Dengan hati yang berbunga-bunga menganggap masalah selesai saat itu juga entah bagaimana mereka sampai pada kasur Felix yang lumayan sempit, Hyunjin mengarahkan kepala penisnya tepat di hadapan lubang pantat Felix yang sudah basah dengan pelumas dari tadi. Sesekali, digesekkan kepala penisnya disana, membuat ada lenguhan dari diri Felix yang sudah dibuat tidak napak bumi.
Si rambut panjang sudah bersiap menerima, ia mencengkram bantalnya dengan erat, karena Felix tahu betapa parahnya Hyunjin jika bercinta, apalagi beberapa tahun diredam karena harus berjauhan.
Ada usapan tangan Hyunjin di sekitar selangkangan dan paha Felix, sekedar memberi rangsangan-rangsangan ringan. Bagi Felix, hal tersebut seperti
mengalihkan penantiannya dari masuknya penis raksasa si Hwang.
Perlahan namun pasti, Hyunjin mendorong masuk kepala penis itu ke dalam lubang. Masuknya penis tersebut membuat Felix mendesah pasrah, keadaan mereka sudah sadar bahwa besok harus bangun di jam enam bersiap morning report seperti biasa, baru kepala saja sudah membuat Felix mabuk akan cinta.
Hyunjin mendesis sesaat atas cengkraman dinding rektum Felix pada kepala penis. Lubang pantat si pirang benar-benar lapar, kalau begitu, Hyunjin akan memuaskan Felix sampai kenyang akan makanannya malam ini.
Satu hentakan kuat, Hyunjin mendorong masuk seluruh penis, ke dalam lubang pantat. Hal tersebut kini menindih prostat Felix yang mulai berkedut. Tubuh Felix mengejang sekilas akan sensasi dari masuknya penis besar itu, nafasnya sempat tercekat. Tidak ada nikmat selain ini, pikir Felix yang sudah sependek sumbu api.
Mabuk pada nafsu, Hyunjin mencengkram paha Felix dan langsung menggerakan penis secara membabi buta tidak ada ketukan hanya asal saja. Kepala penis itu terus menghentak ujung dari lubang, batangnya menggesek dinding rektum sekaligus prostat yang berkedut. Hyunjin hilang kendali tidak bisa mengenali diri, sensasi dari lubang si cantik membuatnya sangat amat bernafsu. Bahkan ada saatnya, Hyunjin akan melambatkan tempo namun hentakannya dibuat sangat kuat sampai Felix memekik dan menangis.
Felix jelas sudah sangat kacau. Tubuhnya terhentak akibat dari gerakan Hyunjin yang tak tau diri, dada dengan puting mengacung itu berguncang, penisnya yang lebih kecil ereksi terombang-ambing dan lubang pantatnya benar-benar dihabisi oleh penis Hyunjin Hwang. Karena adanya manipulasi nafsu atau otaknya yang dipenuhi rasa nikmat tiada tara, Felix merasa penis itu menyentuh perutnya, seakan akan, Hyunjin bisa mengatur ulang seisi perutnya dengan tempo penis tersebut. Felix tak bisa berbuat banyak selain sesegukan mendesah atau menangis meminta maaf— entah untuk apa. Suara kulit yang bertemu mengisi kamar yang katanya soundproof tersebut, sangat erotis dan vulgar dari pada kemarin di hotel berbintang.
Cengkraman Felix sendiri terkadang menguat, terkadang melemah pada bantal bebeknya yang berwarna kuning, matanya sayu dan hampir menutup. Hyunjin definisi sangat tampan dan menakutkan jika nafsu sudah mencapai puncak kepala yang masih ciri khas tentara— buzzcut kasar yang tidak bisa Felix jambak seenaknya. Akan tetapi, Felix menyukai Hyunjinnya yang sekarang sangat tampan, Felix ingin menciumnya, tapi tak sanggup beranjak sama sekali. Sebagai penerima ia hanya bisa pasrah ketika dipakai begitu saja.
Felix dapat melihat dari pantulan mata si Hwang, kedua dada nya berguncang, rambut pirangnya agak basah dan berantakan, wajahnya berubah-ubah ekspresi antara keenakan, kewalahan dan teler dan serta suara erotis yang ia keluarkan. Hyunjin juga membuat Felix malu malu tapi ke enakan dengan memperhatikan semua itu selagi penis si Hwang bergerak tak terganggu dan stabil dalam tempo yang tak berampun dibawah sana yang becek penuh candu.
Ekspresi yang lebih tua sangat cabul, membuat bulu kuduk Felix berdiri tegak, membuatnya merinding. Namun, bukan karena takut, tapi karena ia semakin terangsang akan hal itu. Felix menangkup kedua pipi Hyunjin, ia mengusap-usapnya lembut, ditemani desahan yang tak karuan. Momen itu terlihat panas sekaligus romantis, tapi Hyunjin mungkin punya rencana yang lain.
"Hyunnn pel..lan!" Erang Felix seraya mencengkram kuat seprai kasur yang sudah kusut itu, ketika Hyunjin dengan sengaja menggesek-gesekan penis besar itu ke prostatnya tanpa ampun. Kepalan tangan Felix bahkan sampai memutih. Kaki dan pahanya gemetar pada tiap hentakan sendiri.
"iya ai ini pelan pelan." Bisik Hyuhjin, di sela sedikit dari desahannya sendiri, karena lubang Felix benar benar mencengkram penis dengan baik. Tapi cengkraman pada penis itu malah membuat pinggul Hyunjin bergerak lagi semakin laju, mencari sensasi lama yang di nanti nanti.
"uhhh! Unh! E-Eungh! Hyun!" Racau Felix dengan lantang, ia sudah sangat tak karuan, pikirannya berlarian kemana-mana saat ini. Rasa nikmat di tubuhnya terlalu dahsyat. Felix mengalihkan tangannya untuk memeluk punggung Hyunjin, ia perlu pegangan yang lebih kuat. Dengan sigap, Hyunjin membalas pelukan itu, ia mendekap mantan yang katanya bukan tanpa mengurangi laju hentakan. Penis Felix yang ereksi itu bergesekkan dengan perutnya sendiri dan pakaian Hyunjin kemarin.
"aku disini ai aku disini. Rasanya sangat nikmat, kan?" Ucap Hyunjin dengan lembut, sangat berbanding terbalik pada tindakan yang makin membuat Felix panik.
"hyunjin saakiitt!" Sahut Felix, kepalanya mulai terasa pusing karena nikmat yang terlalu banyak di tubuhnya yang sudah sangat sensitif. Stimulasi yang tidak terlalu baik bagi syaraf otak karena bisa membuat bodoh seketika bagi Felix yang sudah mau menyelesaikan residensinya.
"Tidak ada yang boleh seperti ini kepadamu selain aku ya!" Bisik Hyunjin menekan kata perkata, sebelum tiba-tiba menarik keluar utuh penis raksasa dari lubang Felix yang merasa kosong di lubangnya. ada rengekan bingung dan penuh nafsu. Lubang pantat itu berkedut-kedut tak tahu malu. Ketika Felix hendak protes kembali, ia dikejutkan oleh masuknya lagi penis Hyunjin dengan hentakan yang sangat amat kuat tanpa peringatan disini.
"AAHHHH! HYUNN!" Felix menjerit dengan kepala mendongak dan cakaran pada punggung Hyunjin makin dalam sejak tadi. Mungkin akan meninggalkan bekas sedikit.
Felix merasakan kedutan dinding rektukmnya memijit-mijit penis Hyunjiin makin jadi, hal itu membuat Hyunjin ikut merasa kewalahan. Rasa sempit serta cengkraman dari lubang pantat membuat Hyunjin terkadang melenguh pasrah merem melek ke enakan, Tiap hentakan yang Hyunjin usaha lontarkan mengirimkan sengatan listrik pada diri si Hwang. Seakan dihisap.
Setelah melalui beberapa hentakan yang kuat tanpa ampun, Hyunjin dan Felix mencapai orgasme mereka secara bersamaan. Lenguhan keduanya bersatu di malam yang besok harus masuk pagi itu. Penis Hyunjin yang terkubur dalam dalam, menyemburkan sperma segar ke dalam lubang pantat Felix yang mencengkram, mengisinya sampai penuh dan bahkan merembes keluar, membasahi seprai. Lalu Felix mengejang sesaat, selama beberapa kali, pinggulnya terangkat dengan kaki yang nyaris berjinjit. Penis yang ereksi itu memuncratkan sperma ke pakaian Hyujin dan perutnya sendiri. Matanya memutih naik.
Kedua tangan Felix melemah melepas pelukannya dari tubuh Hyunjin, ia terbaring lemas di atas kasur bersama tubuh yang gemetar hebat, usai orgasme menghantam. Terlalu kuat, orgasme tadi terlalu kuat dan banyak, tubuh Felix sudah cukup hebat bisa tetap sadar sampai sejauh ini.
Tidak ada yang berniat melepas taut, cumbuan atas apresiasi Felix dapat dengan badannya yang masih gemetar hebat, perutnya mencuat sedikit karena sperma Hyunjin. Atau entah karena diriinya yang begitu kurus kering.
"Hyun.. cabut..." dengan nafas gemetar Felix memberi perintah, menyuruh Hyunjin menjauh dengan merapa perut kotak kotak lawannya.
"Sebentar ai..." ada genjotan pelan dengan getar badan. Felix tidak sanggup distimulasi banyak banyak. "Aku mencintaimu—" kata si pemberi yang dapat penerima dengar sebelum pingsan.
"Oh poor thing" dan dipakai semalaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
NouvellesArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
