Momy baru saja pulang jam 02.45, Momy segera melangkahkan kaki menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya yang tercium bau alkohol. Agar tak ketahuan sang suami Momy membersihkan dirinya dengan cepat. Setelah selesai Momy melangkahkan kaki menuju kamar putra kesayangannya. Dilihat Jenandra tengah mengenakan selimut sampai ke kepalanya, Momy hanya terkekeh melihat hal itu.
"Kebiasaan banget sihh.." Ucapnya sambil menggelengkan kepala lalu menutup pintu kamar putra semata wayangnya.
Momy tak tahu saja sebenarnya itu adalah guling yang Jenandra beri selimut.
"Ini si Daddy kemana sih jam segini belum pulang juga, sibuk sama selingkuhan nya pasti. Bodo amat deh mendingan sekarang tidur aja ngantuk bangettt." Momy pergi menuju ranjang dan tertidur pulas, mungkin karena pengaruh dari alkohol.
.....
Pagi pun tiba sekarang sudah pukul 07.45 WIB, Jenandra melihat sekeliling kamar ia tersadar bahwa kini ia bukan berasal di kamarnya, dengan segera Jenandra melangkahkan kaki untuk pergi keluar. Baru saja melangkahkan satu kaki tetapi penciumannya sudah menangkap bau yang enak.
"Eh Jenan? Gimana udah enakan badannya?" Tanya Athea yang kini tengah memotong sayuran.
"Kok aku bisa ada di sini sih Thea?" Tanyanya sembari menghampiri Athea.
"Iyaa kamu semalam ke sini, mungkin sekitar jam 22.00? Terus kamu minta di elus sampai tertidur dehh," Athea menyodorkan segelas air putih kehadapan Jenandra. Jenandra menerima dengan senyuman bulan sabit miliknya.
"Ah gitu yaa..., pantesan aja sekarang kepala aku udah nggak pusing." Ucapnya, membuat Athea terkekeh lucu. Athea tengah sibuk menghidangkan bubur di hadapan Jenandra dan beberapa sayuran yang terlihat sangat menggoda mata dan juga perut.
"Makan dulu Jen, mau aku siapin?"
Jenandra tentu saja mengangguk antusias, Athea tersenyum cantik lalu menguapi Jenandra yang pintar sekali makannya. Athea merasa ia memiliki bayi besar yang menggemaskan dan juga manja.
.....
Kini hari akan memasuki siang hari, jam sudah menunjukkan pukul 09.58 WIB.
Momy baru bangun dari tidur cantiknya, setelah itu ia memutuskan untuk mandi. Baru selesai mandi ia menuju kamar sang putra. Momy membuka pintu itu perlahan, dilihatnya posisi Jenandra masih sama seperti tadi malam, Momy mendekati kasur sang putra.
"Jen... Ayo bangun, kita makan siang dulu," Momy ingin menyentuh tubuh sang putra tetapi dirasa bahwa itu bukan tubuh sang putra.
Momy segera mengingkapkan selimut itu, dan disana hanya terdapat guling. Momy tentu saja terkejut dirinya segera beranjak untuk pergi ke kamar mengambil ponselnya lalu mengklik nomor Jenandra.
.....
Jenandra mengangkat telfon dari sang Momy dan menyalakan spiker telponnya agar Athea dapat mendengarnya juga "Iya Mom? Kenapa?" ucap Jenandra nada yang sudah mulai membaik.
"Kenapa-kenapa, kamu ini kemana aja hah?! Momy liat di kamar guling kamu malah di pakein selimut. Momy kira itu kamuu," Ucap sang Momy di seberang sana sembari menaikkan nada bicaranya sebanyak dua oktaf.
Jenandra hanya terkekeh geli, dia sedikit ngeprank sang Momy. "Jen lagi di rumah calon pacar Jen," ucapnya sembari menatap ke arah Athea. Athea yang juga mendengarkan pembicaraan Momy dan Jenandra tersebut tersenyum salah tingkah.
"Hah? Calon pacar kamu? Kaya punya ajaa, lagian kamu kenapa ke sana?" Pertanyaan beruntun Momy layangkan kepada sang putra.
"Iyaa abisnya Momy sama Dad sibuk banget kerja, Jen kan emang biasa kalo sakit harus di elus biar cepet sembuh." Ucapnya sembari mengecutkan bibirnya, membuat Athea tak tahan untuk mencubit pipi lelaki tampan itu. Jenandra yang dicubit gemas oleh Athea hanya mampu tersenyum bagaikan bulan sabit.
"Iya deh Momy minta maaf yaa.. Ya udah cepetan pulang, bawa calon pacar kamu itu ke sini biar bisa makan bareng."
"Iyaa Mom… Nanti siang kita ke rumah yaa..."
Tanpa menjawab ucapan dari Jenandra, Momy segera mematikan telponnya.
"Kamu kenapa cubit pipi aku?" Tanya Jenandra dengan mengedipkan matanya beberapa kali.
Athea tersenyum gemas "Iyaa abisnya reflek aja gitu, kamu gemes banget." Mereka berdua tertawa.
"Eh? J-jen.. M-maksud ucapan kamu tadi apa?" Tanya Athea menatap Jenandra dengan intens, Jenandra tentu mengerti dan ia hanya tersenyum.
"Ihh kamu ini..." Athea mencubit pipi Jenandra pelan, "Jawab dong Jenn... Aku kan j-jadi-"
"Jadi apa? Iyaa emangnya kenapa sih.. Hmm?" Jenandra mendekatkan badannya kepada Athea, membuat Athea tersipu malu lalu mengalihkan atensinya ke arah lain.
"Iyaa.. Tapi kan kamu nggak harus ngomong kaya gitu aku kan j-" ucapan Athea terpotong oleh Jenandra.
"Kenapa? Kamu nggak mau jadi pacar aku? Emang harus nunggu berapa lama lagi untuk jadi pacar kamu?" Tanyanya secara serius, amat serius malahan.
"Nggak gitu maksud aku, aku takut aja Jen kamu manfaatin perasaan aku. Aku takut kamu sia-siakan perasaan aku," ucap Athea lalu menarik nafasnya sejenak.
"Aku cuman trauma aja sama masa lalu aku. Tolong jangan buat aku ragu ya Jen, aku cuman nggak mau sakit hati lagi untuk yang terakhir kalinya." Ucapan panjang Athea hanya dapat Jenandra dengar dengan baik, bisa lelaki itu melihat bahwa wanita yang berada di hadapannya ini menyimpan banyak luka.
"Kamu tenang aja Thea," ucap Jenandra yang kini mengambil lengan Athea untuk di ganggam olehnya.
"Aku bukan laki-laki kaya gitu, dan kamu bisa benci aku jika aku berbuat seperti itu."
Athea tersenyum atas jawaban yang diberikan oleh Jenandra. "I-iyaa udahh.. Aku mau," ucap wanita itu yang kini wajahnya sangat menona merah
"H-hah? K-kamu beneran mau?" Tanya Jenandra masih tidak menyangka dengan jawaban yang Athea berikan.
"Iyaa.. Aku mau, asalkan kamu tepati janji kamu yaa.."
Jenandra mengangguk antusias. Keduanya tak mampu untuk menyembunyikan rasa bahagianya, mereka berpelukan dengan senyuman yang tak dapat keduanya sembunyikan.
"Makasih... Makasih udah mau percaya."
Mereka melepaskan pelukan keduanya, Athea tersenyum bahagia begitu pula dengan Jenandra. Jenandra menggenggam lengan Athea.
"Thea.. Abis ini kita ke rumah Jen yaa.. Jen mau kenalin pacar baru Jen, yang dengan dapat membuat seorang Jenandra Bratadikara jatuh cinta dengan mudah."
"Kamu ini.." Athea memukul lengan Jenandra pelan
"Emangnya kapan kita kerumah kamu?"
"Sekarang aja yuk."
"Hah??? Beneran? Sekarang? Kenapa harus sekarang Jen.., aku belum siap tauu ketemu orang tua kamu." Ucap Athea dengan nada lesu.
Jenandra hanya terkekeh mendengar hal itu. "Nggak apa-apa kok, Momy pasti bakalan seneng banget kalo misalnya punya menantu kaya kamu yang cantik, pinter, pinter masak lagii."
"Ihh.. Jenan!! kamu bisa aja dehh."
Keduanya terkekeh, "Yaudah tapi... Udah gitu kamu harus pergi nemuin orang tua aku juga yaa.."
"Siapp sayang-kuu," ucap Jenandra dengan pose hormat. Mereka menghabiskan waktu dengan membagi cerita cinta yang baru akan dimulai.
✧・゚: *✧・゚:*
Makasih udah baca💙
KAMU SEDANG MEMBACA
[ Anagata👑 ]
Teen FictionJenandra menuruni tangga sembari menenteng jasnya, dua kancing baju teratasnya di biarkan terbuka begitu saja. Dia tersenyum melihat Momy nya sedang memasak, dia juga sempat melirik Daddy nya yang tengah menikmati secangkir teh. Jenandra memeluk tub...
![[ Anagata👑 ]](https://img.wattpad.com/cover/353511510-64-k396652.jpg)