Di Antara Peluru yang Tak Pernah Selesai

648 55 8
                                        

Mereka pernah hidup sebagai sandi rahasia. Kini mereka hidup sebagai nama baru, di kota kecil yang dunia pun lupa. Luka mereka tak pernah sembuh.
Tapi cinta mereka tetap keras kepala, lebih keras dari peluru, lebih keras dari pengkhianatan, lebih keras dari kematian. Karena pada akhirnya, yang mereka cari bukan kemenangan. Tapi pulang. Pulang ke satu sama lain.

Sebuah Cerita tentang Peluru, Janji, dan Lelaki yang Tak Pernah Bisa Saling Lepas

"Jangan lari terlalu jauh dariku, Felix. Kau tak akan pernah benar-benar bisa kabur dariku." — Hyunjin, dalam bisik di tengah medan api.

Langit malam di perbatasan Ukraina itu tak pernah benar-benar gelap. Ada garis merah tipis dari rudal-rudal sisa, ada suara dentuman yang meledakkan jarak, dan ada tubuh-tubuh yang jatuh tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Felix berdiri di balik reruntuhan dinding yang separuh hancur. Tangan kirinya berdarah, peluru menggores kulit di antara jari-jarinya, tapi ia tetap memegang pistol Glock 19 seolah hidupnya tinggal tersisa satu tujuan: bertahan cukup lama untuk kabur.

Lencana MI6 yang diselipkan di balik saku rompinya sudah tak berarti apa-apa malam ini. Bendera negara pun tak lebih dari kain sobek yang bahkan tak sanggup menahan udara panas dari bom. Yang tersisa hanya nama panggilan di radio: Aegis-04.

Di radio yang nyaris kehabisan baterai, suara itu kembali memanggil.

"Aegis-04, ini Phantom-13. Lokasimu?"

Felix terdiam. Suara itu.

Suara yang sudah ia kubur bertahun-tahun lalu di bawah setumpuk rahasia antar negara. Suara yang tak pernah berubah, bahkan saat berubah nama, kewarganegaraan, atau seragam.

Hyunjin.

Hyunjin yang sekarang adalah CIA Special Ops.

Hyunjin yang dulu adalah lelaki yang pernah mencium keningnya dengan tangan gemetar karena takut kehilangan.

Hyunjin yang kini jadi musuh di atas kertas, tapi tetap satu-satunya alasan Felix belum menekan pelatuk ke pelipisnya sendiri.

"Aku di zona merah. Arah timur. Jangan datang ke sini."

"Terlambat, sunshine."

Suara itu diikuti oleh ledakan granat keempat malam ini. Felix menunduk, napasnya sesak. Bukan oleh luka, tapi oleh sisa-sisa perasaan yang seharusnya sudah mati saat mereka saling meninggalkan di perbatasan Budapest tiga tahun lalu.

Langkah kaki berat menghampirinya. Boot tentara menginjak genangan darah tanpa peduli. Dan di balik asap, Felix bisa melihatnya.

Hyunjin.

Masih hidup.

Masih tampan dengan darah musuh di lengan baju.
Masih menatapnya seperti dulu, seolah perang ini tak pernah benar-benar ada, seolah mereka masih dua pemuda bodoh yang saling menulis kode sandi di balik kartu pos.

"Kau selalu keras kepala." Hyunjin mengangkat senjatanya, tapi bukan ke arah Felix. Tiga tentara bayaran yang menyelinap di belakang Felix tumbang sebelum sempat menjerit.

"Aku bukan datang untuk menolong MI6. Aku datang karena kau di sini."

Felix terkekeh pahit.

"Lalu apa? Membawaku pulang ke CIA? Menukar aku dengan rahasia nuklir? Hyunjin, jangan jadi lebih bodoh dari yang aku tahu."

Hyunjin maju, menurunkan senjata.

Darah menetes dari dagunya sendiri. Tangannya meraih saku jaket Felix, menarik benda kecil yang hampir terjatuh — liontin besi dengan nama mereka terukir samar: "Aegis-04 / Phantom-13 — Until The End."

ARENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang