17. Escaped Prisoner

864 262 121
                                        

Lencana perak berbentuk kepala rubah itu diletakkan di dalam genggaman tangan Ehren. Ehren belum menyadarinya, kepalanya mendongak, gigi-giginya bergetar—geram—dan matanya yang biru terus menatap wajah pemuda di hadapannya.

Pemuda yang ditatap dengan penuh dendam itu menyampaikan sesuatu. "Maafkan aku," ujar Silver.

Permintaan maaf itu terdengar menjengkelkan di telinga Ehren. Ehren kecewa. Perasaannya kacau dan rasa geram itu sudah berada di ujung tanduk, namun lapisan baja yang mengikat kedua tangannya membatasi Ehren untuk melakukan perlawanan fisik.

Silver berdiri. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan, sambil matanya mengintip control panel sejenak, memandang sebuah tulisan pemberitahuan.

Transfer 16% Oxygen Successfully

"Silver! Kau penanggungjawab misi selanjutnya! Jangan seperti ini! Sialan!" teriak Ehren.

Umpatan-umpatan yang terus keluar dari mulut Ehren membuat langkah Silver semakin berat. Namun, Silver tetap berpegang teguh pada pilihannya, ia tetap pergi.

Setidaknya Silver sudah membantu. Tadi, persentase oksigen yang masih Silver miliki hanya sebanyak 32%. Silver menyumbangkan setengahnya kepada Ehren.

Silver percaya, bahwa Ehren bisa menyelamatkan dirinya sendiri, karena ia paham, Dreamweaver bukanlah sosok yang mudah putus semangat.

Terlalu sering berkecimpung dalam perang tragis yang dikangkangi pertumpahan darah, Dreamweaver memiliki pandangan yang sangat manusiawi terhadap suatu kehidupan. Dreamweaver terlalu sering disadarkan, bahwa nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga, yang nilainya tak bisa dibandingkan dengan angka.

***

Pagi-pagi sekali, Silver baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Rambutnya masih berantakan dan matanya belum terbuka sempurna. Namun, kedua kakinya nekat diturunkan dari ranjang.

Ia melangkah keluar dari kamar, kepalanya menoleh ke sana-kemari, memperhatikan kondisi rumah yang berantakan dan sangat kacau, hingga matanya memelotot ketika melihat cairan merah yang diduganya sebagai darah mengalir di lantai, dari dalam ruangan.

Kedua matanya terbuka sempurna secara otomatis. Kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Matanya langsung disuguhkan oleh pemandangan dapur yang kelewat berantakan.

Seekor serigala putih dewasa terbantai tewas dan dibaringkan di atas kabinet. Di sebelahnya ada seorang wanita yang sedang memandang keluar jendela sambil menyedot sebuah minuman dari gelas plastik.

"Lucy?" ujar Silver.

Wanita itu—Lucecria—segera turun dari kabinet dapur ketika menyadari kehadiran Silver. "Silver? Sudah sadar?"

"Kau membunuh seekor serigala?"

Lu membalas dengan topik yang menyimpang. "Silver, apakah itu normal? Manusia bisa tidak sadarkan diri hingga ... 8 jam? Aku pikir kau sudah mati."

"Aku hanya tidur."

"Apa itu?"

"Aku hanya tidur."

"Aku tidak tahu hibernasi macam apa itu. Tapi aku suka akulturasi ini."

"Apa yang kau lakukan semalam?" Silver mendekati mayat serigala putih itu dan mengelus bulunya yang tebal dan kaku.

"Oh? Aku pergi ke hutan dan menangkap serigala untuk persediaan darah. Kau sudah tahu, charging station di seluruh dunia berhenti beroperasi, jadi aku harus berburu."

"Menakjubkan."

"Alangkah lebih baiknya jika kau sarapan terlebih dahulu. Kau bisa panggang daging serigala itu atau kalau mau ... ada belasan gelas darah serigala di kulkas."

EVERARD MISSIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang