Cinta Pertamaku

50 3 0
                                        

Reta menghampiriku di taman kampus, disodorkannya botol kopi ke arahku.

"Aku nggak pernah ngopi Ta, masa kamu lupa" ujarku


"Iya iya berchyanda. Gitu aja ngamuk" Reta mengganti botol kopi dengan susu kotak

"Lagi berantem sama Jidan?" tanya Reta

Langsung ku tutup laptopku saat itu juga.



"Kamu kesini temuin aku cuma untuk tanyain itu?"

Reta menahan tanganku yang sedang mengemasi barang ke dalam tas.


"Kamu kenapa Ra kok baperan gini sih sekarang? Kamu kena Baby blues ya?"

Aku dibuat naik pitam oleh pertanyaan Reta.

"Apasih Baby Blues mulu! Telinga aku bosan dengernya! Kamu sahabat aku tapi kenapa kamu nggak bisa ngertiin aku!!" tekanku


"Ada apa Ta?" tanya Jidan yang datang bersama Kak Lian

"Kayaknya Rara capek deh. Ayo Kak pergi"

Reta menarik tangan Kak Lian. Kak Lian yang masih bingung dengan apa yang terjadi masih terpaku.

"Kak ayo! Biarin mereka selesaikan masalahnya dulu" ajak Reta


Jidan duduk di sebelahku.

"Duduk Ra" pintanya

Ku keluarkan titipan Papa.

"Aku sudah tanda tangan, tinggal kamu"

Jidan membuka amplop coklat yang kuberikan. Ia membaca sekilas lalu membubuhkan tanda tangannya disana.

Bersamaan dengan Jidan membubuhkan tanda tangannya saat itu duniaku hancur. Aku nggak tahu lagi apa yang harus ku lakukan setelah ini. Setenang dan secepat itu Jidan melakukannya??? Bahkan sama sekali ia tak menolaknya!



Jidan melipat dan memasukkan kembali surat cerai ke amplopnya sebelum diserahkan kembali padaku.

"Aku temui kamu buat ngasih kabar kalau besok Jira sudah boleh pulang. Ternyata kamu juga ngasih kabar buatku. Jira ikut aku sebab selama ini aku dan keluargaku yang ada buat Jira" ungkap Jidan sebelum ia pergi meninggalkanku


Jira ikut Jidan. Lalu apa fungsiku? Cuma dijadikan penitipan Jira selama 9bulan saja? Cuma dijadikan asisten untuk merawat Mamanya selama Mamanya depresi? Cuma dijadikan pelampiasan nafsunya saja? Kalau begitu enak di Jidan susah di aku!


Ku kejar Jidan yang sudah tidak terlihat. Aku berlari ke arah parkiran sambil memegangi perutku. Mobil Jidan melaju perlahan keluar parkiran.

"Jidan tunggu!!!!" teriakku


Sama sekali Jidan tidak keluar dari dalam mobil. Aku berlari lagi untuk ikut bersamanya. Ku tutup pintu mobilnya dengan kasar.

Jidan kembali melajukan mobilnya sementara aku masih mengatur napas.



Jidan membawaku ke rumahnya. Rumah dimana aku, Jidan, dan Mamanya tinggal setelah pernikahan kami.

"Kamu mau minta harta gono-gini juga? Aku ambil dulu sertifikat rumahnya" Jidan turun dari mobilnya dan berlari kecil masuk ke rumah.

Ku ikuti Jidan sampai ke kamar kita.

"Buat kamu" Jidan mengulurkan sertifikat rumahnya

Ku buang sertifikatnya ke lantai.

"Aku nggak butuh harta kamu!"

"Lalu kamu butuh apa Ra? Kamu minta pisah aku iyain, sekarang minta apa ngomong!" bentak Jidan

Secret WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang