Aku gak tau apa yang aku tulis, kalian baca aja. Karena ini cerita suka suka 😭🙏🏻
Felix tidak tau bagaimana ceritanya ia bisa terbaring di kasur yang sama dengan seorang Hyunjin Hwang, residen tahun pertama bedah tulang ortopedi paket lengkap dengan kacamata dan kepala botaknya seingatnya begitu dan beberapa hal lain yang tidak bisa dibicarakan. Terbaring pada kasur lembut hotel bintang lima tepat disebrang rumah sakit, saat menimba ilmu untuk jenjang spesialisasinya.
Ada rasa sakit pada bagian belakang, nyut nyut dan berkedut, sudah bisa ditebak apa yang mereka lakukan tadi malam. Tampak berhamburan dan alaram Hyunjin menyadarkan. Si Hwang itu mengerjap dari posisi tengkurap tepat disamping Felix yang sudah terduduk seraya menutup dada penuh dengan cupang.
"Yaa hyung—" ada suara serak serak basah, Felix menyadari percakapan Hyunjin itu dengan siapa. "Sekarang, bukankah jadwalku hari ini libur—" ada pernyataan nada pasrah karena keadaan Hyunjin masih Junior dari Minho yang jadi residen tahun ke empat di bagian yang sama.
Hyunjin belum menyadari dan Felix sudah siap untuk bangkit dengan menarik selimutnya sendiri. Tetapi secara bersamaan diwaktu berbarengan, Hyunjin menjadi telentang setelah telpon dimatikan, kepalanya ter arah pada Felix yang siap untuk berdiri tetapi dimulai dengan mengikat rambut hitam panjangnya sendiri.
"Ai!" Nada Hyunjin naik satu oktaf. Felix senior Hyunjin karena residen tahun ke empat bedah syaraf. Tapi panggilan tadi sudah ada sejak mereka pacaran saat kuliah semester pertama. Mereka mantan yang tidak pernah bertemu sejak— tidak Felix hitung lamanya.
Hyunjin terduduk di kasur, terburu buru bangkit dan memakai kacamata beningnya seraya melihat Felix yang sudah menggerakkan tangan dengan gestur "jangan pedulikan aku, urus saja dirimu"
Felix tau kalau bagian belakangnya nyeri dan berdenyut, tapi tidak mungkin sampai dia jatuh terduduk ketika langkah kedua hendak ke kamar mandi membersihkan diri. Benar benar jatuh terduduk di karpet lembut hotel— tertutup selimutnya sendiri.
Ada suara gedebuk keras dan Felix mendapati Hyunjin mengenakan pakaian dalam hitam dan bertelanjang dada didepannya, "Ai, anu— itu—" tergagap dan tak tau mau bilang apa. Felix tidak terlalu peduli dan berusaha bangkit sendiri. Tapi semuanya sia-sia tenaga nya tak bersisa, kemarin sebelum segala galanya terjadi.
Ia telah membantu beberapa operasi besar professornya, mengerjakan disertasinya, mengisi dua puluh rekam medis dan menggak habis segelas bir besar diakhir. Karena dijadwalkan libur akhir pekan dengan baik. Tapi hanyalah tapi, residen bedah berkumpul dikedai ayam depan rumah sakit dan makan minum serta yang tidak bisa Felix ingat hingga berakhir bersama Hyunjin.
Hwang Hyunjin usia dua puluh sembilan tahun, yang barusan menggendong dan membantu Felix untuk masuk ke bathup. MANTANNYA SENDIRI.
"Ai maaf, tapi makan pagi sudah dipesan dan akan datang sebentar lagi. Aku buru buru karena dipanggil prof kim untuk hadir dalam Seminar yang akan diadakan dalam sepuluh menit." Itu yang Hyunjin ucapkan setelah mandi disamping Felix dengan shower mengalir, keluar kamar memakai baju bau alkohol kemarin dan membungkuk sembilan puluh derajat pamit pada Felix yang berendam di bak penuh busa dengan mainan bebek warna kuning. Telanjang bulat.
Tidak ada urusan yang harus dilakukan bersama, tidak ada bertemu atau bertegur sapa seperti sebelumnya. Maka keesokan harinya ketika Felix berdiri didepan pintu ruang residen bedah syaraf tahun ke empat Hyunjin Hwang mencegat dengan hati-hati.
"Ai, kemarin..." kata kata keramat itu pasti akan keluar dari mulut Hyunjin tanpa filter yang membuat seluruh residen bedah, entah bagian mana saja akan mendengar percakapan mereka. Bahwa habis tidur bersama.
Maka dari itu dengan cepat Felix menarik Hyunjin ke arah lain, tempat yang lebih sepi. Ada bau disenfektan dari tubuh Hyunjin. Muka berminyak tanpa terkecuali.
"Kamu mau biarin semuanya tau..."
Ada kenyeritan dahi dari Hyunjin yang mungkin tidak mengerti. Tapi Felix masa bodoh dan menanyakan keperluan Hwang apa disini. "Ada apa?"
"Salep luka?" Tanya Felix
Hyunjin mengangguk dengan baik, "lukanya, kemarin berdarah..."
Memejamkan matanya sebentar, tanda paham. Felix mengangguk tanda setuju. "Oke baiklah" dan memgambil salep itu kemudian berlalu dari hadapan si Hwang begitu saja. Karena jelas kupingnya sudah memerah semerah tomat matang.
Entah malaikat mana yang mengabulkan doa siapa, Felix terus bertemu Hyunjin dengan tidak disangka sangka, apartement depan Felix penuh kardus dan barang seperti ada yang akan pindah, benar! pucuk dicinta ulam pun tiba. Tetanga depan Apartement yang menjadi alasaan kenapa begitu banyak sekali barang adalah seorang Hyunjin Hwang.
"Oh jadi..." Felix mengangguk acuh tak acuh. Pada Hyunjin yang terkejut dengan kaos putih oblong mandi keringat, dan topi menutupi buzzcut pendek yang dikebelakangkan. Kacamata kali ini tidak ada karena memakai lensa kontak.
Hyunjin yang dengan clumsynya terkaget dan menyuruh Felix menunggu sebentar didepan pintu apartemennya sendiri. "Sebentar Ai, sebentar..."
Hyunjin menabrak beberapa box yang membuat kaki nya sakit dan pergi menghilang kedalam apartement sebentar seraya mengambil kue beras meras untuk diberikan kepada Felix yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Untuk tetangga depan rumah" kata kata itu begitu tulus walau penampilan Hyunjin bertolak belakang dari tampilan si residen baru yang terkenal pintar nan kaku.
"Okay terimakasih banyak, eum lanjutkan aja"
"Maaf kalau berisik..."
"Its okay, kamar aku soundproof"
Menutup pintu apartement nya dengan perlahan. Felix dapat dengan sadar bahwa Hyunjin meihatnya dari belakang, masuk dan menutup pintu dengan baik. Maka lemahlah kaki Felix ketika pandangan menusuk seperti serigala lapar itu hilang.
Panas dingin, kuping Felix kembali memerah. Penjelasan singkat adalah, Hyunjin merupakan mantan terlama Felix saat kuliah, mereka melakukan semuanya pertama kali bersama sama, dan putus karena komunikasi saat intern yang tidak baik dan Hyunjin memilih untuk wajib militer dan mengabdi menjadi tentara beberapa tahun setelahnya. Karena itu jarak antara mereka tercipta begitu besar. Hyunjin juga telat residennya karena beberapa hal.
Tapi panggilan itu tidak pernah tanggal.
Memorinya berputar kembali ketika ia pertama kali melihat Hyunjin jadi residen pertama, sebisa mungkin menghindar. Hyunjin mungkin mengerti dan menghargai. Sedangkan kemarin lusa dengan bodohnya Felix meronta kepada Hyunjin minta ampun saat mereka bercinta terlintas jelas dengan resolusi gambar paling jernih yang pernah ia punya. Bagaimana tampilan saat diatas Felix dengan muka merah berkeringat, bisep besar pas yang digenggam. Beberapa bekas jahitan dan ada luka tembak di perut sebelah bawah kanan. Makin membuat panas dan jelas ada rasa sakit serta perih saat saat paling kasar yang pernah ada kembali terulang. Pinggangnya dipegang agar tidak berontak, dan Hyunjin tentu saja menumbuk tepat pada nikmat.
Membayangkannya saja membuat rasionalitas Felix hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
Historia CortaArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
