27

327 11 3
                                        

Hari ini adalah ulang tahun Harun, meskipun LDR, Karin sudah merencanakan dengan cukup matang. Ia akan menemui Harun di Jakarta, memberi kejutan dan ulang tahun Harun akan menjadi momen berkesan bagi keduanya.

Namun siapa sangka, eksekusi kejutannya tidak sesuai dengan yang Karin rencanakan. Ekspetasinya terlalu tinggi mengingat tabiat Harun yang tidak pernah puas akan dirinya.

Karin berdiri mematung, ia melihat presensi Harun dengan seorang gadis yang berada di pangkuannya. Suara musik begitu berisik, sorak-sorai yang Karin duga teman-teman Harun tak luput dari pendengarannya.

Karin menarik nafas, mencoba mengembalikan kewarasannya, bumi seolah berhenti berotasi. Karin merasakan pening di kepalanya melihat gadis di pangkuan Harun bergerak acak atau memang sengaja menggoda pacarnya. Musik dimatikan, hingar bingar sorakan di ruangan itu berhenti dan membuat Harun sadar akan presensi Karin.

"Yang??" Harun berdiri, mendorong gadis di pangkuannya. Ia menatap Karin dengan tatapan kaget.

Karin menaruh kue yang ia bawa di atas meja, menatap Harun dengan datar. "Selamat ulang tahun, semoga gue ga ganggu pestanya ya."

"Guys, pestanya udahan ya. Semuanya bubar!" Harun setengah berteriak. Seperti komando, semua teman-teman Harun lekas berkemas dan membubarkan diri untuk pulang.

Karin mengedarkan pandangan, sepi. Ia yang semula mematung pun akhirnya bergerak. Ia berjalan gontai, tidak sesuai kehendaknya yang ingin pergi secepat mungkin dari apartemen Harun.

"Yang ih, mau kemana? Buru-buru banget?" Harun mencekal lengan Karin.

"Lepas! Gue mau putus." Ucap Karin datar, enggan menatap wajah Harun.

"Apa sih tiba-tiba banget minta putus?"

"Aku gak bisa lagi, Run. Kamu, tadi–"

"Sumpah aku ga ngapa-ngapain, tadi tuh cuma main game. Anak-anak emang sengaja ngasih dare kaya gitu. Kamu jangan salah paham."

"Salah paham? Kamu pikir aku salah paham?" Suara Karin serak.

Harun mengangguk. Kakinya sedikit goyah dan matanya tidak fokus, efek alkohol yang diminumnya.

"Sumpah yang, aku ga bohong."

Harun memegang tangan Karin, menariknya ke sofa panjang di tengah ruangan apartemen Harun, mendorongnya untuk duduk dan ia menyandarkan kepalanya di pundak Karin. Ia memeluk kekasihnya dengan erat, memejamkan matanya karena kepalanya mulai teras pusing.

"Aku sedih banget pas kamu bilang ga jadi dateng, tapi sekarang aku seneng kamu di sini. Makasih sayang."

Harun menengadah, menaruh dagunya di pundak Karin. Menatap wajah Karin dari samping, kekasihnya masih memilih diam.

"Yang?"

"Sampai kapan kamu mau kaya gini, Run?"

"Mm, sampai kangenku ilang? Ah, aku kangen banget sama kamu. Masa peluk doang kamu protes?"

Karin menoleh, menatap tajam Harun yang merengek.

"Oke, salah aku dateng ke sini tanpa pemberitahuan. Ekspetasi aku terlalu tinggi yang nyangka kamu bakal nyambut aku sedemikian rupa, tapi aku ga nyangka aja masih bisa kaget ngeliat kelakuan kamu." Ujar Karin tenang.

"Apa sih, yang? Emang aku ngapain? Ini cuma pesta ulang tahun biasa,  main game, minum, ya aku mabok dikit. Tapi aku masih sadar ya, ini bisa ngomong sama kamu."

Karin menunduk, menyangga kepalanya dengan kedua tangan, sikunya bertumpu di atas lutut. Perasaannya tak menentu, antara marah, kecewa, tapi ia tak bisa menangis.

"Harun?" Karin menatap lekat wajah Harun yang menunggunya bicara.

"Kita putus aja, ya."

Raut wajah Harun berubah, ekspresi wajahnya mengeras mendengar penuturan Karin. Mengajaknya putus untuk kedua kalinya hari ini, hanya dalam waktu kurang dari 1 jam.

"Apa sih sembarangan banget kalo ngomong! Gara-gara aku bilang ga bisa LDR? Tapi buktinya kita baik-baik aja, kan."

Karin diam, menatap mata Harun yang memerah. Menelisik ekspresi wajahnya yang terus berubah.

"Kamu selingkuh?"

Karin tersentak dengan tuduhan Harun, tidak paham dengan jalan pikirannya. Ia tertawa mengejek.

"Jangan ketawa, kamu!" Hardik Harun.

"Kalo aku selingkuh, terus kamu apa?"

"Emang aku ngapain? Hah!"

"Jangan bilang kamu selingkuh sama cowok kegatelan itu ya?"

"Kalo iya, kamu bakal putusin aku?"

"Kita ga akan putus, aku ga akan pernah putus sama kamu."

Karin berdiri. Harun menarik untuk kembali duduk.

"Kamu udah ngapain aja sama tuh cowo?"

"Apa sih kok jadi playing victim gini? Jangan gila kamu!"

"Aku bakal gila beneran kalo kamu putusin aku, Rin."

Karin mengernyit, semakin tidak suka dengan pembicaraan ini. Karin memijat pelipisnya.

"Aku pulang aja. Percuma ngomong sama kamu sekarang."

"Ngga. Kamu ga akan kemana-mana, kamu tetep di sini."

"Kamu mabok, Run. Kita ngobrol pas kamu sadar aja, ya. Itupun kalo aku masih mau ngomong sama kamu!"

Harun mendorong Karin hingga terbaring, menindih, mencium bibirnya dengan paksa.

"Harun, stop!" Karin mencoba melepaskan diri dari cengkraman Harun, namun tangannya dengan kuat mencekal Karin. Menggenggam kedua tangan Karin di atas kepalanya.

Tangannya mulai menggerayangi payudara Karin, memberikan ciuman sensual di rahang dan tulang selangkanya.

"Aku bilang, stop!"

Karin menampar pipi Harun, membuatnya menghentikan ciumannya dan membeku. Karin mendorong Harun, ia berlari ke sisi ruangan.

"Kita putus."

Harun menatap punggung Karin yang menghilang di balik pintu apartemennya. Ia masih terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.

"Bangsat!" Harun meraih gelas di meja, melemparnya ke tembok, mencoba melampiaskan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Harun marah, benar-benar marah. Seolah waktu satu tahun yang ia habiskan bersama Karin tidak ada artinya, gadis itu meninggalkannya tepat di hari ulangtahunnya.

Ia tidak mengerti, awalnya semua berjalan lancar. LDR bukan lagi jadi masalah. Ia masih mendapat perhatian dan afeksi dari Karin.

"Karin selingkuh?" Bisiknya.

Pertanyaan Karin tentangnya terus terngiang, "Kalo aku selingkuh, terus kamu apa?"

"Apa? Gue ga selingkuh! Gue cuma ngewe. Ga pake hati. Apa itu juga selingkuh? Bukannya malah jadi impas? Terus masalahnya dimana? Kenapa harus putus?"

Semua pertanyaan itu menghantui pikiran Harun. Ia menjambak rambutnya, frustasi karena tidak mendapatkan jawaban apapun.

Harun minum sampai mabuk, dan akhirnya pingsan. Ia memilih alkohol merenggut kesadarannya, daripada harus tetap sadar dan merasakan dadanya nyeri.

- TBC -

PLAYERS - Haruto X KarinaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang