Kayel berlari dengan kecepatan tinggi menuju lantai lima, melewati anak-anak tangga eskalator yang malam itu sengaja dihentikan. Di tengah kesunyian gedung luas ini, suara hentak kakinya yang kasar menggema. Pikirannya sangat kacau, namun kondisi fisiknya jauh lebih kacau karena suhu dingin yang hampir membekukan seluruh tubuhnya.
Tepat di lantai tujuan, Kayel tercengang melihat Brian yang sudah terjatuh dengan penuh luka. Ujung senjata api yang berjarak beberapa meter tepat di depan wajah Brian siap untuk melepaskan pelurunya. Pemandangan itu tentu membuat Kayel tak bisa diam saja.
Pemuda berdarah asli Netbeans itu mungkin telah belajar banyak dari kehidupan Dreamweaver. Kayel berlari dan menyingkirkan senjata api yang akan melukai rekannya. Namun, entah karena hilang kendali atau karena memang memiliki dendam tersendiri, Tuan Rapid meluncurkan satu tembakan tepat di kepala Kayel.
Brian terdiam. Jantungnya sempat berhenti sejenak ketika mendapati pemandangan mengerikan itu berada tepat di depan mata. Ia memberontak dan mencoba meraih kawannya. "Kayel!"
Dengan sangat kuat, tubuh Brian di hadang dan di dorong hingga jatuh. Para penjaga bersama-sama menggeret Brian untuk pergi dari lokasi. Pemuda itu tak mampu melawan lagi karena tenaganya sudah habis. Ia hanya bisa mengumpati sang presiden berkali-kali sambil tubuhnya terus digeret hingga meninggalkan jejak darah di sepanjang lantai. "Rapid! Hentikan! Jangan sakiti dia!"
Sementara tubuh Kayel yang sudah tergeletak lemas tak mampu melawan sama sekali. Darah yang sangat deras terus mengucur dari kepala tanpa henti, seperti seakan menunggu ajalnya datang. Kayel hanya bisa diam menahan rasa sakit, namun matanya tetap menatap sang presiden dengan penuh dendam.
Tuan Rapid memandangnya balik tanpa rasa kasihan dan menyampaikan pesan singkat pada Kayel. "Mati dalam siksaan—sepertinya adalah hukuman yang pantas bagi seorang pengkhianat, yang berkhianat tak hanya sekali. Akan kubiarkan mereka mengenangmu sebagai pengkhianat selamanya," ujar Tuan Rapid.
Kemudian, tanpa rasa belas kasih, sang Presiden melepaskan semburan api dari senjata yang masih dibawanya. Api itu langsung melahap tubuh Kayel hingga habis—tak tersisa. Kobaran merah di tengah bangunan putih itu tercermin dengan ganas di mata Brian yang berkaca-kaca.
Di dunia yang dingin ini, tubuh Kayel hangus dibakar.
***
II. WARNING!
1 of 5 Everard Mission Member has died.
Di dalam gua beku di Puncak Bliznets, Tuan Arthur sedang menulis paragraf panjang di atas kertas tebal dengan penanya—yang tentunya di era teknologi seperti ini, kemampuan menulis adalah bakat memukau yang tak semua orang bisa lakukan, namun Tuan Arthur dengan sangat lihai mampu melakukannya. Aktivitas menulis itu kemudian terhenti ketika sebuah pemberitahuan dalam smart device muncul dan sempat membuat Tuan Arthur terdiam hampir satu menit.
Nama anak didik yang terpampang di layar tentu membuatnya tercengang—Kayel Netbeams. Walaupun baginya, Kayel adalah seseorang yang berkhianat, informasi itu tetap seperti sebuah ledakan besar yang hampir mengguncang mental.
Masih memiliki rasa kemanusiaan, Tuan Arthur segera membereskan seluruh perkakas dan kembali ke Trevas. Tuan Arthur melangkahkan kaki di hall utama. Ribuan pasang sorot mata rakyat mengarah padanya. Ekspresi wajah Tuan Arthur membuat penduduk Everard yang tadinya tampak ceria berubah menjadi muram dan cemas, menantikan informasi mengejutkan apa yang akan mereka terima.
Dengan langkah pelan, Tuan Arthur naik ke dalam podium dan menyapa. "Mohon perhatiannya sejenak."
Ucapan itu semakin membuat rakyat terdiam dan menyimak serius, sehingga Tuan Arthur mampu melanjutkan kalimatnya dengan tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERARD MISSION
FantasyPada tahun 2800, wilayah kekuasaan terakhir manusia terbagi menjadi lima klan utama untuk mempertahankan bumi mereka yang terjajah.
