- Keesokan Pagi, Kamar Hotel Karin -
Bel kamar Karin berbunyi, Harun bangun dengan sempoyongan. Ia masih merasakan kantuk, meraih bathrobe dan membuka pintu dengan mata setengah terbuka.
"Ya?"
"Ngapain lu di sini?" Pertanyaan tiba-tiba dari suara yang cukup familiar membuat Harun otomatis terbangun.
"Hallo, selamat pagi temannya Karin." Ucap Harun enteng.
"Gue tanya lu ngapain di kamar Karin?"
"Ssst, jangan berisik. Karin masih tidur."
"Brengsek! Jangan main-main!"
"Wo wo, santai bro. Harusnya gue yang marah, ngapain lu ke kamar hotel cewek gue sepagi ini? Jangan-jangan lu yang mau main?"
"Jangan sembarangan kalo ngomong!" Yohan berbicara pelan namun penuh penekanan sambil menunjuk hidung Harun.
"Mata lu tuh yang jangan sembarangan, jelalatan ke cewek gue."
Yohan tidak bisa mengelak, pandangannya memang selalu tertuju pada Karin.
"Mending lu jauh-jauh dari cewek gue, dia ga suka sama lu! Sana pulang! Ganggu aja."
"Harun? Siapa?"
Terdengar suara serak Karin dari dalam.
"Room service yang, salah kamar."
"Ayin, ini Yohan. Keluar atau aku telfon ayah kamu." Ucap Yohan lantang.
Harun berjengit kaget mendengar kalimat Yohan, ia mengumpat dalam hati dan menarik rambutnya dengan frustasi.
Karin menghampiri pintu dan menarik Yohan masuk ke dalam kamarnya.
"Yohan, aku-. Yo, kamu ga serius kan bilang soal ini ke ayah?"
"Aku serius, kecuali ni cowok brengsek pergi sekarang juga. Aku bakal pikirin lagi untuk bilang semuanya ke ayah kamu."
"Please, Yohan-."
"Anjing-" Harun menarik baju Yohan hendak memukulnya karena kesal, namun dicegah Karin.
"Harun stop!"
"Tapi yang, dia-"
"Harun, stop. Please!"
"Oke, fine!" Harun melepas cengkramannya di baju Yohan dan mendudukan bokongnya di kasur secara kasar hingga badannya sedikit memantul.
"Kamu mending pulang."
"Denger tuh kata cewek gue, lagian ga ada kerjaan banget nyamperin pacar orang sepagi ini."
"Maksudku kamu, Run."
Harun menatap Karin tidak suka, ia tidak menyangka Karin malah mengusirnya.
"Jangan becanda, Yang. Aku ga izinin ya kamu berduaan sama nih cowok gatel."
"Aku perlu ngomong sama Yohan, kamu pulang dulu ya?"
"Ngga, aku ga mau!" Ucap Harun merajuk.
"Hallo? Iya Bu ini Yohan udah di hotel Ayin, baru bangun anaknya-." Ucapan Yohan terputus karena Karin mengambil handphonenya secara paksa.
"Ibu? Ini Ayin. Ayin minum dikit semalam Bu. Aman kok, abis ini Ayin sarapan. Iya, ibu ga usah khawatir. Dah, ibu."
Telfon terputus, Karin menyerahkan HP Yohan ke pemiliknya.
Karin memijit pelipisnya karena pusing, efek alkohol yang diminumnya semalam dan tentu saja karena situasi pagi ini tidak kalah membuat kepalanya pening.
"Yang?"
"Kamu pulang dulu ya? Nanti aku hubungi kamu." Ucap Karin final.
Harun tidak punya pilihan lain selain menurut, ia melihat dan mendengar secara langsung bahwa ucapan Yohan bukan ancaman belaka. Sepertinya Karin takut pada ayahnya, dan sekarang ia tidak bisa gegabah. Harun beranjak ke kamar mandi untuk berpakaian, ia langsung pergi setelah berpamitan dan sengaja mengecup bibir Karin di hadapan Yohan. Yohan melengos melihat adegan itu.
"Putusin dia, Yin."
"Yohan?"
"Apa sih yang kamu lihat dari cowok kurang ajar kaya dia?"
Karin hanya duduk terdiam, menunduk dan memijat pelipisnya.
"Dia masih sempet cium kamu di depan aku, ga sopan, Yin. Padahal dia tau aku bisa aja aduin hal ini ke orang tua kamu."
"Kami ga ngapa-ngapain. Setelah prom semalam Harun emang ga pulang, tapi kami cuma tidur. Ga lebih."
"Aku mau percaya sama kamu, Yin. Tapi ga bisa."
"Aku ga minta kamu percaya. Please Yo, jangan bahas soal ini ke ibu, apalagi ayah."
"Kita ngobrol sambil makan. Kamu mau mandi dulu atau ngga?"
"Aku mau mandi, kita keluar sekalian aku checkout."
"Oke."
.
.
.
"Yin, aku serius kamu harus putus."
"Udahlah Yo, jangan dibahas lagi."
"Harus dibahas, tuh cowok bawa pengaruh buruk. Dia juga ga ada baik-baiknya."
"Bukan urusan kamu."
"Jelas urusan aku, orangtua kamu nitipin kamu ke aku. Kalo ada apa-apa, aku yang tanggung jawab."
"Ya ga usah, kamu tinggal nolak. Kita ga lebih dari teman lama."
"Kalo dulu kita ga putus, aku yakin kita masih pacaran."
"Apa sih kok jadi bahas dulu?"
"Kamu ga inget gimana kamu mohon-mohon ke aku untuk ga putusin kamu? Sekarang gantian, aku yang bakal usahain segalanya biar bisa dapetin kamu lagi. Apapun caranya."
"Kok jadi bahas itu lagi? Aku udah bilang ga bisa."
Yohan mengedikan bahu tanda tidak peduli. Keduanya berakhir saling diam, lebih tepatnya Karin enggan menanggapi Yohan. Dan Yohan? Tentu saja semakin gencar menempeli Karin dengan berbagai alasan, mulai dari membantu packing barang untuk pindahan, hingga alasan sepele mengantar kue buatan ibunya.
Karin pada akhirnya hanya pasrah, sekeras apapun ia berusaha mengacuhkan Yohan, tidak akan membuat Yohan menyerah untuk berdekatan dengannya.
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
PLAYERS - Haruto X Karina
FanfictionSatu universe dengan sweet 17, cerita dengan pair Winter x Asahi. Bisa cek book sebelah 👻 - Harun Ardiansyah - Sepengetahuan Harun, Karin adalah teman Wina, sahabat Arsa. Ia kenal Wina, tapi tidak dengan Karin. Harun cukup sering bertukar sapa deng...
