Kita buat mereka menekuni pekerjaan lain😭🤚🏻
Di sebuah bangunan megah berlapis batu putih gading, terletak di pusat kota Seoul yang tak pernah benar-benar tidur, Hyunjin menjalani harinya dalam diam yang teratur. Ia adalah pegawai negeri di Divisi Komunikasi Strategis di bawah Kantor Kepresidenan Korea—sebuah jabatan yang tak pernah dia banggakan di media sosial, tapi ia kerjakan dengan hati-hati, seolah setiap paragraf yang ia susun bisa mengubah arah angin negara.
Wajahnya tenang, pakaiannya selalu rapi, dan langkahnya selalu tahu arah. Tapi kadang, saat jam makan siang datang, Hyunjin menatap jendela dengan tatapan kosong, seperti seseorang yang masih menunggu sesuatu... atau seseorang.
Felix, di sisi lain, lebih sering terlihat berlari kecil di antara koridor kementerian. Sebagai asisten pribadi Menteri Lingkungan Hidup yang baru dilantik, ia bukan hanya membantu merapikan jadwal dan laporan, tapi juga ikut turun ke lapangan, menghadiri rapat-rapat gabungan, dan sesekali... mengurus urusan komunikasi antar lembaga.
Itulah alasan pertama mereka bertemu.
Rapat Koordinasi Gabungan Kementerian dan Kantor Kepresidenan.
Sebuah ruang besar, penuh jas resmi, folder biru tua, dan suara-suara yang terlalu politis untuk bisa disebut manusiawi.
Felix datang lima menit lebih awal, duduk di ujung meja. Rambut pirangnya rapi, wajahnya penuh ketenangan yang kontras dengan gelisah di matanya.
Hyunjin datang tepat waktu, menyimpan map di depannya dengan sikap tenang, lalu mengangkat pandangan.
Dan untuk sepersekian detik, dunia politik yang dingin dan formal itu terasa berubah suhu. Tatapan pertama mereka tidak membicarakan kebijakan.
Tidak membahas cuaca atau anggaran.
Hanya sebaris sunyi yang terasa seperti pengakuan: Ah, dia di sini.
Mereka bertemu lagi seminggu kemudian, saat Felix harus menyerahkan draf kerja sama proyek konservasi hutan pada tim komunikasi.
Hyunjin yang menerima berkas itu. "Kamu yang menulisnya?" tanya Hyunjin pelan, matanya menatap baris-baris tulisan itu seperti puisi.
Felix mengangguk. "Sebagian. Aku bantu edit gaya bahasanya."
Hyunjin tersenyum kecil. "Kalimat-kalimatmu terasa lembut... agak aneh untuk dokumen negara. Tapi menyenangkan dibaca."
Felix sedikit tersipu. "Aku kira... hutan juga perlu dibicarakan dengan lembut."
Dan sejak hari itu, mereka mulai saling mengirim pesan singkat. Tentang hal-hal remeh seperti kapan musim hujan akan datang lebih awal, berita tentang rusa liar yang muncul di pinggiran kota, atau kopi paling enak di dekat Gedung Biru.
Hyunjin bukan tipe yang jatuh cinta dengan cepat. Tapi bersama Felix, waktu seperti kehilangan dindingnya.
Obrolan mereka tumbuh perlahan, seperti tanaman di musim semi—pelan, tapi pasti menjalar ke mana-mana. Menyentuh hal-hal pribadi, menyusup ke celah-celah sunyi yang jarang disentuh orang lain.
Suatu malam, setelah konferensi bersama yang melelahkan, mereka duduk di bangku taman belakang gedung pemerintah yang sudah sepi.
Felix menatap langit, pelan. "Kadang aku merasa dunia ini terlalu besar. Dan aku terlalu kecil untuk benar-benar membuat perubahan."
Hyunjin menoleh padanya, lalu tersenyum. "Kamu tidak perlu mengubah dunia sendirian. Cukup pastikan tempatmu berdiri menjadi sedikit lebih baik. Dan kamu sudah melakukan itu."
Felix menatap mata laki-laki itu lama—mata yang jernih dan tenang seperti sungai di pegunungan.
"Aku senang kita dipertemukan."
"Bukan kebetulan," jawab Hyunjin. "Kita dipertemukan karena dunia juga butuh ruang untuk hal-hal yang lembut."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARENA
ContoArena punya Hyunjin dan Felix Just Oneshoot or Twoshoot Au 👄 kapalgetek ©
