Chapter 1

66.6K 4.2K 381
                                        

5 tahun kemudian.

Anak kecil berumur 5 tahun itu tersenyum lebar menampakkan giginya yang ompong membangunkan sang daddy yang masih terlelap.

"Daddy Daddy bangun....." dua tangan mungil itu menggoyangkan lengan sang daddy dan mempuat pria tampan itu membuka matanya perlahan.

".....Daddy bangun.....!" Ucapnya sekali lagi sehingga sang Daddy harus duduk dan mengangkat putra semata wayangnya itu kedalam pangkuannya.

"Ada apa baby, ini masih terlalu pagi"

"Hali ini Altan masuk TK Dad, Altan ingin mandi sama daddy"

Agam terkekeh mendengar celotehan cadel putranya itu. "Baiklah, ayo mandi tampan"

Anak kecil itu bersorak didalam pangkuan sang daddy. "Jadikan Altan pecawat daddy"

"Are you ready boys?"

"Ayey captain!"

Agam membopong Altan dengan posisi tengkurap sambil menirukan suara pesawat menuju kamar mandi.

Keduanya tampak bahagia meski Agam dulu sempat membenci putranya karna sangat merepotkan.

Namun seiring berjalannya waktu, Agam sadar, Altan adalah darah dagingnya, pewaris singgasana yang ia dan ayahnya rintis.

Agam kini begitu menyayangi putranya itu dan masih tak bisa jauh jauh darinya karna kebiasaan demam itu masih berlanjut sampai Altan berumur 5 tahun saat ini.

Setelah mengantar kesayangannya ke sekolah TK swasta yang tampak mahal itu. Agam langsung menuju kantor dan mengatasi beberapa masalah disana.

.

Riuh beberapa pendemo termasuk Maza dimana ia baru saja habis merayakan kelulusannyanya.

Tempat tinggalnya akan segera digusur, sedangkan ia belum mempunyai pekerjaan tetap. Uangnya hanya cukup untuk beli bensin motor maticnya dan makan untuk hari ini saja.

"Akh. Sial, baru juga gue lulus, masa iya harus ngembel" keluhnya, dimana ia segera mengemasi pakaian lusuhnya dan beberapa alat elektronik yang sekiranya bisa ia jual.

Dengan jalan mengendap ngendap, Maza menghindari ibu kostnya yang sepertinya ingin menagih uang kost yang sudah menunggak dua bulan itu.

Dirasa para pendemo itu akan kalah telak, Maza memilih kabur lebih dulu, karna ia juga tak mempunyai uang sepeserpun untuk membayar tunggakan kostannya. Dan ia memilih meninggalkan selembar surat diatas kasurnya.

Maaf bu, nanti kalau saya kaya, saya akan bayar ibu 10 kali lipat. Anggap saja ibu sedekah untuk anak yatim piatu seperti saya ini biar ibu dipermudah masuk surganya.

Setelah selelai menulis surat itu, Maza pergi kekota besar dan mencoba melamar kerja apa saja untuk dia bisa makan.

Dirasa laptopnya sudah tak ia butuhkan lagi, Maza menjualnya untuk mendapat kost baru.

Untung saja laptop sekennya masih laku dua juta lima ratus ribu, Maza mencari kost termurah dan sisanya untuk bertahan hidup sebelum ia mendapat pekerjaan tetap.

.

Agam menyilangkan kakinya dan menatap tajam para bawahannya yang mana uang kompensasi tempat tinggal warga malah dikorupsi besar besaran sehingga demopun tak bisa dihindarkan.

"KENAPA DIAM!" bentaknya yang cukup mempengangkan telinga orang orang yang berada diruangan itu.

4 orang sudah bersimpuh dilantai karena dengan kaki gemetar. Mereka memang bersalah dan sudah tau konsekuensi seperti apa yang harus mereka terima.

Agam Semesta (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang