Felix sebagai omega dewasa yang hidup stabil namun sunyi, dan Hyunjin sang alpha muda yang menjadi pelunasan utang—dua pribadi asing yang dijodohkan oleh keadaan, dipaksa menyatu bak minyak dan air.
Felix tidak pernah bermimpi hidupnya akan begini. Usianya sudah menapak kepala tiga—stabil, mapan, dan tenang, seperti dinding putih laboratorium tempat ia bekerja. Sehari-hari ia menatap sampel, menganalisis sisa-sisa kehidupan yang tertinggal pada luka, darah, atau sehelai rambut yang tak sengaja tercabut oleh takdir. Ia tahu bagaimana kematian bicara lewat sel. Tapi ia tak pernah benar-benar mengerti bagaimana cinta bisa menyapa lewat dada.
Hidupnya biasa saja. Rumah bersih, jadwal rapi, cinta tak ada. Satu-satunya yang membuat dadanya berdebar adalah gelembung reagen yang meletup pelan saat bereaksi dengan bukti TKP. Selebihnya sunyi. Ia tak mempermasalahkan, sampai perjodohan itu datang seperti amplop tanpa alamat pengirim—jelas siapa penerimanya, tapi tak tahu dari siapa datangnya.
Hyunjin Hwang. Seorang Alpa yang berusia delapan tahun lebih muda. Seorang pembayar. Anak dari keluarga yang terseret utang begitu dalam hingga nyaris tenggelam. Ketika tak ada lagi pintu yang terbuka, kepala keluarga Hwang menyerahkan satu-satunya yang mereka punya: anak sulung yang menjunjung nama baik keluarga dan bekerja sopan di Kementerian Luar Negeri.
Maka di fine dining mahal itu, mereka duduk bersisian. Felix menyesap wine, Hyunjin menunduk sopan. Seperti tamu kehormatan dan pelayan, bukan dua calon pasangan hidup yang saling membagi hangat.
"Hyunjin," kata Felix memulai.
"Y...ya, Tuan Lee."
"Felix saja. Jangan terlalu formal. Kita bukan dalam forum negosiasi bilateral."
Nada itu datar, tapi ada senyum di ujungnya. Felix bukan orang yang hangat, tapi malam itu ia mencoba—untuk membuka jendela pada seseorang yang bahkan belum berdiri di halamannya.
"Jadi kamu dapat beasiswa S2 dan kerja di Kemenlu. Bagian apa?"
"Hukum dan perjanjian internasional."
"Hmm." Sesapan anggur mengisi jeda. "Membahas tentang?"
Di sanalah, untuk pertama kalinya, Felix menangkap kilatan semangat dari pemuda itu. Kalimatnya ragu di awal, namun mengalir jernih begitu memasuki topik pekerjaannya. Tentang perjanjian ekonomi, regulasi asing, dan menjaga kedaulatan negara dari jerat legalitas yang rumit. Bahasa teknis yang bahkan tak dimengerti sepenuhnya oleh Felix—tapi ia senang mendengarnya ketika Hyunjin mengungkap.
Ia tersenyum. "Ribet banget ya?"
Hyunjin menunduk malu. Pipi merah muda itu terlihat lucu di bawah lampu restoran mewah. Felix tersenyum kecil. Ada yang melunak di dalam dadanya—perasaan asing yang tidak pernah muncul saat membaca laporan autopsi atau menyeduh kopi pagi hari.
Sesudah makan, Felix menawarkan tumpangan. Hyunjin menolak pelan, tapi tetap diantar juga. Seperti kebiasaan yang pelan-pelan membiasakan sesuatu yang terasa ganjil.
Langkah mereka menyusuri basement gedung, mencari mobil yang terparkir entah di slot mana. Di sana, suara langkah dan gema tawa pelan menjadi teman. Felix bertanya, tentang negara yang pernah dikunjungi. Hyunjin menyebut tujuh, terakhir Italia. Hangat, katanya.
"Karena Korea lagi musim dingin, ya?" ledek Felix. Hyunjin tertawa.
"Santai aja. Anggap kita ini teman."
Kata itu, "teman," menggantung di udara. Seolah mereka berdua ingin mempercayainya—walau sama-sama tahu bahwa dalam pernikahan yang lahir dari utang, pertemanan pun butuh waktu. Waktu yang lama untuk bertumbuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
Storie breviArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
