Apa jadinya jika saat itu saint membiarkan istrinya untuk bicara lebih dulu di hari ulang tahun nya.
"Kau saja duluan saint! Ini kan hari ulang tahun mu"senyum zee merekah waktu itu, dia menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar penuh kagum.
"Tidak bisa seperti itu, kamu saja duluan aku setelah mu oke?"bujuk saint dan akhirnya zee mengangguk setuju, bangkit dari tempat tidur lalu membuka lemari dan kembali kepada saint dengan kotak di tangan nya.
"Buka deh"ucap nya menyodorkan kotak itu kepada saint.
"Apa ini"ucap saint bingung tapi dia tetap menerima nya sampai zee kembali duduk di hadapannya.
"Bukaa dulu saint, ah kau ini...itu kado untuk mu"
Saint terkekeh melihat wajah kesal zee, perlahan dia pun membuka kotak itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Deg
Jantung nya berpacu kencang, dia menatap zee dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kam-kamu hamil??"
Zee mengangguk ribut, tapi ketika dia melihat reaksi saint yang di luar ekspektasi nya membuat zee terdiam lalu menatap saint lekat.
"Ka-kamu tidak senang?"
"Huh?"
Saint menarik zee kedalam dekapan nya membuat zee kaget karena pergerakan tiba-tiba itu.
"Aku hanya terlalu senang sampai tidak tahu lagi harus mengekspresikan diri seperti apa...astaga ini yang kita tunggu-tunggu bukan? Terimakasih sayang ini adalah kado terindah yang pernah aku dapat"
Ucap saint dengan tulus meski di dalam hati nya tersemat rasa bersalah yang begitu mendalam.
"Oh ya saint, apa yang mau kamu katakan tadi?"tanya zee, tatapan nya polos dengan kepala yang di miring kan.
Saint tersenyum sambil menggeleng kan kepalanya pelan, saking senang nya aku jadi lupa mau bilang apa...lagi pula tidak penting"ucap saint, zee mengangguk lalu keduanya kembali berpelukan dengan erat di tempat tidur.
7 bulan kemudian...
Tidak ada angin ataupun hujan saint yang mengatakan akan pergi untuk bisnis keluar kota selama satu Minggu tiba-tiba pulang membawa seorang bayi merah yang berusia kurang lebih tiga hari ke rumah, zee tentu saja shock juga bingung atas kehadiran bayi itu.
"Itu bayi siapa?"tanya zee.
"Zee...tolong maafkan aku"
"He? Kenapa kamu minta maaf?"
Saint menatap ibu nya yang memang menemani zee selama saint yang katanya keluar kota itu, lalu memberikan alih atas bayi merah itu pada sang ibu untuk di amankan.
"Zee ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, di kamar ya?"
Zee hanya mengangguk walaupun bingung dia tetap menerima uluran tangan saint untuk pergi ke lantai atas di mana kamar mereka berada mengingat perut zee mulai membesar.