Kim Jaehan tak mengenal apa itu kenangan, karena kenangan akan berlalu dan hilang begitu cepat dari ingatannya.
Sementara Shin Yechan sangat bersahabat dengan kenangan, sampai-sampai terus bersumpah tak akan ada sedetik kenangan pun yang akan ia si...
Yechan menunggu kekasihnya di luar kantor, menjemput Jaehan pulang kerja adalah rutinitas sore nya. Kalau berangkat ia membiasakan kekasihnya pergi sendiri, tentunya dengan guide yang ada di noted kecilnya.
Sekitar lima menit menunggu, akhirnya Jaehan keluar dari kantornya, Yechan tersenyum melihat interaksi kekasihnya dengan salah satu sahabatnya yang juga sudah Yechan kenal dekat.
Orang itu bahkan mengantar kekasihnya mendatanginya.
Yechan tersenyum kearah keduanya.
"Terimakasih Sebin hyung" Ucap Yechan saat mereka sudah sampai di mobil Yechan.
"Sama sama. Jaehan hyung sudah ya kita berpisah disini, Hati-hati"
"Umm kau juga hati-hati Sebinie" Balas Jaehan, ia tersenyum lalu melambaikan tangan pada Sebin yang mulai menjauh.
Yechan lantas membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
Jaehan tak lupa berterimakasih.
"Malam ini kita makan di luar hyung tidak keberatan kan?"
"Hmm. Tentu saja tidak apa-apa Yechanie. Aku senang malah hehe"
"Baiklah, mari berangkat"
Jaehan mengangguk semangat.
. .
10 menit berlalu sejak Yechan melajukan mobilnya, Jaehan melihat jalan yang mereka lewati dengan pandangan bingung.
"Yechanie ini bukan jalan kearah apartemen ku. Kita mau kemana? Oh mau ke apartemen mu ya?" Tanya Jaehan merasa bingung.
Yechan yang mendengarnya meremat stir mobilnya. Namun tak lama ia menunjukan senyuman.
"Kita mau makan malam di luar, hyung tidak keberatan kan?"
"Oh begitu hehe iyaa tidak apa-apa Yechanie. Aku pikir mau kemana, baiklah kalau begitu"
Yechan mengelus surai lembut kekasihnya, tersenyum yang sebenarnya begitu pilu.
***
Pada kondisi Jaehan saat ini dapat dikatakan pertumbuhan penyakitnya tidak terlalu signifikan. Ia masih bisa beraktivitas layaknya orang normal, ia juga masih bekerja di salah satu perusahaan periklanan.
Dia masih sangat berkompeten dalam bekerja, hanya saja ingatannya yang menunjukan perubahan yang cukup mengkhawatirkan.
Mungkin sebuah keajaiban juga ia masih bisa mengerjakan segala pekerjaannya dengan baik. Padahal daya ingatnya kian menurun.
Jaehan juga masih bisa mengingat orang-orang disekelilingnya yang memang masih berinteraksi secara intens dengannya. Seperti rekan kerja, dan kekasihnya.
Jaehan sudah tidak memiliki keluarga. Ia anak tunggal, Ayah dan Ibu nya sudah meninggal. Sejak kepergian mereka, keluarganya yang lain entah itu Paman atau Bibi semua seakan meninggalkannya. Beruntung ada Yechan yang mau mengurusnya pada saat itu bahkan hingga saat ini. Bagaimanapun Jaehan tidak sehat, ia sangat memerlukan perhatian orang lain, namun sayangnya semuanya memilih pergi. Dan terjadi, secara alami Jaehan pun melupakan semua keluarganya. Bagai mereset kembali kehidupannya yang kini hanya dijalani bersama kekasihnya.
Jaehan menumpu wajahnya dengan tangannya. Menatap sendu buku noted yang sudah setengah terisi. Ini buku catatan hariannya yang selalu ia tulis saat malam hari. Berbeda dengan buku panduan kecil yang selalu ia bawa setiap hari.
Buku catatan ini berisi perasaannya yang seiring berjalannya waktu menghilang begitu saja.
Malam ini ia menuliskan perasaan sedihnya terhadap kekasihnya karena ia merasa seringkali membuat Yechan sedih tanpa ia sadari.
Jaehan memang mudah melupakan sesuatu, namun Jaehan bisa mengerti raut kesedihan kekasihnya yang tidak baik-baik saja.
"Menjadi Yechanie pasti sangat melelahkan." Gumam Jaehan, wajahnya begitu sendu. Membayangkan bagaimana lelahnya Yechan menghadapinya.
Menggerakan pulpennya mengikuti ucapan hatinya, Jaehan menghela nafas pelan.
Maaf karena aku melupakan banyak hal. -𝓣𝓱𝓮 𝓛𝓪𝓼𝓽 𝓛𝓮𝓽𝓽𝓮𝓻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.