How Much I Love You, How Much I Need You

14 0 0
                                        

Ernest menyingkirkan ponselnya setelah layar benda berukuran empat inchi itu menampilkan unggahan foto terbaru di akun media sosial Mega. Tampak dalam foto itu Mega tengah berpose dengan seorang pria yang asing di mata Ernest. Lagi-lagi Ernest terbakar api cemburu. Ada sensasi terbakar di dadanya. Ia mengaku bahwa saat ini ia masih terkungkung dalam perasaan itu. Perasaan lama yang saban hari ia ingat dan sebut sebagai cinta. Namun, benarkah ini cinta atau justru obsesi semata? Entahlah Ernest tidak pernah tahu, yang pasti saat ini ia masih bersama perasaan yang sama, perasaan yang hadir ketika ia menjalani hubungan dengan seseorang di masa lalu. 

Ernest meneguk es jeruknya. Cuaca siang ini panas sekali. Kantin kampus ramai dipadati mahasiswa yang berbondong-bondong memesan minuman dingin. Ernest duduk sendirian di salah satu kursi panjang dekat kipas angin. Ia sedang menunggu Bang Weran, ketua BEM FIB yang masa jabatannya akan berakhir tahun ini. Rencananya, siang ini mereka akan membicarakan tentang kelanjutan kepemimpinan BEM FIB. Sebagai salah satu calon ketua BEM FIB, Ernest ingin membicarakan rancangan program kerja yang sudah ia susun. 

Cukup lama Ernest menunggu Bang Weran. Harusnya Bang Weran sudah sampai di sini sejak lima belas menit yang lalu sesuai dengan janji temu. Ernest ingin menghubungi Bang Weran, tetapi ia sudah terlanjur malas menyentuh ponselnya sehingga memilih untuk tetap menunggu. 

Tidak bicara dengan siapa pun membuat Ernest merasa bosan, hampir saja ia meninggalkan kantin dan membatalkan janji temunya dengan Bang Weran, akan tetapi niat itu ia urungkan tatkala ia melihat Emma yang kebingungan mencari bangku kosong untuk duduk. Di tangan kiri gadis itu membawa sebuah mangkuk, sedangkan tangan kanannya mendekap beberapa buku. Ernest melambai ke arah Emma ketika mata mereka tak sengaja bertemu tatap, tetapi reaksi Emma tak seperti yang Ernest harapkan. Bukannya mendekat, gadis itu justru membuang muka dan mencari kursi lain. 

Ernest tetap membidik bayang Emma. Gadis itu mendekati sebuah kursi yang jaraknya tak jauh dari tempat Ernest duduk. Sudah meletakkan mangkuk dan bukunya di atas meja, Emma justru diusir oleh seorang pria.

"Maaf, Mbak, ini tempat duduk saya. Nih, tas saya di sini sebagai petanda kalau kursi ini ada pemiliknya," tegur pria itu.

Emma tersungut. "Lain kali jangan ninggalin kursi kalau masih mau duduk, dong, Mas!"

"Loh, kok malah anda yang marah-marah? Saya ninggalin kursi saya karena tadi mengambil pesanan di kanin. Lagipula, sudah tahu ada tas di sini berarti ada yang nempatin kursinya. Dasar cewek, nggak mau salah, nggak mau ngalah!" gerutu pria itu.

Emma tidak ingin memperpanjang masalah. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk meninggalkan kursi itu. Celingak-celinguk ia memperhatikan sekelilingnya, tak ada kursi kosong selain kursi di depan Ernest.

"Ih, malas banget! Siapa juga yang mau semeja sama cowok nyebelin itu," monolog Emma. Lagi-lagi matanya bersitatap dengan mata Ernest. Ernest melambai ke arahnya, memberi kode untuk mendekat. "Heee, daripada baksonya dingin, mending aku duduk di sana saja, deh." Emma menghela napas panjang, mengalah dengan egonya.

"Kenapa? Gengsi? Dari tadi disuruh ke sini malah kebanyakan tingkah, akhirnya ke sini juga 'kan?" ledek Ernest. 

"Bawel banget, sih! Suka-suka akulah mau duduk di mana." Emma merespons sambil menuangkan kecap dan saus di atas meja itu ke dalam mangkuk baksonya tanpa menatap Ernest yang duduk di depannya. Uap panas mengebul ke atas ketika Emma mengaduk baksonya. 

"Dasar cewek gengsian!" ujar Ernest seraya menngambil garpu yang sengaja disediakan oleh pemilik kantin di atas meja. Ernest lantas menusuk sebutir bakso di mangkuk Emma.

"Eh ... eh ... eh, apa-apaan, sih!" protes Emma, "balikin!"

"Dih, pelit amat! Bakso sebutir doang dipermasalahin," ujar Ernest sembari melahap bakso itu dalam sekali suap. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 15, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DERANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang