aja pantangan makan minum—"
"Kan lo bisa basa-basi dulu, nanya tulang retak lo bisa retak lagi nggak, atau apa aja pantangan makan minum—"
"Gue lebih butuh pantangan hati, Nu," sahut Hyunjin cepat, dengan gaya khas tengilnya yang bahkan bisa muncul dalam kondisi tangan digips. "Kalau bisa, gue butuh daftar makanan dan kata-kata yang bisa bikin Felix nyengir dikit. Minimal kayak senyum buat anak intern yang berhasil jahit luka dengan benang yang bener."
Sunwoo mendesah, duduk di kursi besi di sebelah ranjang pasien, menyilangkan kaki dan meraih apel dari meja. "Udah lo bilang jujur aja, Hyun. Lo naksir dia sejak awal, kan? Dari awal-awal lo donasi besar-besaran buat rumah sakit tempat dia kerja?"
"Eh, itu murni CSR perusahaan," ujar Hyunjin cepat, tapi mata dan nadanya menipu dirinya sendiri. "Dan... sedikit niat pribadi. Tapi nggak besar."
Jaemin menyenderkan badan ke dinding, melipat tangan di dada sambil mengangkat satu alis. "Kecil katanya. Lo sampe bela-belain belajar terminologi kedokteran, biar bisa paham kalau dia lagi ngomong tentang teknik debridement luka atau jenis fraktur terbuka. Yang mana, lo nggak punya kepentingan sama sekali selain... ya, dia."
Hyunjin tidak menyangkal. Tapi ia juga tidak bicara.
Karena memang itulah kenyataannya.
Felix bukan siapa-siapa ketika pertama kali mereka bertemu. Hanya seorang residen pendiam yang kerap berdiri paling belakang di antara rekan-rekan sejawatnya. Tidak pernah bicara kecuali diminta. Tidak menatap lama kecuali perlu. Tapi ada sesuatu dari cara Felix menundukkan pandangannya, dari cara ia menghela napas ketika menjahit luka pasien yang membuat Hyunjin merasa... dunia tak secepat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
Short StoryArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
