Agam membiarkan keduanya tertidur dan ia tetap melanjutkan pekerjaannya, ada perasaan sedikit lega karena putranya menemukan sendiri seorang pengasuh yang cocok dengannya.
Tak lupa Agam mencari tau latar belakang laki laki yang seenaknya tidur diruangannya ini.
"Maza Prabu Rayyanka" gumamnya, anak yatim piatu 2 bersaudara/kembar, tapi kembaran/kakaknya kabur membawa uang warisannya. Baru lulus kuliah padahal lulus SMAnya 5 tahun lalu. Satu semester cuti kuliah karna sakit?. Hidup sebatang kara, mempunyai 4 pekerjaan paruh waktu untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari. Dan Maza adalah salah satu penghuni kost yang sudah ia gusur 5 hari yang lalu.
Agam menghela nafasnya setelah membaca informasi detail tentang Maza. Pendidikan dan statusnya terlalu rendah untuk mengasuh putra kesayangannya, tapi jika memang Altan cocok dengan Maza, apa boleh buat. Ini kesempatan Agam untuk bebas untuk mengembangkan usahanya.
Pukul 4 sore.
Maza terbangun dan betapa kagetnya ia melihat ruangan dimana terakhir kali ia ingat.
"Anjing!" Umpatnya kaget dan itu membangunkan Altan yang masih dipelukannya, untung dengan sigap ia memegangi tubuh gempal itu yang hampir terjatuh karena dorongan badannya.
"Enghh" Altan merentangkan tangannya keatas.
"Eh tuyul, bangun, bapak lu mana?" Ucap Maza tana menoleh kesekeliling terlebih dahulu.
Dengan mata ngantuk Altan menunjuk meja kerja daddynya.
"EH BUSET!" kagetnya melihat sosok pria yang ia kenali sebagai bajingan pengusur kostannya terdahulu. Dan itu berarti?
Maza melihat Altan dan Agam berulang kali secara bergantian. Tuyul ini anak CEO tempat ia melamar kerja?
'Sial' batin Maza, mana ia sempat menggumpat lagi, ditambah manggil putranya tuyul.
Pupus sudah harapannya untuk bekerja diperusahaan ini.
Semangatnya bertambah layu melihat tatapan tajam Agam terhadap dirinya.
"Siapa yang kau panggil tuyul?" Tanya Agam.
"Mak maksud saya.....? Eh nama lu siapa tadi?" Ucapnya kemudia berbisik dengan Altan.
"Altan kakak cantik" koreksi Altan.
'Anjing' batin Maza malu karena Altan masih saja memanggilnya cantik padahal didepan ayahnya.
"Nah iya, maksud saya Altan pak, ta tadi saya mimpi pesugihan tuyul pak, maafin saya ya pak" ucapnya ngawur karna memang itulah yang ada didalam otaknya karna ia terlalu gugup.
"Ya sudah kamu keluar dari ruangan saya" usir Agam dan Altan langsung bereaksi menatap daddynya marah.
"TIDAK BOLEH!"
"Altan, kemari ikut Daddy"
Altan menggeleng kemudian memeluk erat leher Maza.
"Altan!, dengerin daddy"
"Altan dengelin daddy tapi Altan tidak mau kakak cantik pelgi" ucapnya telak dan Agam tentu tidak bisa menolak keinginan kecil putranya itu.
'Sialan ini anak, kenapa harus buat gue diposisi kek gini se, mana manggil gue cantik mulu, bangsat emang' batin Maza.
"Memangnya apa yang Altan inginkan dari kakak ini?" Tanya Agam sungguh sungguh dengan putra kesatangannya itu. Parenting yang digunakan Agam bukan bersikap marah namun lebih ke kompromi agar mendapat sebuah solusi yang tepat dengan putranya itu.
"Altan ingin kakak cantik disisi Altan selamanya daddy" ucapnya yang membuat Maza ikut melayangkan protesnya.
"Altan, kakak harus kerja buat kebutuhan kakak, seperti makan, bayar kotsan dan lain lain, jadi kakak tidak bisa selamanya disisi Altan" jelas Maza kepada anak berumur 5 tahun itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agam Semesta (End)
Teen FictionAgam Adskhan Semesta. pria lajang berdarah Turki-Indonesia berumur 30 tahun, dikagetkan dengan kemunculan bayi imut berjenis kelamin laki laki diantar seseorang wanita paruh baya kerumahnya. Setelah tes DNA anak tersebut memanglah putra kandungnya. ...
