*toktok* Yohan melongokan kepalanya saat membuka pintu kamar Karin setelah mengetuk dua kali.
"Kenapa Yo?"
"Hai, boleh aku masuk?"
"Masuk aja."
"Kamu ga pernah keluar."
"Kan biasanya juga jarang keluar."
"Ibu khawatir tau kamu sering murung sekarang."
"Ngga kok, emang banyak tugas aja."
"Kamu tuh ga bisa boong, Rin. Kenapa? Cerita sama aku."
"Hah? Beneran ih, ga kenapa-napa. Ibu lebay aja, ibu juga jarang di rumah, sering ikut ayah tugas."
"Rin?"
"Apa, Yohan?"
"Kamu ada masalah sama pacar kamu?"
"Ng-ngga." Karin menjawab dengan gagap, mencoba menghindari tatapan mata Yohan. Matanya melihat kemana pun asal bukan ke arah Yohan.
"Kamu ngehindarin tatapan mata akau."
"Nggak!" Suara Karin meninggi, ia akhirnya menatap wajah Yohan.
"Oke. Soalnya kamu jadi beda setelah balik dari Jakarta. Beneran ga ada masalah?"
"Beneran. Pusing ngerjain banyak tugas, nyicil belajar buat UAS juga."
"Aku bisa bantu kamu kalo mau."
"Ga usah ah, lagian kita beda jurusan."
"Kita satu kelas di kelas bahasa inggris, kalo kamu lupa."
"Yup. Tapi kan ga ada tugas bahasa inggris juga, kalo kamu lupa." Karin meniru Yohan. Keduanya tertawa.
"Beneran, Yin, kamu baik-baik aja?"
Karin menatap Yohan lama, "Emang kalo aku ga baik-baik aja, kenapa?"
"Mungkin aku bisa bantu kamu jadi baik lagi? Ya aku yang pasti bakal usahain buat kamu bisa happy lagi."
"Aku putus." Karin menunduk, memilin ujung sarung bantal di pangkuannya.
Yohan membisu, tidak tahu harus memberikan respon apa. Tapi yang pasti, hatinya merasakan bahagia mendengar kabar putusnya Karin. Meskipun ikut prihatin melihatnya murung selama 2 minggu terakhir.
"Yin?"
"Ya udah lah, ga penting juga. People come and go. Right?"
Yohan memutuskan mendekat, mendekap tubuh Karin dan mengusap punggungnya lembut.
"Of course. You deserve someone better." Bisiknya.
"Thanks." Karin membalas pelukan Yohan, ia mengusap ujung matanya yang basah.
Yohan menarik tubuhnya menjauh, menatap wajah sendu Karin.
"Mau keluar? Buat menghirup udara segar dan suasana baru, maybe?"
Karin menggeleng. "Mager. Ga ada tenaga, Yoo." Karin merebahkan tubuhnya.
"Novel series yang kamu ikutin, keluar buku lanjutannya tau." Yohan lalu diam, demi melihat ekspresi Karin. "Tuh kan, ada info sesi tanda tangan juga nih."
Demi mengkonfirmasi info itu, Karin bangun dan mendekat ke arah Yohan. Turut melihat layar HP Yohan yang menampilkan info tanda tangan penulis favoritnya.
"Ah, sumpah, pengen banget, tapi mageeer." Karin merengek.
"Ada sesi fotbar juga nih. Nyesel lho Yin, jarang-jarang dia ke Semarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
PLAYERS - Haruto X Karina
FanfictionSatu universe dengan sweet 17, cerita dengan pair Winter x Asahi. Bisa cek book sebelah 👻 - Harun Ardiansyah - Sepengetahuan Harun, Karin adalah teman Wina, sahabat Arsa. Ia kenal Wina, tapi tidak dengan Karin. Harun cukup sering bertukar sapa deng...
