Kim Jaehan tak mengenal apa itu kenangan, karena kenangan akan berlalu dan hilang begitu cepat dari ingatannya.
Sementara Shin Yechan sangat bersahabat dengan kenangan, sampai-sampai terus bersumpah tak akan ada sedetik kenangan pun yang akan ia si...
"Tidak hyung tidak perlu meminta maaf. Hyung tidak melakukan kesalahan"
"Aku sakit itulah kesalahannya"
Yechan mengeratkan genggamannya.
"Kau bicara apa hyung, jangan berkata begitu. Itu bukan kehendak mu, jangan pernah menyalahkan dirimu. Itu lebih menyakitiku. Hyung tidak boleh berpikir seperti itu, mengerti"
"Tapi aku selalu membuatmu menangis.. "
"Tidak. Hyung dengar, aku hanya ingin hyung tetap bersama ku. Keberadaan hyung adalah kebahagiaan ku"
"Aku sakit Yechan-ahh. Aku tak pantas bersama mu... Aku hiks, aku hanya menyakitimu"
"Aku tak ingin dengar apapun. Aku hanya meminta pada hyung, kumohon jangan pergi tanpa aku bersama mu"
Mengusap air mata Jaehan, Yechan membawa nya kedalam pelukan hangat. Pelukan yang akan selalu ia berikan pada seseorang yang sangat berharga untuknya itu.
"Eomma ingin bertemu dengan hyung. Apa hyung bersedia?"
Dibalik pelukan Yechan, Jaehan berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju. Eomma yang di maksud adalah Ibu Yechan. Bukan pertama kalinya, namun rasanya memang masih sangat asing bertemu dengan orang tua kekasihnya.
Memangnya siapa yang mau merelakan putranya menjalin hubungan dengan orang penyakitan seperti dirinya? Sekiranya itulah yang seringkali terpikirkan oleh Jaehan.
***
"Jaehanie akhirnya kau datang. Ayoo di dalam aku sudah menyiapkan banyak makanan"
Baru saja tiba di kediaman Shin. Jaehan langsung disambut oleh Ibu dari kekasihnya. Wanita paruh baya cantik yang terlihat begitu ramah. Jaehan tak benar-benar mengingat wajahnya, mereka baru dua kali bertemu dan ini kali ketiganya. Orang tua Yechan sangat sibuk, bertemu anaknya saja jarang, apalagi dirinya.
"Terimakasih Nyonya Shin"
"Eihh Jaehanie sudah berapa kali aku bilang, panggil Eomma saja. Tak perlu sungkan"
Sebenarnya Jaehan lupa, memangnya iya dia sudah pernah diberitahu untuk memanggil Eomma?
Akhirnya Jaehan hanya tersenyum patuh. Jemarinya semakin mengerat pada genggaman kekasihnya. Yechan hanya memberinya senyuman.
Mereka memasuki mansion megah itu dan di ruang makan sudah ada Tuan Besar Shin. Beliau tersenyum menyambut kedatangan Jaehan. Jaehan pun tak lupa membalas.
"Ayoo karena sudah waktunya makan malam, kita awali dengan makan dulu saja. Setelah itu baru berbincang"
"Terimakasih-
"Appa. Panggil aku Appa saja"
Jaehan tersenyum mendengar ayah Yechan menyela ucapannya karena memintanya memanggil dengan sebutan akrab pula.
"Terimakasih Appa"
"Chaa selamat makan."
. .
Kalian tidak sedang melihat sandiwara, Ayah dan Ibu Yechan memang benar-benar menerima kehadiran Jaehan diantara mereka.
Mereka merestui hubungan Yechan dengan Jaehan sepenuh hati. Bahkan sejak awal diberitahu mengenai Jaehan yang mengidap Azheimer mereka tak mempermasalahkan.
Satu-satunya yang menjadi concern mereka adalah, bagaimana caranya Jaehan dapat bertahan lebih lama untuk putranya yang mereka tahu, Yechan sangat mencintai Jaehan.
Mereka sangat sadar bahwa mereka tak bisa memberikan kebahagiaan yang hangat untuk Yechan, karena itu mereka ikut berbahagia dan mendukung jika memang Jaehan bisa membuat Yechan-nya bahagia.
Ayah dan Ibu Yechan ikut berdiskusi dan mencari beberapa Dokter berpengalaman. Namun diantara mereka semua yang sudah dihubungi, jawabannya tetap sama.
Alzheimer bukan penyakit yang bisa di sembuhkan. Pada akhirnya, sistem otak dan kinerja tubuh akan tetap memburuk. Namun, meski begitu ada obat yang dapat membantu menekan perkembangan penyakit tersebut. Tidak menyembuhkan tapi setidaknya sampai saat ini perkembangan penyakit Jaehan memang dapat di tekan dengan obat itu.
Namun semua itu adalah laporan terakhir yang Yechan berikan beberapa bulan lalu, bahwa beberapa minggu ini kondisi Jaehan memburuk ia belum mengabarkan nya pada Ayah dan Ibu nya.
"Biar Jaehan tinggal bersama ku. Aku akan menjaganya 24 jam. Kejadian kemarin aku tak ingin mendengarnya lagi Yechanie, Jaehan sudah tidak bisa di tinggal sendiri"
"E-eomma"
"Mulai saat ini dia adalah putra ku juga!"
Tbc.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.