Lampu studio tinggal satu yang menyala. Sisa kelelahan latihan menari masih terasa di ujung jemari dan tumit. Keringat sudah mulai mengering di leher dan pelipis mereka, tapi tak satu pun dari keduanya beranjak meninggalkan lantai cermin itu.
Hyunjin duduk di depan kipas angin portable yang selalu ia bawa sendiri, sembari meneguk air mineral. Di sebelahnya, Felix menggulung handuk kecil dan meletakkannya di tengkuk. Napas mereka tenang, tapi tidak hati mereka.
Sudah tahun keberapa mereka mengenal satu sama lain? Lima? Enam? Entahlah. Yang jelas, terlalu lama untuk sekadar disebut "teman", tapi terlalu takut untuk menyebut satu sama lain sebagai "lebih dari itu".
"gak langsung pulang, Lix?" suara Hyunjin pelan, nyaris larut dalam dengung kipas.
Felix menoleh, matanya masih menyimpan sisa lelah dan... ragu. "Nunggu kamu sekalian deh. Katanya kamu gak enak badan kan tadi."
Hyunjin tersenyum tipis. Dia selalu begitu—tersenyum untuk menutupi betapa hangat hatinya saat Felix memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Bahkan soal pusing ringan setelah latihan.
"perhatian banget sih, padahal cuma teman," Hyunjin menggoda pelan, tapi nadanya... nyaris terdengar getir.
Felix ikut tersenyum, namun tak menjawab. Kadang si Lee merasa, jika bicara terlalu jujur, sesuatu di antara mereka akan rusak. Padahal, setiap sentuhan bahu, setiap saling tatap diam-diam di panggung, setiap botol minum yang dibagi—semuanya adalah bentuk cinta kecil yang diam-diam tumbuh, tak bernama, tak juga berani diungkapkan.
"Hyun..." Felix akhirnya bicara.
Hyunjin menoleh. Mata mereka bertemu.
"Kamu pernah ngerasa nggak... nyaman banget sama seseorang sampai takut kehilangan, tapi kamu juga takut kalau perasaan itu berubah, semuanya jadi aneh?"
Pertanyaan itu menggantung seperti debu di bawah cahaya. Hyunjin mengangguk pelan. "Setiap hari."
Diam.
Lalu mereka tertawa kecil. Tertawa untuk menyamarkan betapa berat kalimat itu sebenarnya.
"Aku takut," lanjut Hyunjin, suaranya lebih rendah. "Takut kalau di coba untuk jadi 'lebih dari teman', terus ternyata gak bisa balik lagi jadi teman. Padahal sekarang ini... orang itu udah segalanya."
Felix mengangguk. Hatinya bergemuruh, tapi ia genggam perasaannya erat-erat. "Aku ngerti. Tapi kadang aku juga mikir... bukankah mereka udah bertingkah kayak pasangan dari dulu? Kayak yang gak mau ngaku aja."
Cerita yang dibawa Felix entah itu menyindir mereka atau siapa. Hyunjin tak bisa menyangkal. Tapi di balik takut itu, ada sesuatu yang terasa manis. Seperti harapan kecil, yang meski tidak diumumkan, tetap hidup dengan caranya sendiri.
Malam itu mereka tidak saling peluk, tidak juga mencium.
Tapi untuk pertama kalinya, mereka duduk bersebelahan lebih dekat dari biasanya, tanpa lengan panjang hoodie atau batas gurauan. Tak ada pengakuan, tak ada janji. Hanya dua orang yang mulai belajar menerima bahwa cinta itu... tak selalu harus diumumkan keras-keras.
Kadang, cinta cukup tumbuh dalam diam, selama kedua hati tahu: kita ada, untuk satu sama lain.
—-
Malam itu mereka baru selesai tampil di kota ke-8 dalam rangkaian tur dunia. Lampu panggung sudah mati, penonton sudah pulang, tapi riuhnya masih terpatri di dada. Mereka mengganti baju, melepas sepatu, dan duduk terdiam di ruang tunggu. Keringat masih mengalir, tapi tak ada yang lebih menyita perhatian Felix selain pandangan Hyunjin yang menunduk dalam diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
Short StoryArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
