Klan Dreamweaver bertanggung jawab di bidang militer. Tugas utama mereka adalah berperang. Maka, tak heran jika klan ini sangat dibanggakan oleh pemerintah Everard. Namun, beberapa masyarakat masih memandang mereka sebelah mata, karena katanya mereka tidak cukup berperan dalam tujuan utama Everard—memperbanyak populasi. Menyedihkan. Orang-orang hanya tidak tahu bagaimana perjuangan Dreamweaver demi mempertahankan tanah kekuasaan di setiap perang berdarah yang terjadi.
Akan tetapi, itu memang benar adanya. Dreamweaver menempati peringkat terakhir dari daftar lima klan Everard dengan populasi terbanyak. Pada tahun 2795, jumlah populasinya hanya mencapai 978 jiwa.
Ada beberapa faktor yang membuat distrik ini kekurangan populasi. Pertama, sedikitnya minat seseorang dalam dunia kemiliteran sehingga bayi-bayi bertipe Dreamweaver sulit dijumpai di pusat produksi anak—Child Production Center atau CPC. Kedua, karena hampir setiap tahun perang selalu terjadi dan membuat beberapa pahlawan bergelar Dreamweaver tumbang di medan perang. Setidaknya, Dreamweaver selalu kehilangan 20-50 jiwa dalam satu kali perang.
KONDISI GEOGRAFIS—Wilayah kekuasaan Dreamweaver berada tepat di lereng Pegunungan Andsand yang membentang sepanjang 500 km. Banyak terdapat tebing-tebing curam di kaki gunung sebagai pilar penopang tanah Dreamweaver.
Untuk turun dari pegunungan dan menuju pusat kota, orang-orang bisa melewati jalan gunung yang penuh tikungan tajam. Namun, elevator gunung dan pesawat matic lebih sering digunakan karena lebih efektif, hanya memakan waktu 1 menit perjalanan.
Sementara itu, pola permukiman penduduk Dreamweaver berwujud perumahan sederhana. Setiap individu menempati satu rumah yang berjejer memanjang, mengikuti arah jalan. Karena kerapatan permukiman, mereka juga menjalin persaudaraan yang cukup harmonis.
Di beberapa lokasi tertentu, mereka membangun barak pelatihan yang digunakan khusus untuk melatih para pemuda-pemudi dalam berperang.
Karena penduduknya sedikit, wilayah Dreamweaver memiliki banyak lahan kosong tak terpakai yang ujungnya mereka gunakan sebagai budidaya tumbuhan-tumbuhan runjung—yang sudah menjadi ciri khas wilayah Dreamweaver.
PEREKONOMIAN DAN MATA PENCAHARIAN—Delapan dari sepuluh penduduk Dreamweaver berprofesi sebagai pasukan perang atau tentara. Sisanya bekerja di balik layar, seperti menjadi pelatih, ahli teknologi, ahli medis, ahli masak, hingga penyusun strategi.
Namun, sebelum memilih profesi mereka masing-masing, anak-anak remaja dari Dreamweaver wajib menempuh pendidikan formal pada bidang militer di Dreamweaver Academy yang pusat pelatihannya menyebar di setiap titik di distrik ini.
Sementara itu, kebutuhan primer dan sekunder didapat melalui proses impor dari distrik-distrik lain seperti bahan makanan, pakaian, alat transportasi, dan masih banyak lagi.
KARAKTERISTIK PENDUDUK—Penduduk Dreamweaver dikenal sebagai seseorang yang tangguh, berani, dan kuat. Kekuatan fisik satu manusia Dreamweaver setara dengan 100 manusia biasa. Bayangkan, betapa tangguhnya mereka.
Di samping sifat garangnya, mereka juga merupakan sosok yang lembut. Mereka setia, rela berkorban, menjunjung tinggi keadilan, penuh sopan santun, dan berani mati untuk melindungi Everard. Bagi mereka, keamanan distrik lain lebih penting dari pada nyawanya sendiri.
Namun, Dreamweaver tidak pernah mengeluh di setiap pertumpahan darah yang terjadi di medan perang.
***
12 Oktober 2799
Latihan militer di pusat pelatihan malam ini berakhir lebih telat dari biasanya. Tepat pukul satu malam, para pemuda-pemudi yang berlatih baru diizinkan untuk pulang. Puluhan murid pelatihan berebut jalan keluar dari gedung yang digunakan sebagai tempat berlatih.
Dua remaja laki-laki yang terlihat akrab satu sama lain menjadi orang terakhir yang melangkahkan kakinya keluar. Ketika keadaan mulai sepi, kedua anak laki-laki bertubuh tegap itu mulai menempuh perjalanan pulang menuju tempat tinggal mereka, berjalan kaki menelusuri jalan gunung yang besar dan sepi—yang di sisi kirinya berjejer pohon pinus dan di sisi kanannya terdapat jurang terjal, namun mampu menampakkan pemandangan kota yang estetis.
Lelaki yang bertubuh agak kurus itu biasa dipanggil Ehren, dari klan Dreamweaver, membuat namanya otomatis menjadi Ehren Dreamweaver. Sementara pemuda di sampingnya, yang tubuhnya agak berisi adalah Yaren. Mereka adalah sepasang sahabat yang tinggal serumah dan berlatih di pusat pelatihan yang sama, tak heran, pulang bersama menjadi rutinitas mereka sehari-hari.
Di sepanjang perjalanan, mereka sesekali mengobrol atau bercanda, atau mungkin membicarakan beberapa pelatih mereka yang agak menjengkelkan. Hingga mereka mulai menyadari bahwa bukan hanya ada mereka berdua saja di sekitar sini.
Yaren menoleh ke belakang. Matanya langsung bertemu dengan seorang lelaki bertubuh agak besar yang berhenti tepat 10 meter di belakang mereka. Ketika keduanya mengambil satu langkah secara bersamaan, lelaki asing itu juga ikut melangkah. Kemudian, mereka mengambil langkah lebih banyak dan lelaki asing itu juga selalu ikut.
Ketika langkah yang diambil semakin banyak dan lelaki asing itu terus mengejar, larilah mereka berdua. "Lari!" seru Ehren.
Berlari di bawah langit malam yang gelap, Ehren dan Yaren dikejar oleh lelaki asing. Sambil sesekali menoleh ke belakang, memantau pengejarnya, tak disangka, penguntit mereka ternyata lebih dari satu orang dan semuanya bertubuh besar.
Ehren dan Yaren melotot kaget, berlari lebih kencang hingga suara benturan antara telapak sepatu dan tanah menggema di sepanjang jalan. Yaren protes terlebih dahulu, "Ehren! Kenapa mereka mengejar kita!?"
"Aku tidak tahu! Lari lebih cepat, jangan lupa aktifkan peredam suara!" seru Ehren sambil tangannya mulai menekan salah satu tombol dari sebuah lempengan kaca tipis yang melilit bisepnya—yang orang-orang sebut sebagai control panel—sebuah alat manajemen yang memiliki beberapa fungsi untuk mengendalikan tubuh manusia. Ehren mengaktifkan fitur kedap suara, membuat langkah kakinya menjadi tak terdengar lagi, mengalihkan fokus si pengejar, membuatnya lebih leluasa dalam berlari.
Pengejaran terus berlanjut hingga salah satu dari mereka berhasil tertangkap. Punggung Yaren diterkam dari belakang, membuat Ehren tak bisa melanjutkan larinya seorang diri, ikut membuatnya tertangkap pula.
Sempat tak sadarkan diri selama beberapa menit, ketika Ehren membuka matanya, ia sudah terbangun di dalam sebuah kandang sempit yang membuatnya harus terus duduk dan menunduk di dalam sana. Rambutnya basah, penuh keringat, dan napasnya tak beraturan.
Melalui sela-sela jeruji besi, Ehren dapat melihat sosok Yaren yang dikurung di dalam kandang pula, yang berjarak kurang lebih 5 meter dari matanya. Yaren, sahabatnya, kala itu sedang diinterogasi oleh salah seorang lelaki bertubuh besar yang sepertinya tadi juga ikut mengejar mereka.
Setelah diinterogasi cukup lama, lelaki asing itu berdiri dan kandang tempat Yaren mendekam langsung terbakar dalam sekejap. Api yang menyala merah itu hanya berkobar selama 30 detik. Namun, berhasil menghancurkan seluruh isinya, hingga bersih—tak tersisa. Sosok Yaren lenyap tanpa bekas di dalam sana. Ehren terkejut setengah mati, bibirnya terlalu kaku untuk bereaksi, tak bisa melakukan apa-apa selain terdiam.
Kini giliran lelaki asing itu berjalan menuju kandang tempat Ehren mendekam. Lelaki itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ehren. Ehren memperhatikan wajah lelaki asing itu dengan saksama, pupil matanya berwarna ungu tua—cantik, kulitnya putih, kasar, dan keras seperti es.
Lelaki itu menunjukkan sebuah layar yang menampilkan potret pas foto seorang remaja laki-laki yang tak Ehren kenal, hendak melakukan interogasi yang sama. Ehren sendiri sudah menyiapkan beberapa jawaban logis agar tidak bernasib sama seperti Yaren.
Akhirnya, lelaki itu bertanya sambil memandangi potret foto lelaki manis yang ia tunjukkan, "Namanya Brian. Di mana aku bisa bertemu dengan anak ini?"
—TO BE CONTINUE—
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERARD MISSION
FantasíaPada tahun 2800, wilayah kekuasaan terakhir manusia terbagi menjadi lima klan utama untuk mempertahankan bumi mereka yang terjajah.
