Semenjak ia tau Agam berbuat mesum dengannya, Maza selalu menghindari pria dewasa itu.
Ditambah mereka saat ini sedang mengatar Altan ketempat kakek neneknya karena mereka baru saja selesai membuatkan mini Zoo untuk cucu semata wayangnya itu.
Altan dengan digendongan Agam dan Maza yang membawa tas kecil milik Altan. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang sedang berkunjung ke rumah orang tuanya.
Kedua orang tua Agam juga tampak kaget melihat sosok asing yang berada disamping putra dan cucunya itu, jika seorang pelayan pasti akan berjalan dibelakang keduanya.
"Granpa..... Granma.....!" Teriak Altan lalu memberontak turun dari gendongan Agam.
Anak kecil itu berlari kemudian diangkat oleh kakeknya yang masih tampak gagah itu.
"Cucu granpa" sambutnya dengan bahagia.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya ibunya kepada Agam.
"Seperti yang mommy lihat, Agam sehat"
"Syukurlah" jawabnya kemudian pandangan matanya beralih kepada Maza.
"Kak Maza....."panggil Altan. "Granpa, granma, kenalin, ini kakak cantiknya Altan"
Maza hanya tersenyum canggung mendengar celotehan itu dari mulut Altan, selalu saja anak ini membuatnya malu. Namun jika ingat uang jajan Altan yang sering dia korupsi, ia mengenyahkan pikiran buruknya itu dan memilih tersenyum palsu.
"Kakak cantik?" Binggung orang tua itu.
Altan mengangguk. "Pacalnya Altan" imbuhnya yang membuat Maza ingin memukul kepalanya.
"Dia pengasuh Altan, mom, dad"
"Pengasuh?" Gumam ibunya sambil meneliti wajah Maza yang tampak tak asing baginya. "Wajahmu sepertinya tidak asing, apa kita pernah bertemu?" Tanya ibunya Agam.
Maza tidak pernah mengingat wajah cantik itu meski usah berusia lanjut. "Mungkin anda pernah ke cafe tempat saja bekerja dulu tante" jawabnya sopan.
"Ah sudahlah mungkin iya, sudah lama atau baru saja mengasuh Altan?"
"Sudah satu bulan lebih mom, Altan sendiri yang nemuin Maza pas kemarin perusahaan buka lowongan kerja" jawab Agam.
"Baguslah kalau Altan akhirnya menemukan pengasuh yang cocok" ucapnya kemudian mereka masuk sejenak lalu Agam dan Maza kembali karena Altan akan menginap 2 hari dirumah kakek dan neneknya.
Maza ingin ikut Altan saja namun Agam menyeretnya ikut pulang dengannya.
Maza ketara sekali menghindari Agam, ia takut majikannya itu mesum dengannya lagi ditambah postur tubuhnya yang tinggi besar pasti Agam akan dengan mudah mematahkan tulang tulangnya jika berniat memperkosanya.
"Ngapain kamu pelototin saya kayak gitu?" Binggung Agam karena sedari tadi Maza terus menatapnya.
"Siapa yang pelotitin bapak!" Elak Maza padahal ia baru saja membayangkan dirinya tengah diperkosa oleh Agam.
"Setan" jawab Agam.
"Loh loh, bapak ngatain saya setan?" Ucap Maza tudak terima.
Agam melirik tajam wajah sok sinis itu kemudian mengusap wajahnya kesal.
"Terserah terserah"
"Loh....ya gak bisa gitu dong pak"
"Terus mau kamu apa sih Za?, kamu yang pelototin saya, tapi kamu juga yang tidak terima"
"Tapi tapi....."
DUUUUAARR.
Suara gemuruh petir terdengar begitu menyeramkan, musim hujan telah tiba, dan sepertinya akan terjadi hujan dan badai di jalan tol tempat mereka melintas saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agam Semesta (End)
Teen FictionAgam Adskhan Semesta. pria lajang berdarah Turki-Indonesia berumur 30 tahun, dikagetkan dengan kemunculan bayi imut berjenis kelamin laki laki diantar seseorang wanita paruh baya kerumahnya. Setelah tes DNA anak tersebut memanglah putra kandungnya. ...
