⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gea melirik arloji jam di pergelangan tangannya. "Udah sore, gue pulang, ya? Suami lo juga pasti bentar lagi sampai. Gue malu kalo harus ketemu dia" ujar Gea. Niat hati datang kesini hanya untuk merevisi naskahnya, malah berujung membahas masa lalu Azzam.
"Kenapa takut?" Tanya Meera
"Nggak, nggak mau aja. Ah udahlah, pokoknya gue pulang sekarang aja." Perempuan itu langsung memasukan laptopnya ke dalam tas. "Ini yang terakhir deh, kalo menurut lo, suami lo itu masih ada rasa nggak sama Kaatiya? Lo sebenarnya masih curiga, kan?"
Meera memutarkan bola matanya malas, pertanyaan itu lagi. "IYA. Aku curiga. Puas?"
Gea terkekeh pelan, tetapi tawanya perlahan menghilang saat melihat wajah Meera yang tampak serius. Ia berdeham singkat sebelum kembali membuka suara. "Oke, oke. Gue nggak bercanda lagi." Gea menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Tapi, Ra, kalau lo memang curiga, lo nggak bisa terus-terusan nebak sendiri. Lo harus cari tahu dari Azzam langsung."
"Aku nggak tahu, Ge." Suaranya melemah. "Azzam nggak pernah cerita banyak soal Kaatiya. Bahkan waktu aku tanya tentang masa lalunya, dia selalu bilang nggak mau bikin aku salah paham."
"Terus?"
"Justru itu yang bikin aku kepikiran." Meera memainkan ujung kertas di tangannya. "Kalau memang udah nggak ada apa-apa, kenapa dia selalu hati-hati banget kalau ngomong soal perempuan itu?"
Gea terdiam sejenak. Kali ini ia tidak langsung menjawab. "Ra," panggilnya pelan. "Bisa jadi karena dia memang lagi berusaha menjaga perasaan lo."
"Iya." Gea mengangguk. "Lo sendiri pernah bilang, kan? Azzam nggak pernah membandingkan lo sama Kaatiya. Dia juga nggak pernah bikin lo merasa kalau lo cuma pengganti."
Meera kembali terdiam. "Tapi rasa takut itu tetap ada," gumamnya.
Gea menghela napas. "Gue tahu. Tapi jangan sampai rasa takut lo malah bikin lo menganggap semua sikap Azzam sebagai bukti kalau dia masih mencintai Kaatiya."
Meera menunduk. Ucapan Gea terasa masuk akal, tetapi entah kenapa hatinya masih belum benar-benar tenang. "Jadi menurut kamu, aku harus gimana?"
"Ngobrol sama suami lo."
Meera langsung mendengus. "Jawaban kamu selalu itu."