DUA EMPAT

3.8K 357 67
                                        

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Gea melirik arloji jam di pergelangan tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gea melirik arloji jam di pergelangan tangannya. "Udah sore, gue pulang, ya? Suami lo juga pasti bentar lagi sampai. Gue malu kalo harus ketemu dia" ujar Gea. Niat hati datang kesini hanya untuk merevisi naskahnya, malah berujung membahas masa lalu Azzam.

"Kenapa takut?" Tanya Meera

"Nggak, nggak mau aja. Ah udahlah, pokoknya gue pulang sekarang aja." Perempuan itu langsung memasukan laptopnya ke dalam tas. "Ini yang terakhir deh, kalo menurut lo, suami lo itu masih ada rasa nggak sama Kaatiya? Lo sebenarnya masih curiga, kan?"

Meera memutarkan bola matanya malas, pertanyaan itu lagi. "IYA. Aku curiga. Puas?"

Gea terkekeh pelan, tetapi tawanya perlahan menghilang saat melihat wajah Meera yang tampak serius. Ia berdeham singkat sebelum kembali membuka suara. "Oke, oke. Gue nggak bercanda lagi." Gea menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Tapi, Ra, kalau lo memang curiga, lo nggak bisa terus-terusan nebak sendiri. Lo harus cari tahu dari Azzam langsung."

"Aku nggak tahu, Ge." Suaranya melemah. "Azzam nggak pernah cerita banyak soal Kaatiya. Bahkan waktu aku tanya tentang masa lalunya, dia selalu bilang nggak mau bikin aku salah paham."

"Terus?"

"Justru itu yang bikin aku kepikiran." Meera memainkan ujung kertas di tangannya. "Kalau memang udah nggak ada apa-apa, kenapa dia selalu hati-hati banget kalau ngomong soal perempuan itu?"

Gea terdiam sejenak. Kali ini ia tidak langsung menjawab. "Ra," panggilnya pelan. "Bisa jadi karena dia memang lagi berusaha menjaga perasaan lo."

Meera mengangkat wajahnya. "Menjaga perasaan aku?"

"Iya." Gea mengangguk. "Lo sendiri pernah bilang, kan? Azzam nggak pernah membandingkan lo sama Kaatiya. Dia juga nggak pernah bikin lo merasa kalau lo cuma pengganti."

Meera kembali terdiam. "Tapi rasa takut itu tetap ada," gumamnya.

Gea menghela napas. "Gue tahu. Tapi jangan sampai rasa takut lo malah bikin lo menganggap semua sikap Azzam sebagai bukti kalau dia masih mencintai Kaatiya."

Meera menunduk. Ucapan Gea terasa masuk akal, tetapi entah kenapa hatinya masih belum benar-benar tenang. "Jadi menurut kamu, aku harus gimana?"

"Ngobrol sama suami lo."

Meera langsung mendengus. "Jawaban kamu selalu itu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 13 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang