Sudah follow?
Kalau belum follow terlebih dahulu
Selamat membaca
***
"Kenapa diam?" tanya Nanggala, bingung saat tidak mendengar tanggapan gadis dalam pelukannya.
Hera yang ditanya seperti itu ikutan bingung. Ia diam ya, karena memang tidak ingin bicara. Apa lagi Nanggala terus memeluknya tanpa ada niatan untuk melepaskannya.
"Entah kenapa gue lebih suka sama Halera yang dulu." gumamnya.
Nanggala membalikkan tubuh gadis itu sehingga keduanya saling berhadapan satu sama lain. Hera terdiam kaku saat tangan kekar lelaki dihadapannya itu membelai pipinya. Senyuman manis tercetak jelas di wajah tampan Nanggala begitu melihat leher jenjang sang gadis tampak menarik, ada bekas tanda perbuatannya di sana.
"Halera yang cerewet, kasar, keras kepala dan berani. Gue merindukan Halera yang dulu." Lanjutnya lagi. "Gue pengen dengar suara lo saat lagi kesal atau marah. Bukannya diam seperti bisu seperti sekarang."
Ada kalanya, Nanggala merindukan sosok Hera saat berani mengatainya tidak waras. Ia rindu dengan kepribadian Halera yang dulu, sebelum ia merusak mental gadis itu. Harusnya, ia bahagia saat melihat Hera yang kini telah jinak dan patuh, namun itu semua justru membuat ia tidak puas. Ia justru ingin Halera--nya seperti dulu.
Berbeda dengan Nanggala, Hera justru mendengus dalam hatinya dan memaki lelaki dihadapannya ini. Berbagai hewan yang ada di kebun bintang hampir ia sebut namanya. Ia patuh bukan karena tidak berdaya untuk melawan, justru sebaliknya. Ia hanya pura-pura patut dan jadi gadis lemah.
Hera melakukannya itu semua tentu untuk mengelabuhi Nanggala. Suatu saat nanti, ia akan kabur disaat lelaki tersebut sudah mulai lengah.
"Sayang!?"
Hera mengepalkan tangannya dengan kuat sembari mendongak. "K-kenapa?" tanyanya, gugup.
"Hari ini aku harus anterin kamu pulang." Nanggala mengusap bibir Hera dengan ibu jarinya, lalu kembali berkata. "Tapi setelah dipikir-pikir, besok aja ya, aku anterin nya. Hari ini aku mau sama kamu."
Oh, Astaga. Hera merinding mendengar suara lembut lelaki itu. Bahkan Nanggala menganti panggilannya menjadi aku-kamu lagi.
"Tapi gue--,"
"Aku, sayang!" potong Nangala sambil menatap tajam Hera.
Hera meneguk ludahnya. "Iya, aku ingin pulang hari ini, Gal."
"Kenapa? Kamu takut aku kebawa emosi lagi?"
"B-bukan gitu."
"Terus?"
Hera bingung jadinya untuk mencari alasan untuk segera lepas dari kegilaan Nanggala. "Aku merindukan orang rumah." Hera menggigit bibirnya.
"Jangan digigit!" tegur Nanggala. "Hanya aku yang boleh gigit bibir kamu, sayang." lanjutnya lagi.
"Maaf, aku boleh kan pulang hari ini?" tanya Hera harap-harap cemas. Ia bahkan sudah terkurung bersama Nanggala hampir tiga hari lamanya, mentalnya benar-benar terguncang kala mengingat sisi iblis lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NANGGALA
Fiksi RemajaDi jadohin sama cowok yang memiliki rumor gay padahal aslinya brutal. Hati Halera seperti dibuat ganjang- ganjing, saat berhadapan langsung dengan cowok gila, seperti Nanggala Putra Adiwijaya. *** Nanggala dengan segala rumor nya, keturunan Adiwija...
