Chapter 29

32.1K 880 56
                                        

Note: jangan lupa vote nya biar aku gercap update⚠️

***

Hera buru-buru keluar dari mobil begitu sampai di parkiran sekolah. Gadis itu sedikit grasak-grusuk membuat Nanggala terheran-heran. Padahal tidak ada adegan yang aneh, tetapi istrinya itu bagikan orang ketakutan. Kali ini Nanggala membiarkan dia keluar duluan.

Hera meringis pelan sambil mengusap kepalanya yang tak sengaja terbentur pintu mobil.

"Hati-hati." tegur Nanggala.

Hera tidak lagi merespon karena tujuannya saat ini adalah mengejar waktu. Hari ini adalah hari kamis yaitu jadwal piket nya di kelas. Kiva akan mengomel jika ia tidak membantu gadis itu.

Langkah kaki Hera melangkah dengan cepat. Selain cepat sampai ia juga harus memburu waktu yang tinggal sedikit. Namun, saat di tengah perjalanan menuju kelas langkah berhenti begitu mendapati sosok laki-laki di depan sana. Hera mengernyit begitu melihat Farez melangkah mendekat.

Bingung, Hera bingung dibuatnya. Ia tahu Farez menyukainya, tapi waktu untuk meladeni laki-laki itu tidak cukup untuk saat ini.

"Halera?" panggil Farez begitu sampai di depan Hera.

Wajah tampan laki-laki itu dengan alis tebal itu mengukir senyum yang sangat manis. Hera kikuk jadinya. Bagaimana nanti Nanggala tiba-tiba datang? Bisa gawat nanti. Nanggala akan marah ataupun lebih parahnya keduanya kembali adu otot. Sungguh, Hera tidak mau dibuat pusing lagi.

"Lo...,"

"Sorry, Rez. Gue lagi buru-buru nih." potong Hera membuat Farez tersenyum.

"Oh, oke." katanya. Terdengar pasrah.

Hera membalas dengan senyuman dan pergi meninggalkan laki-laki tersebut. Selain canggung berhadapan dengan Farez ia juga harus cepat sampai ke kelas.

Sementara itu Farez hanya bisa menghela nafas. Padahal ia ingin berbicara sebentar, tetapi yang ingin diajak bicara malah tidak mau. Farez masih menatap punggung gadis didepannya sana hingga menghilang saat berbelok. Menyisakan kekosongan. Seolah-olah murid-murid yang lalu lalang tak terlihat di matanya.

Termasuk Sangkara yang melihat interaksi keduanya. Namun, Sangkara tidak menghampiri Farez, lelaki itu justru berbelok arah menuju parkiran. Mengambil barang yang ketinggalan di dalam mobil.

Senyuman keturunan Adiwijaya itu melebar saat melihat sang sepupu keluar dari mobil. Langkah kakinya otomatis mendekati Nanggala. Sangkara ingin sekali mengisengi sepupunya itu.

"Wih, pengantin baru udah masuk sekolah aja. Gak ambil cuti bulan madu emang?" ledeknya saat melihat sang sepupu.

Nanggala hanya menoleh sekilas lalu pergi menuju kelas menyusul istrinya yang sudah duluan.

Sangkara mensejajarkan langkahnya, "Gimana malam pertama lo?" tanyanya lagi. Dengan wajah penasaran yang dibuat-buat rupanya itu berhasil membuat Nanggala mendengus.

Nanggala mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol laki-laki tersebut. Namun tak urung ia tetap menjawab, "gagal."

"Gagal? Serius lo di tolak sama Hera apa?"

"Tamu bulanan nya datang."

Sangkara tertawa saat mendengar perkataan Nanggala, sial sekali nasib sepupunya itu. Tawa Sangkara itu berhasil membuat Nanggala jengkel. Tetapi, masih bisa ditahan.

"Terus gak ada adegan isap mengisap." tanya Sangkara lagi. Terdengar suara kekehan setelahnya.

Nanggala menatap tajam sang empu. Moodnya sedang bagus pagi ini, tetapi mendengar perkataan laki-laki itu membuat ia jadi kesal. Jika sudah menyangkut gadisnya Nanggala selalu gagal untuk acuh. Apa lagi yang dibahas Sangkara itu membuat kesal. Sangkara tidak membayangkan istrinya bukan? Langkah kaki Nanggala otomatis terhenti.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang