15

229 80 11
                                        

Jenandra Athea untuk berjalan ke arah tempat pemetikan bunga secara langsung.

Setelah meminta izin pada penjaga, orang itu langsung memberikan keranjang, gunting, dan topi untuk para wisatawan yang ingin memetik bunga supaya tidak kepanasan.

"Athea coba hadap sini."

Jenandra memasangkan topi itu pada Athea, merapikan rambut wanita itu.

"Nah udah cantik banget dehh."

Athea tersenyum "Ayo petik bunganya sekarang," ucap Athea semangat, Jenandra yang berjalan di belakangnya hanya tersenyum melihat Athea yang sangat semangat.

Mereka memetik beberapa bunga tapi tentu tulip putih mendominasi isi keranjang yang dibawa Jenandra, sedangkan pelaku yang memetik bunga itu tentu Athea.

"Masih mau memetik bunga lagi?" Tanya Jenandra sebab keranjang sudah penuh.

Athea menatap keranjang yang dibawa Jenandra, benar saja keranjang sudah penuh oleh bunga-bunga yang cantik.

"Kalo kamu mau metik lagi aku ambilin keranjang baru," tawar Jenandra saat melihat wajah Athea cemberut.

"Nggak deh, bunganya udah terlalu banyak, kasian bunganya biar pada tumbuh cantik dulu."

"Yaudah kalo gitu kita bayar dulu bunga-bunga ini."
Setelah membayar sekeranjang bunga itu, Jenandra dan Athea berkeliling menuju stand-stand makanan. Mereka membeli beberapa makanan yang dijual disana.

"Jen bunganya mau di bagi dua gimana?" Tanya Athea setelah selesai memakan makanannya.

"Gak usah, bawa aja lagi pulakan emang bunganya aku petik buat kamu."

"Tapi bunganya terlalu banyak juga, apalagi aku gak bakal pulang ke rumah."

Athea menampilkan wajah berpikirnya, sedangkan Jenandra hanya diam menatapnya. Biarkan wanita cantik itu membuat keputusannya sendiri.

"Aku punya ide, gimana kalo kita bagiin aja bunganya ke para pengunjung di sini, bolehkan?" Tanya Athea.

"Sure princess," ucap Jenandra menampilkan senyum bulan sabitnya.

"Kalo gitu ayo bagikan."

Mereka berdua membagikan bunga-bunga itu pada para pengunjung dan wisatawan yang datang. Menyisakan beberapa tangkai bunga tulip dan mawar untuk Athea bawa.

Tak terasa jam demi jam sudah berganti, matahari pun sudah mulai berganti menjadi warna jingga. Setelah selesai membagikan bunga, Athea dan Jenandra duduk di kursi yang langsung mengarah pada hamparan taman bunga ditemani matahari yang mulai terbenam.

Mata Athea tidak lepas menatap keindahan yang terpangpang nyata di depannya.

"Cantik," ucap Jenandra.

"Iya pemandangannya cantik, aku suka banget," ucap Athea tanpa mengalihkan tatapannya.

"Bukan pemandangannya, tapi kamu," ucap Jenandra menatap lekat wanita di sampingnya.

"Eh?!" Athea menatap Jenandra kaget.

"You look so beautiful, apalagi ditambah sama  bunga itu, look like princess," jelas Jenandra membuat pipi Athea bersemu merah.

Tadi saat selesai membagikan bunga, Jenandra memang membuatkan Athea mahkota dari rangkaian bunga-bunga kecil. Untung saja dulu ia diajarkan oleh sang Daddy untuk membuat mahkota dari bunga.

"Udah mau malem, mau pulang sekarang." Ucap Jenandra beranjak dari duduknya, sambil menjulurkan tangan kanannya pada Athea.

Athea menerima uluran tangan itu, berjalan di samping Jenandra dengan tangan yang saling bertaut. Seperti biasa, sebelum Jenandra masuk ke mobil, laki-laki itu selalu membukakan pintu terlebih dahulu untuk Athea. Mobil mewah Jenandra melewati jalanan Jakarta yang selalu padat kendaraan bahkan saat hari weekend sekalipun.

"Kamu mau pulang ke apartemen kan?" Tanya Jenandra tetapi matanya fokus ke depan.

"Apartemen aku deket sama kantor kamu, lebih tepatnya gedung apartemen xxx," jelas Athea.

Mendengar penjelasan Athea membuat Jenandra mengumpat dalam hatinya. Astaga kemana saja ia selama ini baru bertemu Athea dua bulan belakangan. Padahal gedung apartemen Athea berseberangan langsung dengan restoran yang selalu ia dan Jemery datangi saat waktu makan siang.

Sebelum pulang mereka mampir ke sebuah supermarket, karena Athea harus berbelanja bahan makanan. Tak memakan waktu yang cukup lama untuk berbelanja, sekarang mobil mewah Jenandra pun sudah sampai di depan gedung apartemen Athea.

Jenandra turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk bidadari pujaan hatinya. Athea turun dari mobil, sebelum masuk ke dalam gedung apartemen nya Athea berdiri menghadap Jenandra.

"Makasih buat hari ini Jen, aku seneng banget dan sekali lagi makasih buat bunga dan mahkota bunganya," ucap Athea menampilkan senyum manisnya, Jenandra membalas senyuman itu tak kalah manis.

"Iya sama-sama, ah iya aku punya sesuatu buat kamu," ucap Jenandra mengambil kotak kecil berwarna merah maron di dalam tas nya.

"Kamu buka pas udah di apartemen aja ya.." Jenandra menyerahkan kotak itu, Athea menerimanya.

"Iya nanti aku buka, makasih ya Jen"

"Iya..Aku duluan ya, good night Athea" pamit Jenandra melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.

"Hati-hati," ucap Athea.

Mobil Jenandra semakin menjauh dari gedung apartemen itu. Athea masuk ke dalam, berjalan ke arah lift menuju lantai 24, tepat dimana unit apartemen nya berada.

Sampai di unit apartemennya, Athea memasukan pin dan masuk ke dalam. Sudah lama rasanya ia tak menempati apartemen itu.

Menyimpan keranjang bunga dan belanjaan diatas meja pantry dapur, Athea mengambil vas kaca di lemari. Mengisi vas kaca itu dengan air, merangkai tangkai bunga dan memasukkannya ke dalam vas. Ia juga membereskan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Setelah selesai Athea masuk ke dalam kamar, menyimpan tas, mahkota bunga dan kotak dari Jenandra di meja samping tempat tidur.

Setelah itu Athea masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, beberapa saat kemudian Athea keluar dari kamar mandi dengan piyama pendek dan wajah yang sudah terlihat lebih fresh. Ia duduk di atas kasur, Athea mengambil kotak pemberian Jenandra dan membukanya.

Ternyata di dalam kotak itu terdapat kalung yang cantik dengan liontin berbentuk bunga kesukaannya, yaitu tulip putih. Di balik kalung itu juga terdapat secarik kertas.

'Kalung cantik untuk wanita yang sama cantik nya, di pakai ya.' ~Jen

Hanya itu pesan di dalam kertas tersebut, Athea menatap kalung itu dalam diam. Benarkah ia mulai menerima Jenandra untuk masuk ke dalam hatinya?

Benarkah rasa cinta mulai tumbuh untuk laki-laki yang bahkan baru ia kenal selama dua bulan belakangan ini. Athea memang pernah dekat dengan banyak laki-laki, tapi itu hanya sebatas untuk bermain-main, Athea tidak pernah mau memiliki hubungan lebih serius. Bahkan Athea pernah dekat dengan seseorang sampai orang-orang berpikir mereka berpacaran atau bahkan sudah bertunangan saking dekatnya hubungan mereka, tapi saat laki-laki itu mengajak Athea pada hubungan yang lebih serius Athea menolaknya.

Menurut Athea hubungan percintaan itu hanya sebuah permainan menuju kesakitan belaka, hanya waktunya saja yang menyamarkan.

Ibarat teh, semanis apapun gula yang dituangkan ke dalamnya, rasa pahit teh itu akan tetap terasa. Athea terlalu enggan mencobanya.

Tapi semenjak kedatangan seorang Jenandra Bratadikara ke dalam hidupnya, laki-laki itu bisa merobohkan tembok yang cukup lama ia pasang di hatinya.  Hati Athea seolah menerima perlakuan Jenandra dengan senang hati tanpa penolakan. Ia berharap Jenandra seperti Papi nya bisa mencintai dengan begitu besar kepada sang Mama dan Papi nya tidak sedikitpun berkhianat entah kepada istri atau pun anaknya.

Akankah ia luluh pada sikap manis yang selalu laki-laki itu berikan?

Mampukah Athea merasakan perasaan cinta yang selalu dirinya sangkal?

















Tiger, aku update 1 part dulu yaa hehehe MIANHAE💙.

・゚: *✧・゚:*
Makasih udah baca💙

[ Anagata👑 ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang