14

144 35 107
                                        

Annyeong, everyone!! Balik lagi dengan author cherry!

Oh, kali ini. Cherry gak sendirian loh. Cherry ada project duet sama author Pizza! Ini salah satu cerita yang kita buat.

Mari kita persembahkan, author kita! realpacarsatya

Ini project sesama Carat. Carat merupakan salah satu fandom Kpop yang sangat terkenal.

Semoga kalian suka, dan jangan lupa tinggalin jejak dan kasih komen ya!!

Cerita ini, update setiap hari rabu. Mengikuti jadwal 'Gose/Going Seventeen.'

🍒🍕🍒🍕🍒🍕

Acara tahunan yang selama ini selalu berjalan mulus, malam itu runtuh dalam sekejap. Kursi penonton yang semula penuh harap berubah menjadi deretan wajah kecewa. Bisik-bisik bernada protes terdengar di mana-mana. Beberapa penonton memilih pergi sebelum acara benar-benar ditutup, sementara awak media dengan sigap mencium bau sensasi.

Keesokan harinya, berbagai judul berita bermunculan.
Pengurus acara dinilai tidak profesional.
Keamanan dianggap lalai.
Manajemen dituding gagal menjaga kondusivitas panggung.

Nama Aya—Athaya, sang ratu balet—ikut terseret di antara kekacauan yang seharusnya tak pernah menjadi tanggung jawabnya.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Dipta sama sekali tidak menghiraukan teriakan Hana yang terus menggema. Baginya, dunia menyempit menjadi satu titik: Aya. Tanpa ragu, ia berlari menembus kerumunan, menepis bisikan, tatapan, dan kamera yang mengarah padanya.

“A-Aya, gue bisa jelasin,” ucapnya terburu-buru, napasnya tersengal.

Aya berhenti melangkah. Namun ia tidak menoleh sepenuhnya. Suaranya terdengar parau, seolah setiap kata harus ditarik keluar dari dadanya dengan susah payah.
“Untuk apa?”

Dipta terdiam.

“Kalau lo memang nghamilin dia,” lanjut Aya dingin, “Nikahin aja. Lo nggak perlu minta maaf ke gue. Kenyataannya, kita nggak punya hubungan apa pun yang mewajibkan untuk klarifikasi.”

Untuk kali ini, Aya memilih membohongi perasaannya sendiri. Ia tahu, jika ia terus bertahan, yang hancur bukan hanya hatinya—melainkan seluruh dirinya. Dipta tidak tahu. Tidak akan pernah tahu. Bahwa Aya adalah Zura, perempuan yang selama ini ia rindukan dalam diam.

Sebuah hubungan hanya bisa dijalani oleh dua orang. Bukan tiga, apalagi lebih. Cinta yang sejati memberi ruang bernapas, bukan menyesakkan. Memberi kepastian, bukan luka yang terus diperpanjang.

“Tapi gue nggak nghamilin dia, Aya,” suara Dipta bergetar.

Aya akhirnya menoleh. Tatapannya kosong.
“Terus, buat apa lo jelasin ke gue?” tanyanya, nadanya naik. “Semua ini buat apa? Itu nggak akan mengubah fakta kalau lo—dituduh.”

Dipta menarik napas panjang, menahan air mata yang menggenang.
“G-gue nggak seperti yang lo pikirin.”

“Semua orang bisa ngomong,” sahut Aya lirih. “Tapi tanpa bukti, nggak ada yang bakal percaya. Bahkan gue.”

Pegangan Dipta di bahu Aya perlahan mengendur. Ia menyerah.
“Gue kira… hubungan kita spesial, Ya,” katanya dengan tawa hambar. “Gue cuma pengin satu hal—kepercayaan lo. Itu aja.”

Gue berharap omongan lo bener, Dip, batin Aya. Tapi gue terlalu capek buat berharap.

Plak!

The Ballerina [⚠️Tahap Revisi⚠️]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang