Chapter 04

97.1K 3K 55
                                        

"Udah selesai," Hera menjauh membuat jarak keduanya tidak sedekat tadi. "Lo bisa kompres lagi setelah pulang nanti biar cepat baik."

"Hmm."

"Lain kali jangan sok jago jadi nyakitin diri sendiri kan." sindir Hera.

Nanggala diam tak menyahut ataupun berniat membalas ucapan dari gadis itu. Bukannya sok jago hanya saja ia dan Farez memang sudah biasa adu jotos kala mereka sedang tidak bisa mengendalikan emosi. Dan tadi, Farez sedang emosi. Nanggala sebagai sahabat tentu saja menawarkan diri. Hingga terjadilah adu otot untung saja Galang datang cepat.

"Gue mau balik ke kelas." ujar Hera sambil menepuk-nepuk roknya.

Nanggala menatap wajah Hera dengan datar. "Belum bel." ucapnya kemudian.

Hera tentu mendelik pada Nanggala. Ia tahu Nanggala memang suka membolos tapi ia tidak harus ikutan juga kali. Lagian ia juga heran dengan sifat cowok itu bukannya Nanggala orangnya cuek dan terkesan tidak peduli pada siapapun. Kenapa yang di depannya beda. Apakah Nanggala mempunyai dua kepribadian atau cowok itu ada dua orang aslinya.

"Gak bisa gue harus pergi lagian gue ada urusan yang lebih penting sekarang." ucapnya sambil melangkah mendekati pintu keluar.

Dahi Hera mengerut heran kala pintunya tidak bisa dibuka. Menoleh kebelakang dan berdecak melihat raut wajah Nanggala yang seolah ingin mengajaknya berantem.

"Mana kuncinya?"

"Cari sendiri lo mau keluar kan?"

"Oke, Lo taruh di mana kuncinya? Lemari, sofa atau meja?" tanyanya lalu menoleh ke berbagai arah yang kemungkinan dijadikan Nanggala meletakkan kuncinya.

Terdengar suara kekehan yang berasal dari cowok itu. Sontak Hera yang mendengar keheranan. Sepertinya, julukan cowok gila memang pantas di sematkan pada cowok itu.

Keduanya saling tatapan cukup lama. Nanggala memberi kode pada Hera di mana letak kunci pintu tersebut berada dengan arah matanya. Sementara, Hera mengernyit kala Nanggala mengkode nya untuk melihat depan kantung celana cowok itu. Lalu, beberapa detik kemudian mata Hera menatap horor pada Nanggala.

Nanggala menyeringai saat melihat gadis itu mundur beberapa langkah. "Mau keluar kan? Sini ambil."

"L-lo!"

"Gue kasih satu kesempatan lo buat ambilnya." potong Nanggala cepat.

"Nanggala!"

"Why? Lo cuma ambil di kantung celananya gue dan selesai. Sesimpel itu, Halera."

Benar-benar gila. Hera saja sudah bergidik ngeri dibuatnya. Mengambil dan akan selesai. Tidak, tentu ia tahu dengan akal busuk cowok didepannya itu. Walaupun di rumorkan Nanggala tidak suka berdekatan dengan perempuan tetap saja ia harus waspada.

Sepertinya, mulai sekarang ia tidak boleh mempercayai rumor tersebut. Kecuali ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nanggala memang suka lelaki. Tunggu, jika Nanggala memang belok bagaimana dengan nasibnya di masa depan? Menikah lalu akan menyaksikan perselingkuhan Nanggala dan seorang cowok. Jika selingkuhannya cewek Hera masih bisa memaklumi tapi kalo cowok? Membayangkannya saja ia mau mati.

"Lo lagi mikirin hal jorok?"

Hera tersadar dari lamunannya. Melihat wajah Nanggala yang terlihat menyebalkan membuat Hera berusaha lebih keras untuk membatalkan perjodohan mereka. Ia tidak mau menderita di masa depan.

"Sebenarnya mau lo tuh apa sih?" tanyanya tak habis pikir. "Gue sama lo emang di jodohin tapi lo gak bisa seenak jidat lo buat nahan gue di sini."

Kedua sudut bibir cowok itu terangkat. Takjub dengan keberanian cewek didepannya. Jika tadi Hera masih takut-takut padanya sekarang tanduk cewek mulai keluar. Dan Nanggala suka yang ini. Menarik.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang